Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Menyikapi Aliran Sesat di Indonesia

Menyikapi Aliran Sesat di Indonesia

Berita mengenai kekerasan terhadap suatu kelompok oleh kelompok lain masih kerap muncul, baik di media cetak maupun elektronik. Kekerasan yang dilakukan ini didasari oleh prasangka suatu kelompok kepada kelompok aliran yang dianggap sesat. 

Aliran-aliran yang dianggap sesat ini biasanya merupakan aliran agama atau kepercayaan tertentu. Semakin seringnya terjadi penghakiman massa terhadap aliran yang dianggap sesat, maka aliran sesat di Indonesia menjadi perhatian banyak kalangan.

Aliran sesat merupakan paham atau kepercayaan yang diyakini oleh beberapa orang yang tergabung dalam suatu kelompok atau organisasi. Suatu aliran atau paham dianggap sesat karena konsep kepercayaan yang berbeda dengan dengan konsep Ketuhanan atau kepercayaan yang berlaku dalam suatu negara. 

Kesesatan dipandang sebagai suatu ancaman yang dapat menghancurkan kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Aliran sesat di Indonesia yang terjadi beberapa waktu yang lalu pun dianggap merupakan suatu ancaman yang sangat meresahkan.

Setiap manusia berusaha untuk mencari dan membangun kepercayaan dan keyakinannya terhadap konsep Ketuhanan. Pencarian kebenaran akan Tuhan menjadi pencarian panjang sepanjang sejarah manusia. 

Kehadiran agama dalam peradaban manusia merupakan bagian dari keberhasilan manusia dalam menemukan keyakinan dan kepercayaan terhadap Sang Maha Pencipta alam semesta.

Kepercayaan dan keyakinan terhadap suatu agama merupakan bagian pemikiran terdalam manusia antara manusia dan Tuhannya. Oleh karena itu, perbedaan akan kepercayaan melalui agama merupakan hal yang terjadi karena pertimbangan akal dan hati nurani manusia yang berbeda-beda.

Dalam suatu agama dan kepercayaan, perbedaan aliran sudah lama ada. Hanya saja letak perbedaan aliran-aliran tersebut adalah tata cara menjalankan perintah ibadahnya, sedangkan Ketuhanan dan dasar-dasar agama yang dijalankan tetap sama.

Misalnya saja, dalam agama Islam ada golongan Muhammadiyah dan Nahdhatul Ulama. Dasar agama Islam kedua golongan ini tentu sama hanya saja dalam hal menjalankan ibadah pada beberapa hal mengalami perbedaan. 

Kedua golongan atau aliran ini tentu tidak dipandang sesat karena dasar ajaran agama yang dijalankan tidak keluar dari ajaran murni agamanya, seperti kalimat syahadat yang diucapkan, rakaat salat, jumlah nabi dan rosul, serta rukun iman dan Islam.

Salah satu aliran yang dipandang sesat dalam agama Islam adalah Ahmadiyah. Aliran ini mendapat ancaman keras dari masyarakat apabila terus dibiarkan ada di Indonesia. Tindakan kekerasan sudah beberapa kali ditujukan terhadap aliran ini, seperti perusakan tempat ibadahnya maupun penyerangan kepada pemeluk-pemeluknya.

Untuk menghentikan kekerasan tersebut pemerintah melalui Surat Keputusan Bersama (SKB) tiga menteri (menteri agama, dalam negeri, dan jaksa agung) mengeluarkan ketentuan-ketentuan bagi Ahmadiyah dan juga warga masyarakat. 

Ketentuan tersebut berisi aturan-aturan yang mengatur aktivitas Ahmadiyah untuk dihentikan, dan bagi masyarakat untuk menghentikan kekerasan terhadap Ahmadiyah serta menjunjung toleransi umat beragama. Bagi pemeluk Ahmadiyah dan anggota masyarakat yang melanggar SKB tiga menteri ini akan mendapat tindakan hukum tegas.

Aliran Sesat di Indonesia - Beberapa Aliran Sesat

Kemajemukan di Indonesia tidak hanya mengenai suku dan bahasa, tetapi juga agama dan kepercayaan. Beragamnya suku bangsa di Indonesia sejak lama telah melahirkan beragam agama dan kepercayaan. Kemajemukan agama dan kepercayaan ini kemudian menyebabkan munculnya aliran sesat di Indonesia. 

Oleh karena itu, melalui Pancasila dalam sila pertama Indonesia memiliki dasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Artinya, negara ini dijalankan dengan dasar ketuhanan Yang Maha Esa bukan oleh satu agama tertentu.

Meskipun demikian, Indonesia memiliki lima agama resmi yang dianut oleh masyarakatnya. Walaupun telah ditentukan agama resmi yang berlaku di Indonesia, aktivitas manusia dalam mencari konsep ketuhanan masih terus berlangsung sehingga hadir aliran sesat di Indonesia. 

Keberadaan aliran sesat di Indonesia cukup banyak dan selalu bermunculan. Meski demikian, masyarakat dan pemerintah kerap melakukan pengawasan terhadap kemunculan aliran sesat di Indonesia. 

Berikut adalah beberapa aliran sesat di Indonesia, yaitu:

1. Salamullah

lia-eden

Aliran ini dipimpin oleh Lia Aminudin (Lia Eden). Aliran ini menyatakan bahwa Lia merupakan reinkarnasi dari Siti Maryam dan anaknya adalah reinkarnasi dari Nabi Isa. Imam besar yang dipercaya aliran ini mengaku titisan Nabi Muhammad Saw. bernama Abdul Rahman seorang mahasiswa dari suatu universitas di Jakarta. 

Tidak hanya itu, Lia Eden mengaku sebagai Imam Mahdi melalui wahyu yang diterimanya melalui mimpi. Lia juga menyatukan seluruh agama ke dalam alirannya ini dan menjanjikan eden atau surga. Aliran ini ditetapkan sebagai aliran sesat di Indonesia pada 22 Desember 1997.

2. Ahmadiyah

aliran-ahmadiyah

Aliran ini dipimpin oleh Mirza Ghulam Ahmad yang berasal dari India. Ahmadiyah mulai mengajarkan alirannya pada tahun 1935. Aliran ini mengajarkan bahwa ada nabi terakhir selain Nabi Muhammad Saw, yaitu pimpinan mereka Mirza Ghulam Ahmad yang telah meninggal pada tahun 1906. 

Aliran ini juga memiliki kitab Tadzkirah seperti Al-Quran. Aliran ini ditetapkan sebagai aliran sesat dan mendapat banyak tindak kekerasan dari masyarakat yang mengkhawatirkan penyebarannya sejak tahun 2003.

3. Al-Haq

Aliran ini mengajarkan sebuah sistem penghapusan dosa dan penjaminan masuk surga dengan menggunakan uang. Sistem yang digunakan untuk menyebarkan aliran ini adalah multilevel marketing yang dikembangkan melalui pengajian. 

Setiap anggota pengajian diwajibkan untuk memberikan uang sebesar Rp. 300.000 kepada pimpinannya yang disebut Dewi sebagai uang penebusan dosa dan jaminan masuk surga.

4. Al-Qiyadah Al-Islamiyah

ahmad-mosaddeq
credit:antara photo/rosa panggabean

Aliran ini mengajarkan bahwa perintah sholat lima waktu belum diturunkan sehingga pengikutnya tidak perlu melakukan solat, puasa, dan berhaji. Aliran ini jg percaya bahwa nabi terakhir bukanlah Nabi Muhammad Saw. Ahmad Mosaddeq selaku pimpinannya mengangkat dirinya sebagai rosul dan diakui oleh para pengikutnya. Aliran ini berdiri sejak tahun 2000.

Melihat beberapa aliran sesat di Indonesia yang telah disebutkan, terdapat satu kesamaan yang melanggar ajaran dasar suatu agama, yaitu kemunculan rasul atau nabi yang dipandang sebagai titisan maupun nabi setelah Nabi Muhammad Saw. Padahal di dalam Al-Quran telah disebutkan bahwa Nabi Muhammad adalah nabi terakhir.

Aliran Sesat di Indonesia - Pengawasan Aliran Sesat

Aliran-aliran sesat di Indonesia membutuhkan pengawasan masyarakat dalam aktivitasnya. Hal ini dilakukan agar tidak lagi bermunculan aliran-aliran sesat yang meresahkan keyakinan dan kepercayaan agama dalam masyarakat. 

Pengawasan yang dilakukan masyarakat bukan berupa kekerasan atau penghancuran tempat ibadah dan tindakan anarkis lainnya. Pengawasan yang dilakukan masyarakat adalah perhatian terhadap aktivitas suatu kelompok atau aliran serta penanaman keyakinan ketuhanan yang kokoh melalui tokoh-tokoh agama.

Sebagai bagian dari masyarakat, maka sikap yang dapat dikembangkan dalam menyikapi munculnya aliran sesat di Indonesia adalah dengan mengingatkan keluarga atau teman-teman untuk menguatkan keyakinan diri terhadap agama yang dianut. 

Jangan mudah terpengaruh terhadap iming-iming surga dengan cara yang mudah dan tidak sesuai dengan konsep Ketuhanan. Keimanan yang kuat dibutuhkan untuk menghalau munculnya aliran-aliran yang menyesatkan.

Sikap pemerintah juga penting dalam hal ini agar masyarakat tidak main hakim sendiri pemerintah perlu menguatkan tatanan hukum untuk menyikapi keberadaan aliran sesat di Indonesia. Dengan demikian, masyarakat merasa aman dan terlindungi dari kesesatan yang mungkin disebarkan.

Selain itu, pemerintah perlu menanamkan nilai-nilai toleransi yang cerdas. Artinya, toleransi bukan berarti membenarkan semua aliran yang cenderung sesat, tetapi juga tidak skeptis memandang suatu ajaran tertentu sehingga dengan mudahnya dianggap sesat. 

Membutuhkan para ahli teologi untuk mengetahui nilai-nilai dasar agama untuk melihat apakah suatu aliran sesat atau tidak, bukan hanya pertimbangan isu dan berita-berita yang belum terbukti.

Dalam menyikapi kemunculan aliran sesat ini, masyarakat juga harus waspada terhadap kemungkinan provokasi suatu kelompok untuk menimbulkan kerusuhan. Hal ini perlu diwaspadai karena isu agama merupakan hal yang sangat sensitif apalagi di negara yang memiliki kemajemukan beragama seperti Indonesia.

Kepercayaan dan keyakinan terhadap suatu agama merupakan bagian dari hak asasi manusia. Namun, ketika suatu aliran agama yang dianggap sesat mengganggu ketertiban dan meresahkan masyarakat, maka masyarakat dan pemerintah perlu menyikapinya dengan tegas dan bijaksana. 

Dengan demikian, pengikut aliran sesat di Indonesia dapat disadarkan untuk kembali kepada agama dasar yang diyakininya, bukan terhadap aliran yang menyesatkan.

Posting Komentar untuk " Menyikapi Aliran Sesat di Indonesia"