Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pandangan Islam Tentang Sihir dan Cara Mengatasinya

 

Pandangan Islam Tentang Sihir dan Cara Mengatasinya
credit:[email protected]_roleplay

Pandangan Islam Tentang Sihir 

Kata sihir merujuk pada perbuatan atau kemampuan di luar logika manusia pada umumnya. Padahal, definisi sihir menurut Islam tidak sesederhana itu. Sihir sangat halus, bahkan tidak jarang pelaku sihir tampak seolah-olah sebagai seorang ahli ibadah yang khusyuk.

Karena kurangnya pengetahuan tentang sihir, banyak manusia tanpa sadar terjerumus ke dalamnya. Padahal, sihir adalah perbuatan yang sangat berat konsekuensinya, salah satunya adalah jatuh ke dalam perbuatan syirik dan terlepasnya keislaman seseorang.

Sihir bisa berbentuk ikatan (buhul), jampi dan mantra, perkataan yang dilontarkan secara lisan maupun tulisan, untuk mempengaruhi hati dan tubuh seseorang. Dengan sihir itu, syetan membuat manusia sakit, memisahkan pasangan suami istri, atau menanamkan kebencian dan permusuhan, atau bahkan syahwatnya.

Definisi Sihir

Secara etimologis, kata sihir berasal dari kata sahara, sihru, yang berarti 'samar-samar', atau 'menampilkan sesuatu yang tidak nyata'. Sihir juga bermakna mengelabui atau membuat tipuan mata.

Beberapa pendapat ulama mengenai sihir adalah sebagai berikut:

  • Perbuatan yang dapat mendekatkan manusia kepada syaitan dan bantuannya (Al-Laits).
  • Memalingkan sesuatu dari hakikat sebenarnya kepada yang lainnya (Al-Azhari).
  • Memperlihatkan kebathilan seakan-akan kebenaran dan menggambarkan sesuatu tidak seperti hakikat yang sebenarnya (Ibnu Manzur).
  • Segala sesuatu yang sebabnya tidak terlihat dan digambarkan tidak seperti hakikat yang sebenarnya serta berlangsung melalui tipu daya (Fakhruddin ar-Razi). 

Syetan di Balik Sihir

Tidak bisa disangkal lagi, bahwa sihir memiliki hubungan yang sangat kuat dengan jin maupun syetan. Allah berfirman dalam Q.S. Al-Jinn ayat ke 6 sebagai berikut:

وَأَنَّهُ كَانَ رِجَالٌ مِنَ الْإِنْسِ يَعُوذُونَ بِرِجَالٍ مِنَ الْجِنِّ فَزَادُوهُمْ رَهَقًا

Artinya:

“Dan ada beberapa orang laki-laki di antara manusia meminta perlindungan kepada beberapa laki-laki di antara jin, maka jin-jin itu menambah bagi mereka dosa dan kesalahan.” [QS.Aj-Jinn : 6]

Dalam prosesnya, telah terjadi kesepakatan antara manusia dengan syetan. Manusia tersebut diminta melakukan perbuatan haram dan syetan akan memberikan bantuan sebagai imbalannya. Dalam hal ini, dukun dan tukang sihir berperan sebagai “penyalur” atau perantara komunikasi diantara keduanya.

Perlu digarisbawahi disini bahwa perbuatan haram yang disyaratkan syetan kadang-kadang terlihat sebagai perbuatan baik dan terpuji. Misalnya, bersedekah tetapi dengan syarat dan ketentuan yang tidak diajarkan sunah, melakukan shalat dan wirid tertentu yang tidak ada tuntunannya dari Rasulullah SAW, dan sebagainya.

Syetan sangat kreatif menyamarkan perbuatan haram itu dan terus memperbaharuinya sepanjang waktu. Di masa lalu, perbuatan haram itu misalnya perintah (lewat dukun/tukang sihir) agar melakukan perbuatan sebagai berikut:

  • Menempelkan mushhaf di kakinya
  • Menulis ayat Al Qur’an dengan kotoran atau darah haidh
  • Menulis surat al-Fatihah terbalik
  • Mengerjakan sholat tanpa berwudhu
  • Menyembelih binatang tertentu tanpa basmallah
  • Menyebut nama seorang alim yang sudah meninggal untuk meminta pertolongan, dan sebagainya.

Ibnu Taimiyah dalam Majmu Fatawa menjelaskan, “Orang-orang sesat lagi bid’ah adalah wali syetan. Mereka adalah para syeikh yang konon mencapai makrifat, seakan-akan zuhud dan taat kepada Allah, namun sebenarnya menyimpang dari ajaran agama.

Mereka memiliki kelebihan dan keajaiban, seperti dapat mengabarkan berita gaib, dan lain-lain. Mereka berkunjung ke tempat-tempat syaitan untuk bertanya sesuatu seperti dilakukan tukang sihir. 

Kadang-kadang syetan menampakkan diri kepada mereka dalam wujud seseorang (yang sudah meninggal atau masih hidup), lalu mereka menyangka diri orang itu sesungguhnya.”

Karamah dan Sihir

Dengan kelicikan dan keculasan syetan, maka sihir yang tampak ‘samar-samar’ itu telah menyamarkan hakikat sehingga terlihat seperti karamah, kesesatan dianggap ketaatan, penyimpangan dianggap keharusan, dan keanehan seakan-akan keistimewaan.

Pertentangan antara mukjizat (karamah) dan sihir telah terjadi pada Nabi Musa a.s. saat berhadapan dengan tukang sihir Fir’aun. 

Tukang sihir Firaun melemparkan tali-temali yang kemudian secara ajaib berubah menjadi ular, sedangkan Musa diperintahkan oleh Allah SWT untuk memukulkan tongkatnya sehingga kemudian berubah menjadi ular besar yang memakan ular-ular kecil milik tukang sihir tersebut.

Ada perbedaan hakikat pada kedua ular itu, dimana ular tukang sihir Firaun hanyalah tipuan mata atau ilusi, sedangkan ular Nabi Musa a.s. adalah hakikat. 

Perbedaan ini diketahui tukang sihir sehingga mereka pun beriman, hal yang tidak terjadi pada Fir’aun karena dia tidak bisa membedakan mana yang hakikat dan mana yang sihir belaka.

Kita perlu memahami hal tersebut agar tidak mudah terperdaya kelicikan syetan yang menampilkan sihir seakan-akan karamah dan keistimewaan.

Perlu dipahami bahwa karamah tidak bisa dipelajari, sedangkan sihir bisa dipelajari.

Karamah dianugerahkan kepada orang-orang yang mendekatkan diri kepada Allah SWR, sedangkan sihir diberikan oleh syetan asalkan manusia mau memenuhi syarat yang ditentukan.

Karamah tidak dapat dialihkan (ditransfer), sedangkan sebaliknya sihir bisa dialihkan. Ini yang terjadi pada transfer energi. Hal tersebut termasuk sihir yang nyata. 

Sihir bisa dialihkan sepanjang orang itu mau menuruti syarat yang ditentukan syetan, melakukan amalan yang menyimpang, walaupun terlihat seakan-akan kebaikan.

Karamah tidak dapat diwariskan

Sebuah karamah tidak dapat didemonstrasikan sedangkan sihir bisa. Mengapa? Sebab, karamah tidak dapat diprediksi kedatangannya.

Karamah datang sebagai pertolongan, sedangkan sihir datang untuk menjerumuskan namun seakan-akan mengulurkan bantuan.

Karamah terjadi tidak berulang-ulang sedangkan sihir dapat diulang.

Cara Mengatasi Sihir

Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengatasi sihir selain dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT, banyak menyebut asma-Nya, dan membaca aya-ayat-Nya.

Ruqyah dan doa yang diajarkan oleh Rasulullah SAW, berupa dzikir-dzikir di pagi dan sore hari, adalah cara yang efektif untuk menjauhkan sihir dan syetan dari diri kita.

Demikianlah uraian artikel mengenai  Pandangan Islam Tentang Sihir dan Cara Mengatasinya. Semoga uraian singkat ini dapat meningkatkan ketaqwaan kita kepada Allah SWT dan terjaga dari perbuatan sihir yang nyata.

Post a Comment for " Pandangan Islam Tentang Sihir dan Cara Mengatasinya"