Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Sejarah Masjid Syuhada Kotabaru, Gondokusuman Yogyakarta

Sejarah Masjid Syuhada Kotabaru, Gondokusuman Yogyakarta

Masjid Syuhada yang terletak di Jalan I Dewa Nyoman Oka, Kotabaru, Gondokusuman, Yogyakarta, merupakan salah satu masjid tua di Yogyakarta. 

Masjid ini sama dengan masjid-masjid lainnya yakni merupakan bangunan yang digunakan sebagai tempat sujud, mendirikan shalat, memupuk keimanan, mengaji, dan segala kegiatan yang berhubungan dengan agama Islam.

Sekalipun demikian, Masjid Syuhada di Kotabaru bukan hanya didedikasikan untuk keperluan itu, namun masjid ini dibangun juga sebagai bentuk kenang-kenangan atau monumen untuk mengenang para syuhada atau pahlawan yang gugur dalam Pertempuran Kotabaru (6-7 Oktober 1945), juga Pertempuran Sonosewu (14 Januari 1949), serta pertempuran melawan agresi militer Belanda di Yogyakarta pada tanggal 19 Desember 1948. karena itulah masjid ini dinamakan Masjid Syuhada.

Dalam Pertempuran Kotabaru itu ada 21 orang yang gugur sebagai syuhada di pihak Indonesia, yang luka-luka ada 32 orang. Sementara di pihak Jepang ada 9 orang yang gugur dan 20 orang luka-luka. 

Orang-orang yang gugur sebagai syuhada di pihak RI ini kemudian dijadikan nama-nama jalan di kawasan Kotabaru. 

Para syuhada itu ialah I Dewa Nyoman Oka, Amat Jazuli, Faridan M Noto, Bagong, Ngadikan, Suroto, Syuhada, Sunaryo, Sujiono, Supadi, Sabirin, Juwadi, Hadidarsono, Sukartono, Johar Nurhadi, Mohammad Sareh, Mohammad Wardhani, Trimo, Ahmad Zakir, Umar Kalipan, Abubakar Ali, dan Atmo Sukarto.

Selain itu para pendiri Masjid Syuhada juga memaksudkan pendirian masjid ini sebagai bentuk kenang-kenangan, monumen, tanda mata dari para penyelenggara negara yang waktu itu melaksanakan pemerintahan negara RI dengan ibukota Yogyakarta. 

Ketika negara telah dianggap stabil atau aman, maka penyelenggara negara RI pun berpindah lagi ke Jakarta. Masjid Syuhada itulah yang kemudian dimaksudkan sebagai tanda mata dari mereka. 

Masjid Syuhada sebagai salah satu wujud rasa terima kasih pemimpin bangsa Indonesia kepada Yogyakarta yang telah dengan suka rela menyediakan diri untuk dijadikan ibukota lengkap dengan sumbangan dana yang diperlukan untuk keperluan pemerintahan dan kenegaraan.

Prasasti tentang pembentukan panitia pendirian Masjid Syuhada

Pendirian Masjid Syuhada di Kotabaru tidak lepas pula dari keinginan umat Islam untuk dapat melakukan ibadah di wilayah itu. 

Masalahnya, pada zaman pemerintahan Belanda wilayah Kotabaru merupakan wilayah elit, pemukiman orang Belanda. Pada zaman pendudukan Jepang wilayah ini juga menjadi pemukiman orang Jepang. Di samping tentu saja, orang-orang pribumi.

Waktu itu belum ada bangunan masjid di wilayah Kotabaru. Hal ini menyebabkan umat Islam yang ingin beribadah atau melakukan shalat lima waktu maupun Jumatan dan peringatan hari-hari besar agama Islam terpaksa berpindah-pindah tempat. Muncullah kemudian gagasan untuk dapat memiliki masjid di wilayah Kotabaru.

Pembentukan panitia pembangunan Masjid Syuhada dilakukan pada tanggal 14 Oktober 1949. Peletakan batu pertama untuk pembangunan masjid ini dilaksanakan tanggal 23 September 1950. 

Peletakan batu pertama dilakukan oleh Sultan Hamengku Buwana IX. Sedangkan Panitia Pembangunan Masjid Syuhada diketuai oleh Mr Asaat. Masjid ini diresmikan pada tanggal 20 September 1952.

Peresmian Masjid Syuhada dihadiri pula oleh Presiden Soekarno, serta sejumlah menteri kabinet, dan tokoh-tokoh penting waktu itu.

Penamaan Masjid Syuhada merupakan usulan dari Haji Benjamin yang menjadi salah satu anggota panitia. Ia adalah salah satu tokoh pejuang Islam. Sayangnya saat peresmian masjid dilaksankan, Haji Benjamin tidak bisa ikut menyaksikannya karena ia telah meninggal dunia.

Post a Comment for "Sejarah Masjid Syuhada Kotabaru, Gondokusuman Yogyakarta"