Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Apakah Makna Syahadatain?

Apakah Makna Syahadatain?

Hampir setiap hari kita membaca dua kalimat syahadat, minimal 9 kali dalam setiap shalat wajib. Di luar waktu itu barangkali sering juga dibaca oleh banyak orang, dalam doa maupun dalam perbincangan sehari-hari. Tapi apakah kita sudah benar-benar memahami maknanya?

Syahadat: 'Tiket' Masuk Surga yang Mulai Kehilangan Esensi

Saat ini syahadat nampaknya menjadi kalimat yang sering diucapkan, namun semakin hilang esensinya. Padahal, kalimat syahadat adalah kalimat yang mulia dan agung, sehingga menjadi semacam ‘tiket’ untuk masuk surganya Allah SWT. 

Perhatikan saja ucapan Baginda Rasul SAW berikut ini:

"Barangsiapa yang meninggal sedangkan dia mengetahui makna Laa ilaaha illallaah pasti masuk surga." [HR. Muslim] 

"Saya bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan aku adalah utusan Allah, tiadalah seorang hamba bertemu Allah (meninggal dunia) dengan membawa keduanya tanpa ada keraguan sedikitpun pasti ia akan masuk surga." [HR. Muslim]  

Begitu pun dengan yang disampaikan oleh Ubadah bin ash Shamit Ra. :

"Siapa yang bersaksi bahwa tiada tuhan (yang berhak diibadahi) selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, maka Allah mengharamkan neraka atasnya." [HR. Muslim]

Apa yang disampaikan Rasul SAW di atas menjadi gambaran betapa mulia dan agungnya kalimat syahadat sehingga bisa menjadi modal utama untuk memasuki jannahNya.

Abu Jahal pun Paham Makna Syahadatain

Tapi, apakah semudah itu sehingga cukup hanya membaca asyhaduallaa ilaaha illallah wa asyhaduanna muhammadar rasuulullah otomatis seseorang masuk surga?

Baik, mari kita perhatikan apa yang dipahami Abu Jahal tentang syahadatain tersebut:

Suatu saat, Nabi SAW pernah mengumpulkan para pimpinan Quraisy dari keluarganya, Bani Hasyim. Beliau saat itu berkata kepada mereka:

“Wahai saudara-saudara, maukah kalian aku beri satu kalimat, yang hanya dengan kalimat itu kalian akan dapat menguasai seluruh jazirah Arab?”

Kemudian, Abu Jahal menjawab, “Jangankan satu kalimat, sepuluh kalimat pun akan aku terima.” Lalu Nabi SAW berkata: “Ucapkanlah Laa ilaaha illallah dan muhammadan rasulullah.” Abu Jahal lalu menjawab, “Kalau itu yang kau minta, berarti engkau mengumandangkan peperangan dengan semua orang Arab dan bukan Arab.”

Nah, bukankah dengan pernyataan Abu Jahal tersebut menunjukkan betapa pahamnya dia terhadap makna dua kalimat syahadat yang dimintakan oleh Nabi SAW untuk diikrarkan, sehingga dengan serta merta Abu Jahal menolaknya?

Makna Dua Kalimat Syahadat

Dalam surat at Taubah ayat 31 Allah SWT berfirman:

اتَّخَذُوا أَحْبَارَهُمْ وَرُهْبَانَهُمْ أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ وَالْمَسِيحَ ابْنَ مَرْيَمَ وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا إِلَٰهًا وَاحِدًا ۖ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ ۚ سُبْحَانَهُ عَمَّا يُشْرِكُونَ

Artinya: 

"Mereka menjadikan para pembesar dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah dan (juga mereka mempertuhankan) al Masih putera Maryam, Padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan yang Esa, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha suci Allah dari apa yang mereka persekutukan." [QS. At-Taubah : 31]

Penjelasan ayat di atas bisa kita pahami dari sebuah hadits yang disampaikan oleh Imam at Tirmidzi dari jalan Adi bin Hatim ra. yang berkata :

"Aku pernah datang kepada Nabi SAW, sementara di leherku bergantung salib yang terbuat dari emas. Nabi SAW lalu bersabda, “Wahai Adi, campakkan berhala itu dari tubuhmu!” Lalu aku mendengar Beliau membaca surat al Bara’ah (surat at Taubah ayat 31) : Mereka menjadikan para pembesar dan para rahib mereka sebagi tuhan-tuhan selain Allah.

Nabi SAW kemudian bersabda, “Benar, mereka tidak menyebah para pembesar dan para rahib itu. Akan tetapi, ketika para pembesar dan para rahib itu menghalalkan sesuatu bagi mereka, mereka pun menghalalkannya, dan jika para pembesar dan para rahib itu mengharamkan sesuatu, mereka pun mengharamkannya.” [HR. at Tirmidzi]

Berdasarkan keterangan di atas maka bisa kita pahami bahwa makna dua kalimat syahadat adalah pemurnian ketaatan, ketundukan, dan pengabdian hanya kepada Allah saja dengan cara menghalalkan apa yang dihalalkan Allah dan mengharamkan apa yang diharamkan Allah sebagaimana yang dijelaskan kehalalan dan keharamannya itu oleh Rasul Muhammad SAW.

Pertanyaannya sekarang adalah, sudahkan kita memaknai syahadatain secara utuh seperti itu? Bila jawabannya belum, maka seharusnya kita malu kepada Abu Jahal.

Wallahu’alam bissowab.

Posting Komentar untuk " Apakah Makna Syahadatain?"