Skip to main content

Arti Toleransi Dalam Agama Islam

 

Arti Toleransi Dalam Agama Islam

Arti Toleransi Dalam Agama Islam - Dalam agama Islam Toleransi di sebut juga dengan Tasamuh. Sikap toleransi sangat dianjurkan dalam agama Islam terutama kepada mereka yang berbeda keyakinannya dengan kita.

Pengertian Tasamuh

Secara harfiah kata Tasamuh atau samahah memiliki makna toleransi. Menurut pendapat dari Muhammad Sabir dalam Wawasan Hadis Tentang Tasamuh (Toleransi) mengatakan bahwa di dalam Al-Qur’an sendiri, kata Tasamuh atau Samahah sendiri sebenarnya tidak dapat ditemukan keberadaannya. Meskipun demikian, kondisi ini tidak langsung dijadikan sebagai pembenaran bahwa Al-Qur’an tidak menyinggung serta mengajarkan sikap toleransi ini.

Ajaran Al-Qur’an yang berhubungan dengan sikap toleransi dapat kita telusuri dari beberapa penjelasan tentang keadilan (Al-'adl atau Al-qisth), kebajikan (al-birr), perdamaian (al-shulh atau al-salâm).

Dalam Bahasa Arab sendiri, sikap toleransi disebut dengan istilah Tasamuh yang berarti sikap membiarkan atau lapang dada. Kata Tasamuh (toleransi) adalah pendirian atau sikap yang termanifestasikan pada kesediaan untuk menerima berbagai pandangan dan pendirian yang beraneka ragam meskipun tidak sependapat dengannya.

Di dalam ajaran agama Islam, istilah Tasamuh pada dasarnya tidak semata-mata bermakna toleransi, karena Tasamuh juga mengandung arti memberi dan mengambil.

Tasamuh lebih menekankan pada tindakan tuntutan dan penerimaan dalam batas-batas tertentu. Orang yang melakukan Tasamuh dalam ajaran Islam disebut dengan mutasamihin, yang bermakna "pemaaf, penerima, menawarkan, pemurah sebagai tuan rumah kepada tamu".

Dalam pelaksanaannya, orang yang melakukan tindakan Tasamuh ini tidak sepatutnya menerima saja sehingga menekan batasan hak dan kewajibannya sendiri. Dengan kata lain, perilaku Tasamuh dalam beragama memiliki pengertian untuk tidak saling melanggar batasan, terutama yang berkaitan dengan batasan keimanan (Aqidah).

Meskipun Tasamuh memiliki pengertian seperti yang sudah dijelaskan di atas, namun dalam banyak konteks, Tasamuh seringkali disamakan artinya dengan kata "Toleransi".

Toleransi adalah prinsip dasar dalam Islam. Itu adalah kewajiban agama dan moral. Itu tidak berarti konsesi. Itu tidak berarti kurangnya prinsip, atau kurangnya keseriusan tentang prinsip seseorang. Kadang-kadang disarankan agar orang-orang bersikap toleran terhadap hal-hal yang tidak mereka pedulikan. Tapi ini tidak terjadi dalam Islam.

Toleransi adalah suatu sikap saling menghormati dan menghargai antar kelompok atau antar individu dalam masyarakat atau dalam lingkup lainnya. Sikap toleransi menghindarkan terjadinya diskriminasi, walaupun banyak terdapat kelompok atau golongan yang berbeda dalam suatu kelompok masyarakat.

Prinsip toleransi ini sejalan dengan ciri khas bangsa Indonesia yang dikenal sebagai bangsa yang sangat menjunjung tinggi nilai - nilai toleransi dalam kehidupan sehari - hari.

Hal tersebut dapat kita lihat misalnya dalam kehidupan orang jawa, ada yang dinamakan sikap Tepo seliro. Tepo seliro jika di maknai dalam bahasa Indonesia sama dengan tenggang rasa. Padaan kata unyuk sikap tenggang rasa ini adalah saling hormat - menghormati atau biasa di sebut Toleransi.

Dengan demikian, dapat kita simpulkan bahwa sikap toleransi yang anjurkan dalam ajaran agama Islam ini sejalan dan selaras dengan kepribadian dan ciri khas bangsa Indonesia.

Dalam agama Islam, terdapat toleransi yang dilarang keras, yaitu toleransi yang terkait dengan masalah aqidah, artinya kita sebagai umat Islam dilarang untuk mempertukarkan aqidah atau turut serta dalam peribadatan umat agama lain atau mengikuti ajaran agama lain. 

Dalam masalah muamalah maliyah umat Islam dapat berhubungan dan bekerjasama dengan non- muslim selama objek yang ditransaksikan dan akadnya dibolehkan dan sesuai dengan syariat agama Islam.

Allah Subhanahu Wata'ala telah berfirman dalam surah Al-Kafirun sebagai berikut:

قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (1) لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ (2) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (3) وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَا عَبَدْتُمْ (4) وَلَا أَنْتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (5) لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ (6)

Artinya:

Katakanlah: "Hai orang-orang yang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah. Untukmulah agamamu, dan untukkulah, agamaku". [QS. Al-Kafirun: 1-6]

Sikap toleransi telah banyak diajarkan dan dipraktikkan oleh Rasulullah SAW kepada seluruh umatnya. Rasulullah SAW sangat memahami bahwa masyarakat Arab yang menjadi obyek dakwahnya terdiri dari berbagai macam suku. 

Apalagi di lingkungan bangsa Arab sendiri, sikap kesukuannya sangat tinggi, dimana tiap - tipa suku tersebut terdiri dari banyak kabilah. Salah satu contohnya adalah bagaimana Nabi SAW mampu bergaul dan berhubungan secara sosial dengan tetangganya yang beragama Yahudi di kota Madinah (Yatsrib). 

Bahkan suatu waktu, ketika ada seorang Yahudi meninggal dunia yang dibawa oleh para kerabatnya untuk dimakamkan. Pada saat yang sama, Nabi SAW dan para sahabat yang kebetulan sedang duduk-duduk. Begitu mengetahui ada jenazah orang Yahudi yang akan lewat, maka Nabi SAW kemudian berdiri sebagai tanda penghormatan. 

Spontanitas para sahabat kemudian bertanya, "wahai Nabi, kenapa engkau berdiri, padahal jenazah tersebut adalah jenazah seorang Yahudi? Jawaban Rasuullah singkat "Setidaknya Dia adalah seorang manusia". Sikap Nabi SAW ini menunjukkan bahwa Nabi adalah tipe orang yang menjunjung tinggi sikap toleransi.

Sejarah peradaban dunia juga telah membuktikan betapa ajaran Islam sangat menjunjung tinggi berbagai perbedaan yang ada. Sikap toleran berarti tidak ada pemaksaan kehendak pribadi atas orang lain. Toleransi ini dianjurkan dalam segala bidang kehidupan, terutama sekali dalam bidang kehidupan keagamaan.

Sebaliknya, intoleransi telah mengancam budaya bangsa saat ini. Hal ini menyebabkan kematian, genosida, kekerasan, penganiayaan agama serta konfrontasi di berbagai tingkatan. Terkadang alasan ras dan etnis, terkadang agama dan ideologis dan terkadang karena masalah sosial dan politik. Apa pun alasannya, sikap intoleransi jelas akan membawa kepada perpecahan bangsa.

Intoleransi dalam konteks kehidupan beragama adalah tindakan menolak hak orang yang beragama lain untuk menjalankan dan mengekspresikan keyakinannya secara bebas. Intoleransi agama seperti diskriminasi atas dasar agama. Oleh karena itu kita sebagai umat Islam wajib menjauhi sikap intoleransi ini karena hal itu tidak sesuai dengan prinsip dasar ajaran agama Islam.

referensi materi: https://mui.or.id/
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar