Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Penulisan dan Kodifikasi Hadits

Sejarah Penulisan dan Kodifikasi Hadits
credit:[email protected]_bukuku_

Hadits merupakan sesuatu yang sangat penting dalam agama Islam karena hadits pada hakikatnya adalah petunjuk untuk memahami isi kandungan Al-Quran. Hadits merupakan sumber hukum utama umat Islam setelah Al-Qur'an.

Di masa lalu, hadits hanya dihafalkan oleh para sahabat dan para para tabi'in. Sejarah kodifikasi hadits atau pembukuan hadits baru dilakukan secara resmi pada masa khalifah Umar bin Abdul Aziz, pada tahun 99-101 Hijriah.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz merasa resah dengan tradisi menghafal hadits tersebut. Ada kekhawatiran bahwasannya hadits-hadits tersebut akan hilang dari ingatan, terlewat diajarkan kepada generasi sesudahnya, atau tercampur antara hadits yang sahih dan yang palsu. 

Maka kemudian, Khalifah Umar bin Abdul Aziz memandang bahwa kebutuhan mengkodifikasikan hadits sudah sangat mendesak.

Khalifah Umar bin Abdul Aziz kemudian memerintahkan kepada setiap penghafal hadits di wilayah kekuasaannya untuk menuliskan hadits yang di hafalnya. 

“Perhatikan apa yang ada pada hadits Rasulullah SAW dan tulislah karena aku khawatir akan terhapusnya ilmu sejalan dengan hilangnya ulama, dan janganlah engkau terima selain hadits Nabi SAW” demikian perintah Umar kepada Abu Bakar bin Muhammad bin Hazm.

Pada masa sekarang, kodifikasi lebih ditekankan pada proses pengumpulannya. Jadi, belum ada sistematika yang apik dan belum terklasifikasi mana yang sahih dan mana yang tidak. Klasifikasi dan sistematika itu baru dilakukan pada masa sesudahnya.

Tradisi Pemeliharaan Hadits

Yang menjadi pertanyaan kemudian adalah, dari mana hadits-hadits itu dikumpulkan? Untuk menjawab pertanyaan itu, perlu kita cermati bagaimana hadits-hadits dipelihara sehingga bisa dikodifikasikan seperti sekarang.

Pada awalnya, hadits itu terpelihara dalam hafalan para sahabat dan tidak dituliskan. Hal ini karena adanya perintah dari Rasulullah SAW, “Janganlah kamu menulis apa saja dariku selain Al-Quran. Siapa yang telah menulis dariku selain Al-Quran, hendaklah dihapus.”

Perintah inilah yang menyebabkan dalam satu abad pertama tahun hijriah, tidak ada kodifikasi. Ini tak lain karena kehati-hatian para sahabat atas larangan Rasulullah SAW tersebut. Mungkin, yang dilarang Rasulullah di sini adalah menuliskan hadits yang disandingkan dan dicampur-adukan dengan Al-Quran.

Hadits dipelihara dalam hafalan para sahabat dan diajarkan kepada generasi sesudahnya. Kita tahu, kegiatan menghafal adalah budaya bangsa Arab yang diwarisi sejak zaman pra-Islam. Kalaupun ada sahabat yang menuliskan hadits maka itu sifatnya untuk konsumsi pribadi semata.

Ketelitian Para Sahabat

Pada masa sepeninggal Rasulullah SAW, para sahabat kemudian mengajarkan hadits-hadits yang mereka hafal kepada generasi sesudahnya. Dalam proses pengajaran ini, terdapat ketelitian dan kehati-hatian yang sangat tinggi, karena mereka menyadari pentingnya kedudukan hadits sebagai sumber hukum sesudah Al-Quran.

Kehati-hatian ini melarang seseorang meriwayatkan hadits hanya dengan maknanya, tetapi harus benar-benar sama redaksinya dengan apa yang diucapkan Rasulullah SAW. Bahkan, mereka tidak membolehkan untuk mengganti satu huruf pun.

Para sahabat menjaga hafalan hadits dari kekeliruan sebagaimana mereka menjaga Al-Quran. Abu Bakar Ash-Shidiq misalnya, selalu meminta mendatangkan saksi apabila ada seseorang menyampaikan hadits kepadanya. 

Demikian pula yang dilakukan oleh Khalifah Umar bin Khathab. Bahkan, Ali bin Abi Thalib selain meminta saksi, juga meminta seseorang untuk bersumpah.

Penulisan Hadits

Seperti disinggung di awal artikel ini, bahwa penulisan hadits telah ada sejak masa Nabi SAW, namun bersifat perorangan dan tujuannya untuk konsumsi sendiri. 

Misalnya, Abdullah bin Amr bin Al-Ash, Jabir bin Abdillah bin Amr Al-Anshari, Anas bin Malik, Abu Hurairah Ad-Dausi, dan sebagainya. Tercatat ada 52 orang sahabat yang memiliki catatan hadits. Catatan inilah yang menjadi rintisan awal kodifikasi hadits.

Al-Sahifah al-Sahihah, karya Hammam bin Munabbih (40-101 H) adalah catatan hadits generasi pertama yang berisi kompilasi hadits dari catatan Abu Hurairah (wafat 59 H). 

Berdasarkan penelitian yang cermat oleh Umar bin Abdul Aziz, Hammam dipastikan bertemu langsung dengan Abu Hurairah.

Metode Referensi

Dalam proses kodifikasi, para ulama mengembangkan sistem referensi terpercaya yang tidak kalah bagusnya jika dibandingkan metode penelitian modern saat ini.

 Ada empat metode yang dikenal dalam kodifikasi hadits, yaitu:

  • Mengutip kata per kata secara langsung, dan ditulis di antara dua tanda kutip.
  • Mengutip kata per kata dan menambahkan sisi yang dianggap perlu di antara dua kurung.
  • Kutipan langsung dengan membuang bagian yang tidak relevan dengan memberi tanda tiga titik.
  • Kutipan tidak langsung, yakni mengambil intisari atau kandungan maknanya saja.

Keempat metode kutipan tersebut dapat kita cermati dalam kitab-kitab hadits.

Metode ini yang kemudian dikembangkan oleh kodifikator hadits pertama, Ibnu Shihab al-Zuhri. Beliau kemudian mengkompilasikan hadits-hadits tersebut dalam satu buku, kemudian menggandakan dan mengirimkannya ke berbagai wilayah untuk mendapatkan respons dan legalisasi.

Kitab-Kitab Hadits

Sebagaimana dibahas diatas, kodifikasi hadits pertama kali menekankan pada aspek pengumpulannya. Barulah pada generasi berikutnya mulai dilakukan penelitian terhadap derajat hadits, klasifikasi dan pengelompokan sesuai derajat hadits, maupun penyusunan yang lebih sistematis berdasarkan bab-bab.

Kodifikasi hadits mencapai puncak keemasan pada abad ke-3 Hijriah. Pada masa itu, muncul beragam kitab dengan macam-macam metode penyusunan. 

Sebagai contoh misalnya, Kitab Jami’, Sahih, Musnad, Sunan, Mustadrak, Mustakhraj, Mustadrak, dan sebagainya. Kitab-kitab itulah yang kemudian menjadi rujukan umat hingga masa sekarang ini.

Itulah artikel tentang Sejarah Penulisan dan Kodifikasi Hadits. Semoga bermanfaat dan dapat menambah wawasan Anda.

Post a Comment for "Sejarah Penulisan dan Kodifikasi Hadits"