Skip to main content

Sejarah Masjid Pathok Negoro Babadan Bantul

Sejarah Masjid Pathok Negoro Babadan Bantul

Masjid Pathok Negoro Babadan Bantul yang dikenal juga dengan nama Masjid Ad Darojat terletak di Dusun Kauman Babadan, Kalurahan Gedong Kuning, Kecamatan Banguntapan, Kabupaten Bantul, Propinsi DIY. 

Lokasi ini dapat dicapai melalui perempatan Gedong Kuning ke utara. Sampai di pertigaan jalan di sudut barat-utara Gedung JEC ambil arah lurus ke utara (jalan masuk ke arah Sorowajan). 

Pada jarak sekitar 50 meter dari pertigaan akan ditemukan jalan kecil (gang) mengarah ke barat. Gang kecil inilah yang menjadi jalan utama menuju lokasi Masjid Pathok Negoro Ad Darojat Babadan.

Kondisi Fisik Masjid

Sekalipun telah mengalami berbagai renovasi karena tuntutan zaman dan alasan kondisi bahan bangunan yang mulai rusak, ciri-ciri khas bangunan masjid pathok negoro dari masjid ini masih dipertahankan. 

Ciri khas itu antara lain berupa bentuk mustaka dan atap tumpang. Mustaka dari masjid ini tidak berbentuk bawangan seperti masjid-masjid pada umumnya di Indonesia. Masjid ini memiliki ciri khas kemuncaknya berbentuk gada bersulur. 

Pada awalnya kemuncak berbentuk gada bersulur ini dibuat dari gerabah. Akan tetapi kemuncak berbentuk gada bersulur yang terbuat dari gerabah ini telah digantikan dengan bahan yang terbuat dari logam (kuningan).

Ruang utama dari masjid ini berbentuk joglo dengan 4 buah tiang utama (saka guru) dengan ketinggian sekitar 7 meter. Tiang-tiang utama ini diletakkan di atas umpak (alas tiang) berhias indah. Ruang utama di dalam masjid ini juga dilengkapi dengan lampu gantung yang aristik.

Dulunya Masjid Ad Darojat Babadan juga dilengkapi dengan kolam-kolam di bagian depan dan sampingnya. Namun karena tuntutan zaman demi perluasan masjid serta halaman, kolam-kolam itu telah ditutup.

Serambi masjid ini juga telah dibangun relatif luas dan bagus. Serambi ini digunakan sebagai tempat untuk berbagai macam kegiatan keagamaan. 

Pada bagian depan (listplang) serambi terdapat tulisan berhuruf Arab yang diambilkan dari Surat At Taubah. Pada bagian depan serambi terdapat bangunan lain yang disebut kuncung.

Kuncung merupakan bagian bangunan yang terletak paling depan dari sebuah bangunan yang umumnya menjadi gaya bangunan rumah Jawa milik para bangsawan. 

Kuncung pada masa lalu lebih difungsikan sebagai tempat menurunkan penumpang dari kendaraan (kereta kuda/andong/mobil) sehingga sang penumpang tidak kepanasan atau kehujanan ketika turun dari kendaraan dan langsung masuk ke rumah (pendapa). 

Kuncung pada Masjid Babadan ini juga memiliki listplang yang bertuliskan kalimat tertentu. Jika pada listplang serambi masjid terdapat tulisan berbahasa dan berhuruf Arab, pada listplang kuncung ini terdapat tulisan dengan huruf dan bahasa Jawa yang menyatakan tentang nama masjid yang bersangkutan.

Masjid juga dilengkapi dengan beduk berdiameter sekitar 80 Cm. Pada bagian belakang masjid juga terdapat kompleks makam. Kompleks makam yang terletak di belakang masjid tampaknya memang telah menjadi tradisi masjid-masjid tua di Indonesia atau bahkan dunia.

Latar Belakang Sejarah Masjid Pathok Negoro

Masjid Babadan untuk saat ini ada dua. Satu merupakan Masjid Babadan Lama (di Babadan Bantul). Sedangkan yang satunya lagi berada di Depok, Sleman. Tepatnya di Dusun Babadan Baru, Kalurahan Condong Catur.

Masjid Babadan Lama (Ad Darojat) dulunya pernah mengalami peristiwa unik, yakni pada tahun 1943 dibedol dan dipindahkan ke Babadan Baru, Sleman. 

Hal ini terjadi karena pada masa itu pemerintah pendudukan Jepang ingin membangun lapangan udara dan harus mengosongkan wilayah, salah satunya wilayah Babadan, Bantul. Jadi, pada masa itu terjadi bedol desa dari Babadan Bantul ke Babadan Baru, Sleman.

Masjid Pathok Negoro Babadan adalah salah satu masjid pathok negoro yang dibangun atas restu Kerajaan Kasultanan Yogyakarta pada masa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana I (1755-1792). 

Masjid pathok negoro yang ada di Kasultanan Yogyakarta sendiri ada 4, yakni Masjid Sultoni Ploso Kuning (Ngaglik Sleman), Masjid Jami Mlangi (Gamping, Sleman), Masjid Ad Darojat (Banguntapan, Bantul), Masjid At Taqwa Dongkelan (Kasihan, Bantul). 

Namun pada perkembangannya masjid pathok negoro ini ditambah satu lagi, yakni Masjid Wonokromo (Pleret, Bantul) yang dibangun lebih kemudian.

Masjid-masjid pathok negoro ini dibangun dengan tujuan membentengi wilayah Keraton Yogyakarta. Baik benteng dalam arti keimanan (agama) maupun dalam arti fisik, sosial, dan politis.

Rekomendasi Topik Dari Penulis
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar