Skip to main content

Apa Keutamaan Orang Berilmu? Mengapa Allah SWT meninggikannya Beberapa Derajat?

 

KH Maimun Zubair
credit image:[email protected]_sarang

Setiap manusia dilahir ke alam dunia ini dalam keadaan tidak berilmu dan tidak membawa apa - apa. Maka, ketika dalam perjalanannya, kita sebagai manusia kemudian menjadi orang yang pandai, sudah menjadi kewajiban kita untuk bersyukur kepada Allah SWT dan tidak menyombongkan diri.

Dalam pandangan ajaran agama Islam, setiap muslim diwajibkan untuk belajar dan menuntut ilmu pengetahuan di sepanjang hidupnya. 

Rasulullah SAW pernah bersabda dalam sebuah hsditsnya yang artinya, "Belajarlah, karena seseorang tidak dilahirkan dalam keadaan pandai dan pemilik ilmu itu tidak sama dengan orang yang tidak memiliki ilmu." 

 Senada dengan hadits Rasulullah SAW tersebut, Al-Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, mengatakan:

تَعَلَّمْ فَلَيْسَ الْمَرْءُ يُوْلَدُ عَالِمًا ُ

Artinya:

"Belajarlah karena tidak ada seorangpun yang dilahirkan dalam keadaan berilmu."

وَلَيْسَ أَخُوْ عِلْمٍ كَمَنْ هُوَ جَاهِلُ

Artinya:

"Dan tidaklah orang yang berilmu seperti orang yang bodoh."

وَإِنَّ كَبِيْرَ الْقَوْمِ لاَ عِلْمَ عِنْدَهُ صَغِيْرٌ إِذَا الْتَفَّتْ عَلَيْهِ الْجَحَافِلُ

Artinya:

"Sesungguhnya suatu kaum yang besar tetapi tidak memiliki ilmu maka sebenarnya kaum itu adalah kecil apabila terluput darinya keagungan (ilmu)."

وَإِنَّ صَغِيْرَ الْقَوْمِ إِنْ كَانَ عَالِمًا كَبِيْرٌ إِذَا رُدَّتْ إِلَيْهِ الْمَحَافِل

Artinya:

"Dan sesungguhnya kaum yang kecil jika memiliki ilmu maka pada hakikatnya mereka adalah kaum yang besar apabila perkumpulan mereka selalu dengan ilmu."

HADITS - HADITS  TERKAIT DENGAN KEWAJIBAN MENUNTUT ILMU

Berikut ini adalah beberapa hadits dari Rasulullah SAW, yang berkaitan dengan kewajiban belajar dan menuntu ilmu, antara lain:

مَنْ سَلَكَ طَرِيقًا يَلْتَمِسُ فِيهِ عِلْمًا سَهَّلَ اللَّهُ لَهُ بِهِ طَرِيقًا إِلَى الْجَنَّةِ

Artinya:

"Barang siapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya." [HR. Muslim]

مَنْ أَرَادَ الدُّنْيَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَ الأَخِرَةَ فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ, وَمَنْ أَرَادَهُمَا فَعَلَيْهِ بِالْعِلْمِ

Artinya:

"Barang siapa menginginkan kebahagian dunia, maka tuntutlah ilmu dan barang siapa yang ingin kebahagian akhirat, tuntulah ilmu dan barangsiapa yang menginginkan keduanya, tuntutlah ilmu pengetahuan."

وَإِنَّ الْمَلَائِكَةَ لَتَضَعُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا لِطَالِبِ الْعِلْمِ، وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَوَاتِ، وَمَنْ فِي الْأَرْضِ، وَالْحِيتَانُ فِي جَوْفِ الْمَاءِ

Artinya:

"Sungguh, para malaikat merendahkan sayapnya sebagai keridaan kepada penuntut ilmu. Orang yang berilmu akan dimintai ampunan oleh penduduk langit dan bumi, bahkan hingga ikan yang ada di dasar laut." [HR. Abu Daud, Tirmidzi dan Ibnu Majah]

مَنْ خَرَجَ فِى طَلَبِ الْعِلْمِ فَهُوَ فِى سَبِيلِ اللَّهِ حَتَّى يَرْجِعَ

Artinya:

"Barang siapa keluar dalam rangka menuntut ilmu, maka dia berada di jalan Allah sampai ia kembali."

DALIL TENTANG BELAJAR DAN MENUNTU ILMU

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Alaq ayat 1-5, sebagai berikut:

ٱقْرَأْ بِٱسْمِ رَبِّكَ ٱلَّذِى خَلَقَ

خَلَقَ ٱلْإِنسَٰنَ مِنْ عَلَقٍ

ٱقْرَأْ وَرَبُّكَ ٱلْأَكْرَمُ

ٱلَّذِى عَلَّمَ بِٱلْقَلَمِ

عَلَّمَ ٱلْإِنسَٰنَ مَا لَمْ يَعْلَمْ

Artinya:

1. Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan

2. Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah

3. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah

4. Yang mengajar (manusia) dengan perantaran kalam

5. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak diketahuinya

Kandungan dari surat Al-Alaq di atas menyiratkan kepada kita sebagai manusia untuk selalu belajar dan menuntut ilmu. Itulah makna yang dapat kita simpulkan, karena Allah SWT justru telah memerintahkan kita untuk "Membaca" sebagai wahyu pertama yang di turunkan kepada Rasulullah SAW. 

Mengapa Allah SWT memerintahkan kita untuk "Membaca"? Mengapa bukan menyuruh kita Shalat, Berpuasa, atau Menunaikan ibadah haji? Hal tersebut menunjukkan bahwa segala amal,ibadah dalam ajaran agama Islam haruslah di kerjakan dengan ilmu. Tanpa ilmu maka ibadah yang kita kerjakan tidak akan sempurna.

Ilmu itu laksana pelita dalam kegelapan. Ilmu akan menjadi penuntun kita sebagai manusia dalam menjalani kehidupan di dunia dan beribadah kepada Allah SWT. Manusia yang berilmu akan dapat membedakan mana perkara yang haq dan mana perkara yang bathil.

KEUTAMAAN ORANG BERILMU

Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Mujadalah ayat ke 11, yaitu :

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Artinya:

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: "Berlapang-lapanglah dalam majlis", maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan. [QS. Al-Mujadalah:11]

Menurut Tafsir Jalalayan, menerangkan tafsir ayat di atas sebagai berikut:

(Hai orang-orang yang beriman, apabila dikatakan kepada kalian, "Berlapang-lapanglah) berluas-luaslah (dalam majelis") yaitu majelis tempat Nabi saw. berada, dan majelis zikir sehingga orang-orang yang datang kepada kalian dapat tempat duduk. Menurut suatu qiraat lafal al-majaalis dibaca al-majlis dalam bentuk mufrad (maka lapangkanlah, niscaya Allah akan memberi kelapangan untuk kalian) di surga nanti. (Dan apabila dikatakan, "Berdirilah kalian") untuk melakukan salat dan hal-hal lainnya yang termasuk amal-amal kebaikan (maka berdirilah) menurut qiraat lainnya kedua-duanya dibaca fansyuzuu dengan memakai harakat damah pada huruf Syinnya (niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antara kalian) karena ketaatannya dalam hal tersebut (dan) Dia meninggikan pula (orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat) di surga nanti. (Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan).

Sementara Tafsir Quraish Shihab, menerangkan tafsir ayat di atas sebagai berikut:

Wahai orang-orang yang mempercayai Allah dan rasul-Nya, apabila kalian diminta untuk melapangkan tempat duduk bagi orang lain agar ia dapat duduk bersama kalian maka lakukanlah, Allah pasti akan melapangkan segala sesuatu untuk kalian! Juga apabila kalian diminta untuk berdiri dari tempat duduk, maka berdirilah! Allah akan meninggikan derajat orang-orang Mukmin yang ikhlas dan orang-orang yang berilmu menjadi beberapa derajat. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu yang kalian perbuat.

Allah SWT juga berfirman dalam surah Az-Zumar ayat ke 9, sebagai berikut:

أَمَّنْ هُوَ قَانِتٌ آنَاءَ اللَّيْلِ سَاجِدًا وَقَائِمًا يَحْذَرُ الْآخِرَةَ وَيَرْجُو رَحْمَةَ رَبِّهِ ۗ قُلْ هَلْ يَسْتَوِي الَّذِينَ يَعْلَمُونَ وَالَّذِينَ لَا يَعْلَمُونَ ۗ إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُولُو الْأَلْبَابِ

Artinya:

(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadat di waktu-waktu malam dengan sujud dan berdiri, sedang ia takut kepada (azab) akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: "Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?" Sesungguhnya orang yang berakallah yang dapat menerima pelajaran. [QS. Az-Zumar:9]

Berikut ini adalah 5 perbedaan antara orang yang berilmu dan orang yang tidak berilmu, yaitu:

1. Orang yang berilmu akan dapat meluruskan aqidahnya dari kesesatan, imannya kuat dan tidak mudah goyah oleh berbagai macam perkara yang syubhat dan juga syahwat (nafsu). Hal ini tentu berbeda dengan orang yang tidak berilmu yang dengan mudah dapat terpengaruh oleh berbagai perkara syubhat dan juga syahwat. 

2. Orang yang berilmu akan dapat mengamalkan ilmu pengetahuan yang dimilikinya, adapun orang yang bodoh tidak akan mampu melakukannya karena dia tidak mengetahui apa yang harus dia amalkan. Dengan demikian, jika ada orang yang berilmu namun tidak mau untuk mengamalkan ilmunya, lalu apa bedanya dia dengan orang yang bodoh? 

3. Orang yang berilmu maka amal dan perbuatannya akan lurus, yaitu sesuai dengan syariat dan tuntunan Rasulullah SAW. Sementara orang yang bodoh, akan bertindak sebaliknya.

4. Orang yang berilmu akan memberi manfaat untuk dirinya sendiri tetapi juga dapat mengajarkannya kepada orang lain. Adapun orang yang bodoh meskipun dia ahli ibadah maka dia tidak akan memberikan manfaat apa - apa untuk orang lain.

5. Diamnya orang yang berilmu adalah ibadah, karena ilmunya tersebut akan membentuk keyakinannya yang kokoh dan benar tentang Allah SWT, sehingga dia memiliki rasa takut, pengharapan dan cinta kepada Allah SWT. 

ULAMA ADALAH PEWARIS PARA NABI

Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah haditsnya:

العلماء ورثة الانبياء

Artinya:

"Ulama adalah ahli waris nabi."

Dalam agama Islam Ulama adalah seorang cendekiawan. Mereka adalah orang - orang yang ahli dalam bidang apa pun. Jadi, ada yang ahli dalam ilmu pengetahuan umum, dan ilmu pengetahuan khusus.  

Masyarakat Indonesia sekarang ini membagi pemahaman terkait dengan kata Ulama tersebut. Bagi mereka yang menguasai ilmu dalam bidang keagamaan, disebut sebagai Ulama. 

Sementara, bagi mereka yang menguasai ilmu pengetahuan umum, disebut sebagai cendekiawan. Namun demikian, pada prinsipnya semuanya itu adalah Ulama. 

Allah SWT berfirman dalam surah Fathir ayat ke 27, sebagai berikut:

أَلَمْ تَرَ أَنَّ اللَّهَ أَنْزَلَ مِنَ السَّمَاءِ مَاءً فَأَخْرَجْنَا بِهِ ثَمَرَاتٍ مُخْتَلِفًا أَلْوَانُهَا ۚ وَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ بِيضٌ وَحُمْرٌ مُخْتَلِفٌ أَلْوَانُهَا وَغَرَابِيبُ سُودٌ

Artinya:

Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah menurunkan hujan dari langit lalu Kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan yang beraneka macam jenisnya. Dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. [QS. Fathir:27]

Ayat di atas adalah konteks ulama dalam bidang ilmu pengetahuan umum. Misalnya seorang Albert Einstein, maka dia juga disebut sebagai ulama jika ditinjau dari segi lughat (bahasa). Dia adalah seorang Ilmuwan yang pintar dan jenius. 

Lalu bagaimana konteks ulama dalam bidang ilmu agama?

Sayyidina Ali bin Abi Thalib, mengatakan, "Alim adalah orang yang mengamalkan ilmunya." Atinya, kalau dia tidak mengamalkan ilmunya berarti dia bukan seorang ulama.  

Di kalangan umat Islam, ulama adalah orang alim di dalam agama.  Di dalam hadits Rasulullah SAW, juga di katakan, "al-ulama waratsatul anbiya." Ulama itu adalah pewaris para Nabi. 

Sementara kita ketahui, bahwa Rasulullah SAW tidak mewariskan harta benda, dirham (uang), akan  Beliau mewariskan ilmu (al-ilm). Orang yang bisa menguasai apa peninggalan Rasulullah SAW berupa Al-Qur’an dan sunnah maka dia sebenarnya dia mendapatkan bagian warisan yang sempurna. Ulama yang dimaksud disitu adalah ulamaud din (ahli agama). Akan tetapi saat ini, orang gampang-gampang saja menyebut diri mereka sebagai ulama.  

Seorang Ulama adalah orang yang suka tadabur. Kalau seandainya dibacakan ayat Al-Qur’an maka dia akan termenung, tadabur, menangis, itu karena hatinya yang sangat peka. 

Ulama juga harus menjadi Uswatun hasanah yang artinya menjadi panutan masyarakat, baik dari segi taqwanya, maupun dari segi akhlaknya atau dari segi tutur katanya. 

Seorang Ulama yang baik tidak akan menjelek-jelekkan orang lain, dia tidak suka berkata-kata kasar. Bagaimana sikap seorang ulama ketika dia mengalami perbedaan pendapat dengan ulama yang lain?  

Perbedaan dibolehkan, asal jangan bertengkar satu sama lain. Semuanya dalam rangka untuk mencari kebenaran. Kalau seandainya masing - masing punya dalil, ya sudah tidak perlu diperpanjang lagi. 

Contohnya, Abu Hanifah yang tidak Qunut ketika shalat Shubuh, sementara Imam Syafi’i melakukan Qunut shalat Shubuh, ya sudah. Ini karena cara istinbatnya berbeda, maka tidak perlu di perdebatkan lagi. 

Seorang Ulama tidak akan gampang menyalahkan orang lain. Apalagi mengkafirkan orang lain, lebih - lebih memusyrikkan orang lain. Itulah yang menjadikan orang itu radikal.

Semoga para Ulama kita di berikan umur panjang dan dapat menjadi contoh teladan bagi kita sebagai umat Islam dalam kehidupan sehari - hari.

Demikianlah uraian artikel terkait dengan  Apa Keutamaan Orang Berilmu? Mengapa Allah SWT meninggikannya Beberapa Derajat? Semoga berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

Rekomendasi Topik Dari Penulis
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar