Skip to main content

Tradisi Makan Takjil Dan Menyalakan Mercon di Bulan Puasa (Ramadhan)

 

Seiring dengan datangnya bulan Puasa atau Ramadhan 1442 Hijriyah/2021 Masehi selama satu bulan penuh, maka seperti tahun-tahun sebelumnya, sebagian besar masjid di kota Yogyakarta (dan juga masjid-masjid lain di seluruh Indonesia), menggelar kegiatan takjil. 

Seolah-olah takjil sudah menjadi tradisi selama bulan Ramadhan. Dengan adanya pembagian takjil maka suasana masjid menjadi lebih hidup. Pemberian takjil dilakukan menjelang berbuka atau setelah sholat Tarawih. Banyak macam pemberian takjil, seperti nasi, roti, kurma, kolak, teh, maupun camilan tradisional lokal lainnya. 

Biasanya takjil diberikan orang yang hendak berbuka puasa, termasuk para musafir yang berada dalam perjalanan. Takjil itu dikelola oleh takmir masjid dan disediakan oleh para jamaah masjid setempat.

Takjil disediakan oleh umat Islam secara sukarela sebagai bentuk kepedulian terhadap sesama. Apalagi dalam ajaran agama Islam dianjurkan untuk memberi buka puasa secara ikhlas kepada orang yang berpuasa, karena akan mendapatkan ganjaran yang sama seperti orang yang berpuasa itu. 

Atas dasar itulah akhirnya takjil diberikan selama bulan puasa dan dipusatkan di masjid, surau, musholla, atau langgar. Kebiasaan memberi takjil itulah akhirnya menjadi rutinitas dan menjadi tradisi dalam masyarakat kita. 

Sehingga pada bulan Ramadhan, sudah bisa diduga, masjid-masjid akan lebih kelihatan ramai dan makmur jika dibandingkan dengan bulan-bulan lainnya.

Memang beda antara masjid satu dengan lainnya dalam memberikan takjil kepada para musafir dan orang yang berpuasa, tergantung kemampuan masjid dan masyarakatnya.

Ada yang setiap hari memberi takjil berupa nasi lengkap dengan minuman manis dan kurma, ada yang mampu memberi nasi bungkus dan air putih, ada juga yang berupa roti, snack, dan minuman. Namun yang jelas, pemberian takjil harus didasarkan pada keikhlasan pribadi masing-masing tanpa rasa keterpaksaan.

Fenomena pemberian takjil di masjid-masjid Yogyakarta memang sangat beragam. Misalkan di masjid Gede Kauman Yogyakarta setiap hari Kamis menyajikan menu gulai kambing. Berbeda lagi dengan masjid lainnya dengan menu bubur atau nasi kotak dan bungkus. 

Keberagaman takjil yang disajikan itu kadang membuat penasaran bagi orang yang berpuasa, termasuk para mahasiswa yang banyak belajar di Yogyakarta. Tidak jarang mereka memanfaatkan berbuka puasa safari dari satu masjid ke masjid lainnya. 

Tentu saja, selain untuk mencoba berbagai menu khusus sekalian mengenal keunikan masjid-masjid tersebut. Apalagi berbuka puasa di masjid tidak membayar alias gratis. Jadi bisa irit selama sebulan. Lepas dari itu semua, memang setiap bulan Puasa memberi warna lain di masjid dengan adanya tradisi takjilan atau sering disebut juga jaburan.

Bulan Ramadhan juga memberi warna lain bagi masyarakat, terutama anak-anak. Setiap menjelang hingga selama bulan Puasa bahkan sampai memasuki bulan Syawal, anak-anak mempunyai kebiasaan lain, yakni menyalakan mercon dan kembang api. 

Entah mulai kapan, yang jelas hingga saat ini, tradisi “nyumet” mercon masih mentradisi di masyarakat kita, terutama di saat-saat bulan Ramadhan dan Syawal. Walaupun sebenarnya, menyalakan mercon sudah dilarang pemerintah, tetapi nyatanya setiap tahun masih ada pedagang yang menjual mercon.

Pada bulan-bulan seperti ini, hampir semua jalan-jalan protokol, tempat-tempat strategis, hingga alun-alun dipakai oleh para pedagang untuk berjualan mercon, kembang api, sos, dan sejenisnya. 

Barang-barang itu dijual dengan beraneka ragam harga mulai dari Rp 100 untuk sos ukuran kecil hingga harga Rp 30.000 untuk kembang api ukuran besar. Bahkan ada lagi yang lebih mahal. Untuk harga mercon banting, ada yang dijual seharga Rp 3.000 untuk 1 doos berisi 30 biji. 

Memang untuk mercon, saat ini sudah sangat jarang ditemui di lokasi itu yang dijual dalam ukuran besar. Paling-paling hanya mercon banting seukuran paku reng. Sepertinya kemeriahan bulan Ramadhan dan hari Lebaran tidak lengkap tanpa kehadiran mercon, sos, dan kembang api. 

Itulah tradisi takjil dan mercon, yang hingga saat ini masih kita jumpai di sekitar kita, yang selalu hadir setiap tahun, terutama menjelang Ramadhan dan Lebaran.

Rekomendasi Topik Dari Penulis
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar