Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan

Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan

Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan - Pada umumnya, setiap orang memiliki kecenderungan untuk melihat sesuatu terlebih dahulu baru kemudian mempercayainya. Dalam ungkapan bahasa inggris di nyatakan "Seeing is Beleiving", yang artinya melihat dahulu baru percaya.

Pertanyaannya kemudian, bagaimana hal tersebut di kaitkan dengan keimanan seseorang? Salah satu dasar keimanan seseorang menurut agama Islam adalah percaya kepada hal yang ghaib (tidak kasat mata / tidak terlihat). 

Kata ghaib adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab, yaitu dari kata ghoba (tidak tampak, tidak hadir). Kata tersebut merupakan kebalikan dari kata "hadhara" atau "dhahara" (yang artinya hadir atau nampak), dan bukan kebalikan dari kata "adam" yang artinya tidak ada.

Menurut pendapat dari Syekh al-Thahir bin 'Asyur mendefinisikan kata ghaib yaitu "ma la yudriku al-hiss", yang artinya sesuatu yang tidak dapat diakses atau ditangkap oleh pancaindera. Tidak bisa dilihat, diraba atau dipegang, dirasakan, dicium, dan didengar, namun eksistensinya ada.

Sementara menurut Imam Fakhruddin al-Razi mengatakan bahwa ghaib adalah "ma ghaba ‘an al-hissiy" (sesuatu yang tersembunyi dari indera). Lawan katanya adalah "al-syahid", yakni "ma hadhara" (sesuatu yang hadir).

Firman Allah SWT dalam surah Al-Baqarah ayat ke 3:

الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيمُونَ الصَّلَاةَ وَمِمَّا رَزَقْنَاهُمْ يُنْفِقُونَ

Artinya:

"(yaitu) mereka yang beriman kepada yang ghaib, yang mendirikan shalat, dan menafkahkan sebahagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka." [QS. Al-Baqarah:3]

Dengan demikian, bagi orang yang beriman dia tidak perlu melihat sesuatu terlebih dahulu untuk mempercayainya. 

Bilamana terhadap hal yang gaib saja dia percaya, apalagi untuk yang sifatnya bisa dilihat dengan mata, bisa dibuktikan secara ilmiah, bisa dilihat dari bukti-bukti sejarah dan sebagainya, maka dia juga kan percaya. 

Istilah ghaib dalam konteks keimanan harus dilihat dengan kaca mata agama. Beberapa contoh perkara yang ghaib, antara lain: 
  • Adanya Neraka
  • Adanya Syurga
  • Adanya Kematian
  • Adanya Nasib (Takdir)
  • Adanya Alam Barzah
  • Adanya Hari Kiamat
  • Adanya Malaikat, Jin dan makhluk lainnya 
BAGAIMANA KITA BERIMAN KEPADA ALLAH?

Kita bisa percaya dengan keberadaan Allah SWT melalui tanda-tanda atau ayat-ayat-Nya baik yang tersirat maupun yang tersurat. Kita bisa melihat dari setiap benda dan setiap peristiwa yang kita temui, karena ini juga merupakan bagian ayat - ayat Allah SWT.

Allah SWT telah berfirman dalam surah 

سَنُرِيهِمْ آيَاتِنَا فِي الْآفَاقِ وَفِي أَنْفُسِهِمْ حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَهُمْ أَنَّهُ الْحَقُّ ۗ أَوَلَمْ يَكْفِ بِرَبِّكَ أَنَّهُ عَلَىٰ كُلِّ شَيْءٍ شَهِيدٌ

Artinya:
"Kami akan memperlihatkan kepada mereka tanda-tanda (kekuasaan) Kami di segala wilayah bumi dan pada diri mereka sendiri, hingga jelas bagi mereka bahwa Al Quran itu adalah benar. Tiadakah cukup bahwa sesungguhnya Tuhanmu menjadi saksi atas segala sesuatu?" [QS. Fussilat:53]

Kita juga bisa percaya dengan keberadaan Allah SWT melalui rizki yang kita terima setiap hari. Kesehatan dan makanan adalah bagian dari rizki yang kita terima dari Allah SWT yang merupakan bukti dan tanda - tanda keberadaan Allah SWT.

Rizki yang kita terima terkadang datang dari sumber yang tidak kita sangka - sangka dan itu semua menunjukkan kebesaran Allah SWT. Allah SWT adalah dzat yang Maha Kuasa dan jika berkehendak maka cukup berkata, " Jadilah, maka terjadilah sesuatu itu".

Firman Allah dalam surah Yasin ayat ke 82:

إِنَّمَا أَمْرُهُ إِذَا أَرَادَ شَيْئًا أَنْ يَقُولَ لَهُ كُنْ فَيَكُو

Artinya:
"Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: "Jadilah!" maka terjadilah sesuatu itu." [QS. Yasin:82]

Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan

GHAIB DALAM AJARAN ISLAM

Terdapat dua jenis ghaib menurut agama Islam yaitu:
  • Ghaib dalam arti ilmiah
  • Ghaib dalam konteks keimanan
1. Ghoib Dalam Arti Ilmiah 

Ghaib dalam arti ilmiah adalah ghaib yang sifatnya sementara, yaitu sesuatu yang keberadaanya tidak bisa ditembus oleh indra penglihatan manusia biasa. Walaupun sesuatu itu ada di alam nyata dan bukan di alam ghaib, misalnya apa yang ada di lautan, di perut bumi, adanya kuman yang menempel ditubuh kita, bayi yang ada dalam kandungan dan sebagainya. 

Sesuatu dikatakan ghaib karena di sebabkan oleh faktor tempatnya yang jauh, adanya penghalang/hijab atau hal lain yang menyebabkan kita tak dapat menjangkaunya dan melihatnya dengan indra penglihatan kita, namun bisa ditemukan kehadirannya dengan usaha kita. Dan sesutu itu tidak lagi disebut dengan istilah ghaib lagi jika sesuatu itu dapat dilihat.

2. Ghaib Dalam Konteks Keimanan

Dalam kaitannya dengan konteks keimanan, ghaib adalah sesuatu yang tidak bisa ditangkap dan tidak bisa ditemukan kehadirannya oleh panca indra manusia secara normal, namun semuanya ini diyakini adanya melalui "al-khabar as-sadiq" (pemberitaan valid) dari Allah SWT. 

Dengan demikian maka makna dari percaya kepada sesuatu yang ghaib, yakni mengimani adanya sesuatu "yang maujud" yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra manusia biasa, tetapi ada dalil dan bukti valid dari Al Qur'an yang menunjukkan bahwa sesuatu itu ada. 

Diantara sesuatu yang ghaib itu adalah Malaikat-Malaikat Allah, Hari akhirat, Keberadaan Syurga dan Neraka  dan sebagainya. Dan sesuatu itu masih tetap akan disebut sebagai ghaib sekalipun kadang dapat dilihat oleh manusia yang dikehendaki oleh Allah SWT untuk melihatnya.

TUJUAN BERIMAN KEPADA SESUATU YANG GHAIB

Berikut ini adalah beberapa tujuan beriman kepada sesuatu yang ghaib, antara lain:
  • Menjadikan kita Ikhlas dalam beramal karena Allah SWT semata, dan bukan karena ingin di puji oleh manusia.
  • Menjaga ketenangan dan ketentraman dalam hidup manusia.
  • Menjaga manusia dari sifat sombong dan mendahului kekuasaan Allah SWT, seperti takdir hidup manusia dan sebagainya.
  • Mengingatkan kita bahwa dunia beserta segala isinya ini tidak kekal (abadi)
  • Menjaga diri kita dan selalu bersikap hati-hati dalam bertindak, karena takut dengan siksa Allah SWT.
KESIMPULAN

Ghaib adalah sesuatu yang tidak dapat dilihat, namun dapat dirasa, didengar, diketahui dan diyakini keberadaanya, meskipun tidak selalu demikian. 

Beberapa contoh sesuatu yang ghaib misalnya Adanya Allah SWT, Malaikat, Jin, Syaitan, Syurga, Neraka dan sebagainya. 

Istilah ghaib dalam sudut pandang syariat berbeda dengan istilah ghaib dalam istilah ilmiah dan budaya sehari-hari. Ghaib dalam istilah syariat adalah sesuatu yang sudah pasti keberadaannya, sedangkan dalam istilah ilmiah dan budaya adalah sesuatu yang kadang diyakini masih ada atau sudah tidak ada. Maka, ketika ada sesuatu yang hilang sering disebut sebagai hal ghaib.

Rasulullah SAW tidak dapat mengetahui hal yang ghaib, kecuali hal yang diwahyukan saja kepadanya. Dan hanya Allah SWT saja yang mengetahui hal - hal yang ghaib.

Firman Allah dalam surah Al-An'am ayat 50:

قُلْ لَا أَقُولُ لَكُمْ عِنْدِي خَزَائِنُ اللَّهِ وَلَا أَعْلَمُ الْغَيْبَ وَلَا أَقُولُ لَكُمْ إِنِّي مَلَكٌ ۖ إِنْ أَتَّبِعُ إِلَّا مَا يُوحَىٰ إِلَيَّ ۚ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الْأَعْمَىٰ وَالْبَصِيرُ ۚ أَفَلَا تَتَفَكَّرُونَ

Artinya:
"Katakanlah: "Aku tidak mengatakan kepadamu, bahwa perbendaharaan Allah ada padaku, dan tidak pula aku mengetahui yang ghaib dan tidak pula aku mengatakan kepadamu bahwa aku seorang malaikat. Aku tidak mengetahui kecuali apa yang diwahyukan kepadaku. "Katakanlah: "Apakah sama orang yang buta dengan orang yang melihat?" Maka apakah kamu tidak memikirkannya?" [QS. Al-An’am: 50]

Dari Aisyah radhiyallahu ‘anha, berkata : "Barangsiapa menyangka bahwa Muhammad memberitakan apa yang akan terjadi esok hari, maka sungguh dia telah membuat kebohongan yang paling besar atas nama Allah." [HR. Muslim]

Menurut pendapat dari Imam Abul Hasan An nadawy, mengatakan : "Barang siapa yang mengaku bahwa dia bisa melihat sendiri dan kapan saja tentang alam ghaib, maka dia termasuk orang pendusta yang berdosa besar."

Sedangkan Imam asy-Syafi’i mengatakan, "Barangsiapa yang mengaku bisa melihat jin maka syhadat(persaksiannya) tidak dapat diterima kecuali dia seorang Nabi." [Fathul Baari, 4/489]

Demikianlah ulasan artikel tentang Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan. Semoga artikel ini bermanfaat dan berguna untuk Anda.

referensi: https://geraidinar.com, http://ponpes-alburuj.com

Post a Comment for "Percaya Pada Apa Yang Tidak Terlihat (Gaib) Adalah Dasar Keimanan"