Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pahami 4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam

 

Pahami 4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam

Dalam ajaran Agama Islam, terdapat banyak sekali perintah dan juga larangan yang harus di perhatikan oleh seluruh kaum muslimin. Perintah adalah segala sesuatu yang wajib untuk kita kerjakan, sedangkan larangan adalah segala sesuatu yang harus kita jauhi dan kita tinggalkan.

Allah SWT telah memberikan keterangan dengan sangat jelas terkait dengan sejumlah perintah dan larangan, seperti termaktub dalam Al-Qur'an, surah Al-An'am ayat ke 151 – 153. 

Berikut ini adalah  4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam, antara lain:

1. Jangan Berbuat Syirik (Menyekutukan Allah SWT)

Pengertian Syirik menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) adalah penyekutuan Allah dengan yang lain, misalnya pengakuan kemampuan ilmu daripada kemampuan dan kekuatan Allah, pengabdian selain kepada Allah Taala dengan menyembah patung, tempat keramat, dan kuburan, dan kepercayaan terhadap keampuhan peninggalan nenek moyang yang diyakini akan menentukan dan mempengaruhi jalan kehidupan.

Makna Kata Syirik 

Secara etimologi, kata Syirik memiliki makna persekutuan yang terdiri dari dua atau lebih yang disebut sebagai sekutu. Sedangkan secara terminologi, kata Syirik memiliki makna menjadikan sesuatu bagi Allah SWT sebagai tandingan ataupun sekutu. 

Definisi makna kata Syirik ini bermuara dari hadits Rasulullah SAW tentang dosa terbesar, yaitu:

أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهْوَ خَلَقَكَ

Artinya:

"…Engkau menjadikan sekutu bagi Allah sedangkan Dia yang menciptakanmu."

Sebagian besar ulama kemudian membagi makna dari kata Syirik ini menjadi dua, yaitu makna umum dan makna khusus. Bermakna umum, adalah jika menyekutukan Allah SWT di dalam peribadahan hamba kepada-NYA (uluhiyyah), menyekutukan-NYA di dalam perbuatan-NYA (rububiyyah), nama-NYA, dan sifat-NYA (al-asma' wa ash-shifat).

Namun demikian, jika disebutkan secara mutlak, makna Syirik yaitu memalingkan suatu ibadah kepada selain Allah SWT. Dan inilah yang di anggap sebagai makna Syirik secara khusus. Sebagaimana tauhid bermakna mengesakan Allah SWT dalam ibadah jika disebut secara mutlak. 

Jenis Syirik inilah yang diperangi oleh Rasulullah SAW. Bahkan, kesyirikan pertama yang terjadi di muka bumi ini disebabkan oleh penyelewengan dalam beribadah kepada selain Allah SWT yang telah dilakukan oleh kaum Nabi Nuh AS.

Makna Syirik Dalam Ibadah (Uluhiyyah)

Perbuatan Syirik dalam ibadah (uluhiyyah) Allah SWT berarti menyekutukan Allah SWT dalam ibadah. Atau dengan makna yang lain yaitu menyelewengkan ibadah kepada selain Allah SWT. Ini adalah definisi Syirik ketika penyebutannya bersifat mutlak. 

Termasuk perbuatan syirik dalam ibadah di antaranya adalah shalat, zakat, puasa, sembelihan, sumpah, doa, istighasah, cinta, ketakutan, harapan, dan segala bentuk peribadahan seorang hamba kepada Allah SWT. Oleh karena itu, adalah salah satu bentuk kesyirikan ketika seseorang menyembelih hewan kurban untuk jin, misalnya dengan sesajen, berdoa meminta pertolongan kepada orang yang sudah meninggal, atau penyelewangan ibadah lainnya kepada selain Allah SWT.

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Jinn ayat ke 18, sebagai berikut:

وَأَنَّ الْمَسَاجِدَ لِلَّهِ فَلَا تَدْعُوا مَعَ اللَّهِ أَحَدًا

Artinya:

"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu ialah milik Allah. Maka janganlah kalian menyembah sesuatu pun di dalamnya selain Allah." [QS. Al-Jinn: 18]

Makna Syirik Dalam Perbuatan (Rububiyyah)

Makna Syirik dalam rububiyyah berarti meyakini adanya Dzat lain selain Allah SWT yang dapat melakukan perbuatan seperti Allah SWT. Atau menyamakan makhluk dengan Allah SWT dalam hal-hal yang merupakan kekhususan rububiyyah-NYA. Sebagai contoh misalnya mempercayai adanya sang pencipta selain Allah SWT.

Perbuatan Syirik yang termasuk dalam kategori ini umumnya sedikit. Salah satu kesyirikan yang pernah dilakukan manusia adalah kesyirikan dari kaum kafir Quraisy yang diperangi oleh Rasulullah SWT.

Allah SWT berfirman:

قُلْ مَنْ يَرْزُقُكُمْ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أَمَّنْ يَمْلِكُ السَّمْعَ وَالْأَبْصَارَ وَمَنْ يُخْرِجُ الْحَيَّ مِنَ الْمَيِّتِ وَيُخْرِجُ الْمَيِّتَ مِنَ الْحَيِّ وَمَنْ يُدَبِّرُ الْأَمْرَ فَسَيَقُولُونَ اللَّهُ فَقُلْ أَفَلَا تَتَّقُونَ

Artinya:

"Katakanlah wahai Muhammad, ‘Siapakah yang memberi kalian rezeki dari langit dan bumi? Siapakah yang menguasai pendengaran dan penglihatan? Siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati, dan mengeluarkan yang mati dari yang hidup? Siapakah yang mengatur segala urusan?’ Maka mereka akan menjawab, ‘Allah.’ Maka katakan, ‘Lantas mengapa kalian tidak bertakwa?" [QS. Yunus: 31]

Syirik Dalam Nama Dan Sifat-NYA (Asma’ wa shifat)

Syirik jenis ini bermakna menjadikan sekutu bagi Allah SWT, baik itu di dalam salah satu nama-NYA, ataupun salah satu sifat-NYA.

Allah SWT telah berfirman:

لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya"

"Tiada sesuatu pun yang serupa dengan-Nya dan Dialah yang Maha mendengar lagi Maha melihat." [QS. Asy-syura: 11]

Di zaman modern saat ini, masih banyak orang yang pergi ke dukun atau paranormal dengan berbagai tujuan. Hal ini adalah salah satu bentuk Syirik kepada Allah SWT.

2. Berbuat Baik Kepada Kedua Orang Tua

Berbuat baik kepada kedua orang tua adalah perintah dari Allah SWT, sebagaimana firmannya dalam surah Al-Isra ayat 23, sebagai berikut:

وَقَضَىٰ رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا ۚ إِمَّا يَبْلُغَنَّ عِنْدَكَ الْكِبَرَ أَحَدُهُمَا أَوْ كِلَاهُمَا فَلَا تَقُلْ لَهُمَا أُفٍّ وَلَا تَنْهَرْهُمَا وَقُلْ لَهُمَا قَوْلًا كَرِيمًا

Artinya:

"Dan Tuhanmu telah memerintahkan supaya kamu jangan menyembah selain Dia dan hendaklah kamu berbuat baik pada ibu bapakmu dengan sebaik-baiknya. Jika salah seorang di antara keduanya atau kedua-duanya sampai berumur lanjut dalam pemeliharaanmu, maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan "ah" dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia." [QS. Al-Isra:23]

Selain ayat di atas, ada pula sebuah hadits dari Rasulullah SAW yang mengatakan bahwa ridha orang tua adalah ridha Allah SWT. Hal tersebut adalah benar adanya, karena orang tua telah bersusah payah mengurus anak - anaknya dari mulai melahirkan sampai mendidik hingga dewasa. Hal tersebut mereka lakukan dengan hati yang  ikhlas, tanpa mengharapkan imbalan sedikitpun dari anak -anaknya.

Rasulullah SAW telah bersabda:

رِضَا اللَّهِ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ 

Artinya:

"Ridha Tuhan terletak pada ridha kedua orang tua". 

Dengan kata lain, jika kita ingin melihat Tuhan tersenyum, maka buatlah kedua orang tuamu tersenyum. Sebaliknya, jika ingin melihat Tuhan cemberut, maka buatlah kedua orang tuamu cemberut.

Pahami 4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam
credit:freepik.com

3. Jangan Membunuh Anak Karena Takut Miskin

Setiap anak yang lahir kedunia ini telah diberikan jaminan Rezekinya oleh Allah SWT. 

Allah SWT telah menegaskan hal ini dalam Al-Qur'an surah Al-An'am ayat ke 137, sebagai berikut:

وَكَذَٰلِكَ زَيَّنَ لِكَثِيرٍ مِنَ الْمُشْرِكِينَ قَتْلَ أَوْلَادِهِمْ شُرَكَاؤُهُمْ لِيُرْدُوهُمْ وَلِيَلْبِسُوا عَلَيْهِمْ دِينَهُمْ ۖ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ مَا فَعَلُوهُ ۖ فَذَرْهُمْ وَمَا يَفْتَرُونَ

Artinya:

"Dan demikianlah pemimpin-pemimpin mereka telah menjadikan kebanyakan dari orang-orang musyrik itu memandang baik membunuh anak-anak mereka untuk membinasakan mereka dan untuk mengaburkan bagi mereka agama-Nya. Dan kalau Allah menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggallah mereka dan apa yang mereka ada-adakan." [QS. Al-Isra:137]

4.  Jangan Mendekati Perbuatan Keji

Selama ini kita melihat perbuatan keji sebagai perbuatan yang bernuansa kekerasan, namun kita tidak pernah menyadari bahwa bersikap durhaka kepada kedua orang tua juga merupakan salah satu dari perbuatan keji juga.

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-A;raf ayat ke 33, sebagai berikut:

قُلْ إِنَّمَا حَرَّمَ رَبِّيَ الْفَوَاحِشَ مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ وَالْإِثْمَ وَالْبَغْيَ بِغَيْرِ الْحَقِّ وَأَنْ تُشْرِكُوا بِاللَّهِ مَا لَمْ يُنَزِّلْ بِهِ سُلْطَانًا وَأَنْ تَقُولُوا عَلَى اللَّهِ مَا لَا تَعْلَمُونَ

Artinya:

Katakanlah: "Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujjah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui". [QS. Al-A'raf:33]

5. Jangan Membunuh Jiwa Yang Di Haramkan Allah SWT

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Furqan ayat ke 68-70, sebagai berikut:

وَالَّذِينَ لا يَدْعُونَ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ وَلا يَقْتُلُونَ النَّفْسَ الَّتِي حَرَّمَ اللَّهُ إِلا بِالْحَقِّ وَلا يَزْنُونَ وَمَنْ يَفْعَلْ ذَلِكَ يَلْقَ أَثَامًا (٦٨)يُضَاعَفْ لَهُ الْعَذَابُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَيَخْلُدْ فِيهِ مُهَانًا (٦٩)إِلا مَنْ تَابَ وَآمَنَ وَعَمِلَ عَمَلا صَالِحًا فَأُولَئِكَ يُبَدِّلُ اللَّهُ سَيِّئَاتِهِمْ حَسَنَاتٍ وَكَانَ اللَّهُ غَفُورًا رَحِيمًا (٧٠)

Artinya:

"Dan orang-orang yang tidak menyembah Tuhan yang lain beserta Allah dan tidak membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) kecuali dengan (alasan) yang benar, dan tidak berzina, barang siapa yang melakukan yang demikian itu, niscaya Dia mendapat (pembalasan) dosa(nya), (yakni) akan dilipat gandakan azab untuknya pada hari kiamat dan Dia akan kekal dalam azab itu, dalam Keadaan terhina. Kecuali orang-orang yang bertaubat, beriman dan mengerjakan amal saleh; Maka itu kejahatan mereka diganti Allah dengan kebajikan. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." [QS. Al-Furqon : 68-70]

Nyawa seorang manusia sangat dihargai dalam ajaran agama Islam. Maka agama Islam pun melarang untuk membunuh jiwa kecuali dengan cara yang hak. Misalnya, dalam kasus hukum Islam yaitu Qishash (Mengilangkan nyawa dengan nyawa).

6. Jangan Mendekati Harta Anak Yatim

Janganlah kalian memakan harta yang bukan haknya, apalagi itu adalah harta dari anak - anak yatim. Harta anak yatim boleh saja disimpan dan harus digunakan untuk keperluan anak yatim tersebut, misalnya untuk biaya sekolahnya dan sebagainya.

7. Menyempurnakan Takaran Dan Timbangan

Dalam kasus jual beli (perdagangan), penggunaan takaran atau timbangan biasanya dilakukan dengan kecurangan. Allah SWT telah melarang kita untuk tidak mengurangi takaran, karena hal tersebut merupakan suatu tindakan curang (tidak jujur).

Allah SWT berfirman:

وَلَا تَقْرَبُوا مَالَ الْيَتِيمِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ حَتَّىٰ يَبْلُغَ أَشُدَّهُ ۖ وَأَوْفُوا الْكَيْلَ وَالْمِيزَانَ بِالْقِسْطِ ۖ لَا نُكَلِّفُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا ۖ وَإِذَا قُلْتُمْ فَاعْدِلُوا وَلَوْ كَانَ ذَا قُرْبَىٰ ۖ وَبِعَهْدِ اللَّهِ أَوْفُوا ۚ ذَٰلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

Artinya:

"Dan janganlah kamu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat, hingga sampai ia dewasa. Dan sempurnakanlah takaran dan timbangan dengan adil. Kami tidak memikulkan beban kepada sesorang melainkan sekedar kesanggupannya. Dan apabila kamu berkata, maka hendaklah kamu berlaku adil, kendatipun ia adalah kerabat(mu), dan penuhilah janji Allah. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepadamu agar kamu ingat." [QS. Al-An'am:152]

8. Berlaku Adil

Jika Anda menjadi seorang hakim, maka jangan selalu membela orang yang hartanya lebih banyak. Selalu ingat bahwa menjadi seorang hakim adalah sangat berat tanggung jawabnya kelak di akhirat. Keputusan apapun yang diterapkan, akan dibalas oleh Allah SWT di akhirat nanti.

Dalam implementasinya, kata adil dapat bermakna: obyektif, proporsional, seimbang. Bersikap adil adalah hal yang sangat prinsip dalam semua hal, misalnya dalam konteks beragama, bermasyarakat, bernegara, dan terutama dalam bidang hukum atau lembaga peradilan.

9. Memenuhi Janji Kepada Allah SWT

Berhati-hatilah dengan janjimu. Jika Anda berjanji, maka itu haruslah ditepati. Jika merasa takut tidak bisa menepatinya, maka janganlah pernah berjanji.

Dalam kaitannya dengan janji, Rasulullah SAW bersabda, sebagaimana diriwayatkan dari sahabat Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu:

آيَةُ المُنَافِقِ ثَلاَثٌ: إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ

Artinya:

"Tanda orang munafik itu ada tiga, (1) jika berbicara berdusta; (2) jika berjanji maka tidak menepati; dan (3) jika diberi amanah, dia berkhianat" [HR. Bukhari no. 33 dan Muslim no. 59]

10. Ikutilah Jalan Yang Lurus

Makna dari jalan yang lurus adalah jalan yang diridhai oleh Allah SWT. Jika seseorang tidak mengikuti jalan tersebut, maka dapat dipastikan bahwa orang tersebut akan terjerumus pada kesesatan yang nyata.

Demikianlah uraian artikel tentang 4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam. Semoga uraian artikel ini dapat menambah ilmu pengetahuan Anda.

referensi: https://muslim.or.id

Post a Comment for "Pahami 4 Perintah Dan 6 Larangan Dalam Agama Islam "