Skip to main content

Sejarah Ibadah Haji Sebelum Nabi Muhammad SAW


Sejarah Ibadah Haji
image via freepik

Sejarah Singkat Ibadah Haji Sebelum Nabi Muhammad SAW- Ibadah Haji merupakan pilar (rukun Islam) kelima bagi umat Islam.  Setiap Muslim yang mampu diwajibkan untuk melaksanakan ibadah haji sekali dalam hidup mereka (jika mampu secara finansial dan fisik).

Haji adalah sebuah kata yang berasal dari bahasa Arab yang berarti untuk menetapkan tempat dan bagi umat Muslim tempat itu adalah Masjidil Haram Mekah (Baithullah).

Ritual ibadah Haji ditentukan oleh nabi Islam terakhir, yakni Nabi Muhammad SAW dan siapapun yang berangkat menunaikan ibadah haji harus mengikuti perintah dan syariat yang telah ditentukan untuk menyelesaikan ibadah suci ini.

Ibadah Haji adalah sebuah ritual yang berhubungan dengan kehidupan nabi umat Islam yakni nabi Ibrahim AS. Beliau adalah orang yang dipercayakan untuk melakukan pembangunan Ka'bah (rumah ALLAH). 

Semua ritual yang termasuk dalam ibadah Haji adalah peristiwa penting dan berkaitan dengan kehidupan nabi Ibrahim AS dan hari ini ketika seluruh umat Muslim melakukan ibadah Haji, mereka pada dasarnya melakukan Reenactment (napak tilas) dari peristiwa yang terjadi dalam kehidupan nabi Ibrahim AS. 

Setelah pembangunan Ka'bah selesai, nabi Ibraham AS diperintahkan untuk melaksanakan haji setiap tahun dan setelah kematiannya, anak, cucu dan seluruh keturunannya terus mempraktekkan perintah ini sesuai dengan perintah ALLAH SWT. 

Namun, seiring waktu upacara dan tujuan ibadah Haji telah diubah oleh rakyat Mekah. Ka'bah kehilangan kemurnian sepenuhnya ketika bangsa Arab Jahiliyah justru melakukan penyembahan terhadap berhala, dimana terdapat lebih dari 360 berhala dari berbagai ukuran ditempatkan di dalamnya dan pada bagian dinding sepenuhnya ditutupi oleh puisi dan lukisan.

Ketidaktahuan dan kebodohan telah membuat bangsa Arab berputar-putar di sekeliling Ka'bah dalam keadaan telanjang baik pria maupun wanita, berdebat mengenai catatan bahwa mereka harus hadir di hadapan ALLAH SWT dalam kondisi yang sama seperti saat mereka dilahirkan. 

Suasana suci dari Ka'bah menyerupai sebuah sirkus selama periode ibadah Haji tersebut. Mereka bertepuk tangan, bersiul dan meniup tanduk telah menjadi bagian dari Haji bagi bangsa Arab. Mereka juga mulai membaca bacaan yang mereka buat sendiri.

Pengorbanan hewan dalam nama ALLAH SWT dilakukan dengan cara menuangkan darah hewan yang dikorbankan di dinding Ka'bah dan menggantung dagingnya dari pilar di sekitar Ka'bah. Mereka menganggap bahwa ALLAH  SWT menuntut daging dan darah hewan. 

Hal yang paling umum di antara para peziarah yang datang tersebut adalah bernyanyi, minum dan tindakan amoralitas lainnya dengan kompetisi puisi (syair). Lomba puisi (syair) ini dianggap sebagai salah satu ritual ibadah Haji yang paling disorot kala itu. Menceritakan cerita yang berlebihan dan kekikiran suku lain serta memuji keberanian dan kemegahan suku mereka sendiri. Kepala masing-masing suku membuat kawah besar dalam persaingan untuk memberi makan Pilgrim dan untuk mendapatkan dikenal sebagai kepala suku yang paling dermawan.

Sejarah Ibadah Haji
image via freepik

Oleh karena itu, rumah ALLAH SWT yang dibangun untuk menyembah Allah, Tuhan yang Maha Esa sepenuhnya diramalkan oleh orang pagan, ajaran leluhur mereka dan pemimpin nabi Ibraham AS telah benar - benar ditinggalkan.

Distorsi ritula ibadah Haji ini terus berlanjut selama lebih dari dua setengah ribu tahun. Tapi setelah itu terjawablah permohonan nabi Ibraham AS. Beliau pernah berdoa sesuatu seperti ini dalam hidupnya, seperti termaktub dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah ayat ke 129, sebagai berikut:

رَبَّنَا وَٱبْعَثْ فِيهِمْ رَسُولًا مِّنْهُمْ يَتْلُوا۟ عَلَيْهِمْ ءَايَٰتِكَ وَيُعَلِّمُهُمُ ٱلْكِتَٰبَ وَٱلْحِكْمَةَ وَيُزَكِّيهِمْ ۚ إِنَّكَ أَنتَ ٱلْعَزِيزُ ٱلْحَكِيمُ

Teks Latin:
"Rabbanā wab'aṡ fīhim rasụlam min-hum yatlụ 'alaihim āyātika wa yu'allimuhumul-kitāba wal-ḥikmata wa yuzakkīhim, innaka antal-'azīzul-ḥakīm"

Artinya:
"Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka sesorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, dan mengajarkan kepada mereka Al Kitab (Al Quran) dan Al-Hikmah (As-Sunnah) serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana." [QS.Al-Baqarah:129]

Mengutip tafsir dari An-Nafahat Al-Makkiyah karya Syaikh Muhammad bin Shalih asy-Syawi 129, sebagaimana tertulis dalam situs https://tafsirweb.com/,sebagai berikut:

"Ya tuhan kami, utuslah kepada mereka, " maksudnya kepada keturunan kami "seorang Rasul di antara mereka, "agar lebih tinggi derajatnya, agar ditaati dan agar mereka mengenalnya dengan sebaik-baiknya, "yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayatMu' dari sisi lafazhnya, menjaga dan menghafal, "dan mengajarkan kepada mereka al-Kitab (al-Qur’an) dan al-Hikmah (as-sunnah), " sebagai makna darinya "serta menyucikan mereka, "dengan mendidik mereka atas amalan-amalan shalih dan menjauhkan dari amalan-amalan buruk yang membuat jiwa tidak suci dengannya.

"Sesungguhnya Engkaulah yang Mahaperkasa" maksudnya, yang mampu menundukkan segala sesuatu dan yang tidak dapat dibendung kekuatanNya oleh apa pun, "lagi Maha bijaksana", yang meletakkan segala sesuatu pada tempatnya maka dengan kemuliaan dan kebijaksanaanMu, utuslah Rasul tersebut kepada mereka. 

Maka Allah mengabulkan doa mereka berdua, dan Allah mengutus Rasul yang mulia ini (Muhammad) yang dengan beliau keturunan mereka berdua dirahmati Allah secara khusus dan seluruh makhluk secara umum. Oleh karena itu Nabi Muhammad sholallohu 'alaihi wasallam bersabda "aku adalah do'a bapakku Ibrahim" (HR. Ahmad No 1545)

Kelahiran Nabi Muhammad SAW, Ibn " Abdullaah  "terjadi di kota nabi Ibraham AS sebagai jawaban atas permohonannya. Nabi Muhammad menyebarkan pesan Monoteisme sejati selama dua puluh tiga tahun, itu adalah pesan yang sama seperti risalah yang di bawa oleh nabi Ibrahim AS dan semua nabi lainnya.

Mereka di utus dan datang dengan dan menetapkan hukum ALLAH SWT di atas semua hukum dan aturan yang dibuat oleh manusia. Untuk membuat kata ini di atas semua  "ALLAH Agung ", Nabi Muhammad SAW meraih kemenangan mutlak ketika nabi Muhammad SAW menghancurkan berhala - berhala yang berada di dalam Ka'bah dan dengan demikian Ka'bah sekali lagi menjadi pusat Universal bagi para penyembah Allah SWT.

Dengan menyingkirkan semua kotoran yang berada di sekeliling Ka'bah, maka semua ritual ibadah Haji yang didirikan dan diperintahkan oleh ALLAH SWT semuanya dikembalikan seperti semula oleh ajaran Nabi Muhammad SAW.  Semua ritual palsu yang merajalela dalam periode pra-Islam semuanya dihapuskan oleh Rasulullah SAW.

Kompetisi puisi (syair) di antara suku untuk kemuliaan pencapaian mereka dan nenek moyang mereka semua dilarang dan dihentikan. Sebaliknya, ALLAH SWT mengatakan kepada mereka pembantaian hewan untuk ketenaran dan untuk mengambil bagian dalam kompetisi di mana pemenang dinyatakan sebagai yang paling dermawan dari semua, juga dihapuskan dan dilarang. 

Untuk praktek tercela yakni menuangkan darah hewan di dinding Ka'bah dan menggantung potongan daging hewan yang disembelih di hapus dan di larang juga. 

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an surah Al-Hajj ayat ke 37, sebagai berikut:

لَن يَنَالَ ٱللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَآؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ ٱلتَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا۟ ٱللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَىٰكُمْ ۗ وَبَشِّرِ ٱلْمُحْسِنِينَ 

Teks Latin:
"Lay yanālallāha luḥụmuhā wa lā dimā`uhā wa lākiy yanāluhut-taqwā mingkum, każālika sakhkharahā lakum litukabbirullāha 'alā mā hadākum, wa basysyiril-muḥsinīn" 

Artinya:
"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-Hajj :37]

Dari ayat tersebut di atas, Allah SWT dengan sangat jelas memberitahukan kepada mereka bahwa:  "bukan daging atau darah mereka yang mencapai Allah, tetapi taqwa (kesalehan) yang akan sampai kepada-Nya. 

Nabi Muhammad SAW juga melarang mengelilingi Ka'bah dalam kondisi telanjang dan membuat argumen bahwa orang pagan mengajukan untuk membenarkan ritual ini  ditanggapi dengan firman Allah SWT dalam surah Al-A'raaf ayat ke 32:  

قُلْ مَنْ حَرَّمَ زِينَةَ ٱللَّهِ ٱلَّتِىٓ أَخْرَجَ لِعِبَادِهِۦ وَٱلطَّيِّبَٰتِ مِنَ ٱلرِّزْقِ ۚ قُلْ هِىَ لِلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ فِى ٱلْحَيَوٰةِ ٱلدُّنْيَا خَالِصَةً يَوْمَ ٱلْقِيَٰمَةِ ۗ كَذَٰلِكَ نُفَصِّلُ ٱلْءَايَٰتِ لِقَوْمٍ يَعْلَمُونَ 

Teks Latin:
"Qul man ḥarrama zīnatallāhillatī akhraja li'ibādihī waṭ-ṭayyibāti minar-rizq, qul hiya lillażīna āmanụ fil-ḥayātid-dun-yā khāliṣatay yaumal-qiyāmah, każālika nufaṣṣilul-āyāti liqaumiy ya'lamụn"

Artinya:
Katakanlah: "Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?" Katakanlah: "Semuanya itu (disediakan) bagi orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia, khusus (untuk mereka saja) di hari kiamat". Demikianlah Kami menjelaskan ayat-ayat itu bagi orang-orang yang mengetahui." [QS. Al-A'raaf :32]

Jadi dengan kelahiran dan kedatangan Nabi Muhammad SAW ini, semua praktik ketidaktahuan dan kebodohan yang dibuat oleh bangsa Arab telah dihapuskan. Ritual ibadah Haji telah kembali pada kemurniannya sama seperti ketika Nabi Ibrahim melakukannya. 

Itulah uraian tentang Sejarah Ibadah Haji Sebelum Nabi Muhammad SAW. Semoga kita semua di panggil oleh Allah SWT untuk melaksanakan ibadah Haji ini. Temukan artikel - artikel menarik lainnya tentang agama Islam dengan mengunjungi blog saya www.santrikampung.com
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar