Skip to main content

Bulan Syawal Adalah Bulan Untuk Menjalin Tali Silaturahmi

Bulan Syawal Adalah Bulan Untuk Menjalin Tali Silaturahmi
credit:freepik.com

Bulan Ramadan atau Puasa telah usai. Tibalah saatnya memasuki bulan Syawal. Demikian orang Jawa menyebut bulan sesudah bulan Ramadhan itu. Kata itu diserap dari bulan Syawal dalam kalender tahun Hijriyah. Keduanya sama-sama berpatokan pada peredaran bulan. 

Bagi masyarakat Jawa, bulan Syawal berarti bulan saling memaafkan. Hampir sebulan penuh, berbagai kalangan masyarakat melakukan kegiatan atau acara Halal Bi Halal. Sebuah acara tradisi yang hanya ada di masyarakat Jawa, khususnya dan Indonesia pada umumnya.

Pada bulan Syawal, semua orang saling memaafkan dan saling mengunjungi. Maka tidak afdol jika di bulan Syawal, tidak bisa mudik untuk ngabekti kepada orang tua dan kerabat dekat. Sesudah ngabekti orang tua dan kerabat di kampung dalam acara mudik, biasanya mereka kembali lagi ke tempat kerja yang berada di luar kota. 

Setelah itu, mereka juga melakukan Halal Bi Halal dengan rekan kerja, bisnis, paguyuban, dan sebagainya. Hampir setiap hari, bagi masyarakat Jawa di saat bulan Syawal ini kita jumpai orang menggelar acara Halal Bi Halal. 

Tidak terkecuali dengan anak-anak sekolah. Di hari pertama masuk sekolah selepas Ramadhan kemarin, kegiatan sekolah hanya diisi dengan saling berjabat tangan antar warga sekolah, baik murid, guru, karyawan, dan warga sekolah lainnya.

Begitu pula dengan banyak instansi di Yogyakarta atau masyarakat Jawa umumnya, di bulan Syawal ini juga banyak dijumpai melakukan kegiatan Halal Bi Halal. Tidak terkecuali dengan Gubernur DIY sekaligus Raja Kraton Yogyakarta juga melakukan open house dalam acara Halal Bi Halal beberapa tempo lalu di Pagelaran Kraton. 

Dalam acara open house ini, semua orang, warga Yogyakarta dan luar Yogyakarta yang hendak bersalaman dengan Sultan tidak dilarang. Bahkan ada orang asing yang ikut dalam acara tersebut. 

Hingga ia berkomentar, sungguh raja dan permaisuri yang dekat dengan rakyatnya. Hingga 2 jam lebih melayani masyarakat hanya untuk berjabat tangan.

Tidak jarang, dalam kegiatan Syawalan tersebut, pasti diisi dengan acara inti, seperti tauziah atau ceramah rohani. Kemudian diselingi dengan acara hiburan lain, seperti acara musik, doorprize, dagelan, hiburan kesenian, dan sajian menu khas, yakni lontong opor.

Dalam tradisi Syawalan tersebut, tentu masyarakat berharap agar kesalahan mereka selama setahun terakhir bisa dimaafkan dan bisa saling memaafkan. Sehingga dalam kehidupan ke depannya mereka bisa lebih saling menghargai. 

Tentu hal itu diilhami dari Idul Fitri yang berarti kembali suci. Dalam keadaan kembali suci, maka harus mau memaafkan orang lain yang mempunyai kesalahan kepada kita.

Tradisi Syawalan masih hidup hingga saat ini di masyarakat Yogyakarta dan daerah lainnya di nusantara ini serta akan terus berlangsung dari masa ke masa.

Rekomendasi Topik Dari Penulis
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar