--> Skip to main content

Apa Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la? Mengapa Rasulullah SAW Sangat Sering Membacanya?


Apa Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la? Mengapa Rasulullah SAW Sangat Sering Membacanya?

Kandungan Surah Al-A'la- Shalat adalah rukun Islam kedua setelah membaca dua kalimat Syahadat. Sahalat adalah tiang agama, barangsiapa yang mendirikan shalat maka dia telah menegakkan agama, dan barang siapa yang meninggalkan shalat maka dia telah meruntuhkan agama.

Shalat merupakan amalan utama yang pertama kali akan di hisab kelak di akhirat. Oleh karena itu, sebagai seorang muslim kita hendaknya senantiasa mengerjakan perintah shalat (dalam segala situasi dan kondisi) dan jangan pernah meninggalkan shalat dengan sengaja, karena itu merupakan sebuah dosa yang teramat besar di hadapan Allah SWT.

Rasulullah SAW telah memerintahkan kita untuk mengerjakan perintah shalat ini, dan Beliau juga menegaskan bahwa shalat fardlu akan lebih utama bila dikerjakan secara berjamaah di Masjid, karena pahala orang yang mengerjakan shalat secara berjamaah adalah 27 derajat. Sementara jika kita mengerjakan shalat fardlu secara sendirian maka hanya akan mendapatkan pahala sebesar 1 derajat.

Dalam Pelaksanakan shalat fardhu secara  berjamaah, seorang imam sangat dianjurkan untuk tidak memanjangkan bacaan surahnya, hal ini sesuai dengan hadits berikut ini :

َنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِلنَّاسِ فَلْيُخَفِّفْ فَإِنَّ مِنْهُمْ الضَّعِيفَ وَالسَّقِيمَ وَالْكَبِيرَ وَإِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ لِنَفْسِهِ فَلْيُطَوِّلْ مَا شَاءَ

Artinya:
Dari Abu Hurairah Radhiyallahu anhu, dia berkata,"Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda "Apabila salah seorang diantara kalian menjadi imam sholat, hendaknya meringkasnya. Sebab diantara makmum ada orang yang lemah, orang sakit dan orang tua. Dan jika sholat sendirian, panjangkanlah sekehendak hati." (HR. Bukhori)

Ketika Rasulullah SAW menjadi Imam shalat fardlu, Beliau sering sekali membaca satu surah dalam Al-Qur'an yakni surah Al-A'la (surah ke 87). 

Apa Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la? Mengapa Rasulullah Sangat Sering Membacanya?

Surat Al-A'la merupakan surah dalam Al-Qur'an, terdiri dari 19 ayat. Surah Al-A'la termasuk dalam  golongan surat-surat Makiyyah (surah yang diturunkan di kota Mekkah), dan diwahyukan kepada Rasulullah SAW sesudah surah At-Takwir.

Nama Al-'Ala berasal dari kata "Al A'laa" yang terdapat pada bagian pertama ayat dari surah ini. Kata Al-A'la bermakna "Yang Paling Tinggi". Surah ini juga dikenal dengan nama Al-'Ala, dan ada pula yang menamainya surah Sabbihisma Rabbikal A'la atau menyebutnya surah Sabbihis atau Sabbihisma.

Imam Muslim meriwayatkan dalam sebuah kitab  yakni Al-Jumu'ah, dan diriwayatkan pula oleh Ash-habus Sunan, dari Nu'man ibnu Basyir bahwa Rasulullah SAW pada shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jum'at membaca surah Al-Ala pada rakaat yang pertama dan surah Al-Ghasiyah pada raka'at yang kedua.

Dalam sebuah riwayat yang lain dikatakan, surah Al-A'la ini merupakan surah yang paling disukai (paling sering dibaca) oleh Rasulullah SAW untuk di baca pada rakaat pertama dari shalat Jum'at, shalat Ied, shalat Witir, dan Beliau kadang juga membacanya pada rakaat pertama shalat Magrib.

Kandungan Surah Al-A'la

Apa Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la? Mengapa Rasulullah SAW Sangat Sering Membacanya?
image via freepik

Isi dan kandungan utama dari surah Al-A’la adalah berisi tentang keterangan asal-usul dan tujuan dari diciptakannya manusia, keterangan adanya syurga dan neraka, serta adanya perintah untuk menyampaikan peringatan kepada manusia. 

Menurut pendapat dari Sayyid Sabiq, surah Al-A'la ini biasanya dibacakan oleh Rasulullah SAW pada pagi hari, dimana pada waktu itu manusia masih dalam kondisi yang sempurna, setelah beristirahat dan pikiran mereka masih jernih karena belum tercemar oleh hal-hal yang bersifat duniawi, sehingga isi dan kandungan surah Al-A'la ini menjadi lebih mudah untuk dicerna dan dihayati
.
1. Surat Al-A'la ini diawali dengan  sebuah perintah dati Allah SWT untuk bertasbih, mensucikan dan meninggikan nama Allah SWT. Kata "Sabbih” yang berarti "Sucikanlah" merupakan sebuah perintah, untuk menyebut nama Allah SWT (bertasbih) sebagai satu-satunya Dzat yang harus ditinggikan dan diagungkan diatas nama-nama atau hal-hal yang lain di dunia ini.

Kemudian Rasulullah SAW juga memerintahkan kepada para sahabatnya untuk menjadikannya sebagai bacaan sujud ketika sedang shalat, seperti sabda dari Beliau, "Jadikanlah ia sebagai bacaan pada sujud kalian." (HR.Abu Daud dan Ibnu Majah). Kemudian Rasulullah SAW juga mencontohkan bacaan sujud tersebut, yakni "Subhana Rabbiyal A’laa."

2. Pada ayat yang ke-2, Allah SWT menyebutkan bahwa Dialah yang menciptakan segala sesuatu dan menyempurnakan ciptaan-Nya. Allah adalah Sang Pencipta alam semesta lengkap beserta dengan isinya.

3. Pada ayat yang ke-3, Allah SWT menyebutkan bahwa ciptaan-Nya itu telah ditentukan kadarnya masing-masing, dan Allah SWT telah memberikan petunjuk. Para mufassirin (Kalangan ahli tafsir) menafsirkan kadar tersebut sebagai batas waktu atau umur ciptaan-Nya. Sementara itu petunjuk yang dimaksudkan adalah Al-Qur’an.

4 Pada ayat yang ke-4 dan ke-5, Allah SWT menyebutkan tentang penciptaan alam yakni siklus hidup rumput, sebagai penjelasan tentang apa yang disebutkan diatas bahwa Allah SWT yang telah menentukan kadar ciptaan-Nya. Hal tersebut bermakna bahwa Allah adalah Dzat yang menciptakan dan memusnahkan ciptaanNya.

5. Pada ayat yang ke-6 dan ke-7, Allah SWT menyebutkan bahwa Al-Qur’an itu dibacakan (oleh Malaikat Jibril) kepada Nabi Muhammad SAW dan Nabi SAW tidak akan lupa atas apa yang telah dibacakan oleh Malaikat Jibril tersebut, kecuali Allah SWT menghendakinya, karena Allah SWT yang mengetahui segala yang terang (jahar) dan apa - apa yang tersembunyi (yakhfa).

Dalam sebuah riwayat di katakan bahwa bilamana Malaikat Jibril datang membawa wahyu dari Allah SWT untuk disampaikan  kepada Nabi Muhammad SAW,  maka Malaikat Jibril akan mengulang kembali wahyu tersebut sebelum Malaikat Jibril meninggalkan Nabi, karena Malikat Jibril takut bilamana Nabi SAW lupa.

Dan dari hal tersebut, maka Allah SWT kemudian menurunkan ayat ini sebagai jaminan bahwa Nabi SAW tidak akan lupa pada wahyu yang telah diturunkan kepadanya. (Hal ini sesuai dengan apa yang diriwayatkan oleh Ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu 'Abbas. Didalam sanadnya terdapat Juwaibir yang lemah daya ingatnya).

6. Pada ada ayat yang  ke-8, Allah SWT menyebutkan bahwa Dia akan memberikan pertolongan ke jalan yang mudah. Jalan yang mudah diartikan oleh para mufassirin sebagai jalan yang akan membawa kebahagiaan di dunia dan akhirat kelak.

7. Pada ayat yang ke-9, Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk memberikan peringatan kepada manusia yang lainnya. 

Tentang isi dari peringatan tersebut,  Allah SWT telah menjelaskannya pada Surah Thahaa ayat ke-99 dan Surah Al-Anbiyaa ayat ke- 24, dimana disebutkan bahwa yang dimaksud sebagai peringatan tersebut adalah Al-Qur`an.

Allah SWT telah berfirman dalam surah Thahaa ayat ke 99 , sebagai berikut: 

كَذَٰلِكَ نَقُصُّ عَلَيْكَ مِنْ أَنْبَاءِ مَا قَدْ سَبَقَ ۚ وَقَدْ آتَيْنَاكَ مِنْ لَدُنَّا ذِكْرًا

Artinya:
Demikianlah kami kisahkan kepadamu (Muhammad) sebagian kisah umat yang telah lalu, dan sesungguhnya telah Kami berikan kepadamu dari sisi Kami suatu peringatan (Al Quran). (QS. Thahaa: 99)

8. Pada ayat yang ke-10, disebutkan bahwasannya "Orang yang takut kepada Allah akan mendapakan pelajaran" dengan adanya peringatan tersebut.

Kemudian pada ayat yang selanjutnya dinyatakan bahwa "Orang yang celaka (kafir) akan menjauhinya." Dan disinilah Allah SWT menjelaskan perbedaan antara orang mu’min dan orang kafir, dalam menerima peringatan. Jadi, jika terdapat orang-orang yang kita seru kepada Al-Qur`an dan kemudian mereka malah menjauhinya bahkan menolaknya, itulah orang-orang yang kafir.

Kemudian ayat selannjutnya menjelaskan tentang kondisi orang - orang yang menjauhi peringatan tersebut, yakni "mereka akan memasuki api yang besar (neraka)" dan "dia tidak akan mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup."

9. Pada ayat yang ke-15, Allah SWT membandingkan orang - orang yang menolak seruan tersebut dengan orang - orang yang mau menerima petunjuk, yang Allah SWT sebut sebagai orang yang beruntung karena mau membersihkan dirinya (beriman). Sesuai dengan ayat ke-15 tersebut, maka ciri orang - orang yang beruntung tersebut adalah  "dan dia ingat nama Tuhannya, lalu dia sembahyang."

Kemudian sebagai penutup dari surah Al-A’la ini, Allah SWT berfirman, "Sesungguhnya ini benar-benar terdapat dalam kitab-kitab yang dahulu. (yaitu) "Kitab-kitab Ibrahim dan Musa." Dan ini berarti bahwa peringatan Allah SWT tersebut sebelumnya juga telah disampaikan kepada umatnya nabi Ibrahim AS dan Nabi Musa AS.

Setelah membaca isi dan kandungan surah Al-A'la di atas, dalam kaitannya dengan bacaan surah yang sering di baca oleh Rasulullah ketika sedang mengerjakan shalat fardlu, maka perlu kiranya kita mengetahui seberapa panjangkah surah yang di baca oleh Nabi ketika sedang mengerjakan shalat.

Apa Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la? Mengapa Rasulullah SAW Sangat Sering Membacanya?
image via freepik

Dan berikut ini adalah surah - surah yang sering dibaca oleh Rasulullah SAW, antara lain:

1. Shalat Dzuhur, Ketika mengerjakan shalat Dzuhur Nabi SAW sering membaca surah Al-A'la (Surah ke 87 dan terdiri dari 19 ayat). Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Jabir bin Samuroh ra.

2. Shalat Ashar, Ketika mengerjakan shalat Ashar Nabi SAW pada dua rekaat pertama membaca surah Al Fatihah dan surah (tidak diketahui surah yang dibaca oleh Nabi setelah surah Al Fatihah). Hal ini sesuai dengan apa yang dikatakan oleh Abu Qotadah ra.

3. Shalat Magrib, seperti dikatakan oleh Jubair bin Muth’im ra bahwasannya beliau mendengarkan bapaknya berkata, "Aku mendengar Rasulullah SAW membaca surah Ath-Thur dalam shalat Magrib." (HR. Bukhori).

4. Shalat Isya, dari Al Barro ra mengungkapkan, "Aku mendengar Nabi SAW membaca surah At-Tiin dalam shalat Isya", dimana saya tidak pernah mendengar suara bacaan seseorang yang lebih bagus dari suara beliau". (HR. Bukhori).

Sahabat Jabir ra mengungkapkan, pada suatu ketika Mu’adz bin Jabal Al-Anshori sedang mengimami para sahabat  shalat Isya. Ketika itu ia membaca surah yang panjang sehingga shalat mereka menjadi lama. Karena hal tersebut, maka kemudian seorang laki-laki memutuskan shalatnya, kemudian dia shalat sendiri.

Setelah selesai shalat hal itu kemudian diberitahukan seseorang kepada Mu’adz. Mendengar cerita tersebut kemudian Muadz berkata, "Ia munafik". Mendengar perkataan Mu’adz tentang orang yang memutuskan untuk shalat sendiri, kemudian dia melaporkan hal tersebut kepada Rasulullah SAW.  Kemudian Raulullah SAW berkata, "Hai Mu’adz, apakah engkau ingin menjadi tukang fitnah?". "Apabila engkau mengimami shalat dengan jamaah yang banyak, bacalah Was syamsi wadhu haa ha atau Sabbihisma robbikal a’laa atau Wal laili idzaa yaghsya".  (HR. Muslim)

5. Shalat Subuh, dari  Abdullah bin Saib ra menceritakan, suatu ketika Rasulullah SAW sedang mengimami kami (para sahabat) shalat Subuh di Mekkah. Ketika itu beliau membaca surah Al-Almukminuun. Sesampainya pada ayat yang menyebutkan Musa dan Harun, atau barangkali menyebukan Isa as, tiba-tiba beliau diserang batuk, lalu beliau ruku' (HR. Muslim).

Sementara Jabir bin Samuroh ra mengemukakan, "Dalam shalat subuh, Nabi SAW biasa membaca surah Qoof, tetapi sesudah itu beliau membaca surah yang pendek saja" (HR. Muslim). 

Shalat Jum’at

Pada suatu hari Jum’at, Abu Hurairah menjadi imam shalat Jum’at. Kemudian da membaca surah Jumu’ah pada rekaat pertama, dan surah Munafiqun pada rekaat kedua. Setelah selesai shalat, Ibnu Abu Rofi’ menemui Abu Hurairah dan menyatakan, "Kedua surah yang engkau baca tadi, pernah dibaca oleh Ali bin Abu Thalib ketika ia di Kuffah." Abu Hurairah lalu menjawab, "Aku pernah mendengar Rasulullah SAW membacanya dalam shalat Jum’at". (HR. Muslim)

Sahabat Ibnu Abbas ra mengungkapkan bahwa, "Nabi SAW dalam shalat Subuh pada hari Jum’at membaca surah Alif lam mim Tansil (Surah As Sajadah) dan Hal ata ‘alal insani (surah Al-Insan), sedangkan dalam shalat Jum’at, Beliau membaca surah Jumu’ah dan surah Munafiqun". (HR. Muslim)

Dari sahabat Nu’man bin Basyir ra menyatakan, "Rasulullah SAW biasa membaca dalam shalat dua hari raya (Idul Fitri dan Idul Adha) dan shalat Jum’at yakni surah Al-A’laa dan surah Al-Ghosyiyah. Bahkan apabila shalat Ied dan shalat Jum’at bertemu dalam satu hari, beliau juga membaca surat tersebut dalam kedua shalat itu". (HR. Muslim)

Demikianlah uraian tentang Isi Dan Kandungan Surah Al-A'la dan Mengapa Rasulullah SAW Sangat Sering Membacanya. Semoga bermanfaat dan semakin menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar