--> Skip to main content

Jika Tuhan Ada, Dimanakah Dia Tinggal? Bagaimana Wujud Tuhan? Simak Artikel Berikut Ini


Jika Tuhan Ada, Dimanakah Dia Tinggal? Bagaimana Wujud Tuhan?
image via freepik

Bagi orang muslim tentu sudah tidak ada lagi keragu-raguan atas keberadaan Allah SWT sebagai Tuhan Yang Maha Esa yang Maha pengasih dan Maha penyayang. Tuhan yang telah menciptakan seluruh alam semesta dengan segala isinya.

Namun bagi orang kafir dan orang atheis (tidak percaya adanya Tuhan), mereka selalu mengingkarinya, dan bahkan mereka balik bertanya, Jika Tuhan Ada, Dimanakah Dia Tinggal? Bagaimana Wujud Tuhan?

Untuk menjawab pertanyaan tersebut memang tidak mudah bagi kita yang memiliki ilmu pengetahuan yang sangat terbatas, dimana untuk menjelaskan tentang keberadaan dan wujud Tuhan membutuhkan tingkat keilmuwan yang sangat tinggi yang hanya di miliki oleh orang alim.

Namun demikian, saya teringat pada salah satu isi dan materi kajian ilmu yang di sampaikan oleh Buya Yahya dan juga Gus Baha (Kedua orang tokoh ulama yang sangat mumpuni keilmuwannya), dimana kedua orang ulama ini sangat gamblang menjelaskan tentang keberadaan Tuhan dan bagaimana wujud Tuhan serta dimana Tuhan berada.

Menurut pendapat dari Buya Yahya, untuk mengenal Tuhan bisa kita mulai dari diri kita sendiri yakni akal kita. Kita tentu percaya kepada adanya akal pada diri kita bukan? Jika kita percaya pada akal, lalu pertanyaannya adalah bagaimana wujudnya akal? Apakah ada diantara kita yang mengetahui bagaimana wujud akal manusia? Jika wujudnya akal saja kita tidak mampu melihatnya, lalu bagaimana kita bisa melihat wujudnya dzat yang menciptakan akal?

Sering kita melndengar bahwa seorang kafir yang kemudian masuk kedalam agama Islam setelah menemukan suatu penemuan yang bersumber pada Al-Qur'an yang notabene adalah wahyu dari Tuhan. Sebuah pertanyaan kembali muncul, apakah keimanan mereka didasarkan pada sesuatu yang merupakan sebuah fakta ilmiah atau karena mereka benar - benar beriman kepada Allah SWT? Jika dasar keimanan mereka adalah karena adanya dasar dan fakta ilmiah tentang sebuah penemuannya maka itu adalah hal yang salah dan keliru, karena dasar keimanan dalam Islam bukan di dasarkan kepada hal tersebut? Jika dasar keimanan di bangun atas dasar hasil kajian ilmiah, lalu apakah suatu hari jika ternyata kajian tersebut tidak sempurna lalu mereka keluar dari Islam kembali? Ini adalah sebuah hal yang harus di luruskan.

Lebih lanjut Buya Yahya mengatakan bahwa Allah SWT tidak tinggal di suatu tempat karena Allah adalah dzat yang tidak membutuhkan tempat. Sebagai contoh adalah ketika Nabi Musa AS, ingin bertemu dengan Allah SWT di bukit Tursina. Sesungguhnya itu adalah tempat nya Nabi Musa berada dan bukan tempat nya Allah SWT tinggal.

Sementara itu menurut pendapat Gus Baha, untuk mengetahui keberadaan Tuhan adalah dengan mempergunakan ilmu logika dan akal sehat. Beliau mengatakan bahwa, alam semesta yang sedemikian agung dengan segala keindahannya adalah sesuatu yang wujud (ada). Dan sesuatu yang wujud sudah pasti di buat oleh sesuatu yang wujud juga (yakni Allah SWT). 

Adalah sebuah hal yang mustahil ketika sesuatu yang wujud atau ada, di ciptakan dan tercipta dari sesuatu yang tidak wujud (ketiadaan). Teori orang kafir yang mengatakan bahwa alam semesta tercipta karena sebuah peristiwa besar di masa lampau denga teori - teori bing bang dan sebagainya itu adalah sebuah hal yang keliru. Bagaimana alam semesta ini tercipta begitu saja dari sesuatu ketiadaan dan kemudian menjadi ada.

Lebih sederhana lagi, beliau menganalogikan cara berpikir orang - orang awam di kampung yang ternyata sangat mudah memahami keberadaan Tuhan dengan logika berpikir yang benar. Orang kampung ketika di tanya, misalnya " Kamu, kan tidak melihat wujudnya Tuhan, lalu kenapa kamu percayaadanya Tuhan?". Ternyata jawaban mereka sangat sederhana dan masuk akal. "Jika ada kotoran kerbau maka sudah pasti ada kerbau yang lewat, jika ada bekas tapak kaki manusia maka pasti ada manusia yang lewat". Itu artinya adalah jika ada sesuatu pasti ada yang menyebabkan hal tersebut.

Artinya, jika ada bukti keberadaan alam semesta dan isinya maka sudah barang tentu ada dzat super yang telah menciptakannya, yaitu Allah SWT.

Jika Tuhan Ada, Dimanakah Dia Tinggal? Bagaimana Wujud Tuhan?

Lalu mengapa orang Islam jika di tanya mengenai keberadaan Tuhan selalu menunjuk kearah langit (atas)? Apakah Allah SWT berada di atas langit? 

Sesungguhnya Allah SWT tidak bertempat dan tidak membutuhkan tempat. Jika umat Islam menunjuk kearah langit (atas) untuk menunjukkan keberadaan Allah SWT, itu adalah sebagai wujud kemuliaan semata karena sesuatu yang berada di atas tentu lebih mulia daripada yang berada di bawah. 

Itulah pendapat dari dua orang ulama yang memiliki tingkat keilmuwan yang sangat tinggi dalam menjelaskan keberadaan Tuhan. 

Jika anak - anak kita  bertanya "Dimanakah Allah SWT berada?" maka kita sebagai orang tua harus menjawab bahwasannya Allah SWT itu berbeda dengan keberadaan makhluk-Nya. Hal tersebut sesuai dengan Firman Allah dalam surah As-Syuura ayat ke 11, yaitu:


فَاطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat. (Q.S. As-Syuura :11)

Kita sebagai orang tuab harus memberikan pengertian kepada anak - anak kita bahwa ia tidak boleh berpikir tentang keberadaan Allah SWT, karena berpikir tentang hal tersebut maka akan sangat mempengaruhi pikirannya pada khayalan tentang Allah SWT dalam bentuk atau gambar yang akan menyimpulkan bahwa Allah SWT itu serupa dengan makhluk ciptaan-Nya. Kita harus menanamkan pola berpikir yang benar dengan merenungi tanda-tanda kekuasaan Allah SWT yang agung, sehingga  akan membuat keyakinan dan imannya menjadi semakin kuat.

Tentang pertanyaan keberadaan Allah SWT, misalnya "dimana Allah berada" adalah bagian dari permasalahan aqidah dan keimanan. Sebagai seorang Muslim maka wajib untuk beriman bahwa Allah itu wujud (ada), dan makna Allah SWT ada adalah bahwa Dzatnya Allah tidak menerima sifat ketiadaan, karena wujud Allah itu ada dengan sendiri-Nya. Allah SWT tidak membutuhkan penyebab atau sesuatu yang menjadikan-Nya ada. Waktu ataupun tempat, sama sekali tidak memberikan pengaruh apapun dalam mewujudkan keberadaan Allah SWT.

Tempat, arah, dan waktu adalah termasuk dalam sesuatu yang bersifat hadits (baru). Maksudnya adalah ketika kita memberikan sifat pada suatu benda dengan arah, maka benda itu bergantung pada arah benda yang kita kehendaki. Contoh misalnya kita mengatakan bahwa langit itu berada di atas, maka langit akan berada di posisi atas jika dikaitkan dengan keberadaan manusia. Namun langit akan berada di bawah jika dikaitkan dengan lapisan langit yang berada di atasnya. Selama arah dan posisi itu sifatnya nisbi (bergantung) kepada sesuatu yang lain, dan hadits (baru), maka itu semua tidak pantas kita sematkan pada Dzat Allah SWT.

Setiap muslim mengimani bahwa Allah SWT bersifat qodim (dahulu). Arti dari kata dahulu bagi Allah adalah bahwa Allah SWT tidak diawali dengan sebuah proses awal kemunculan. Karena Dialah yang Maha Awal. 

Firman Allah SWT dalam surah Al-Hadid ayat ke 3, sebagai berikut:

هُوَ الْأَوَّلُ وَالْآخِرُ وَالظَّاهِرُ وَالْبَاطِنُ ۖ وَهُوَ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمٌ

Artinya:
Dialah Yang Awal dan Yang Akhir Yang Zhahir dan Yang Bathin; dan Dia Maha Mengetahui segala sesuatu. (Q.S. Al Hadid : 3)

Dalam sebuah haditsnya, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda : "antal awwalu falaisa qablaka syai" yang artinya : “Engkaulah yang Maha Awal, tidak ada sesuatu sebelum Engkau”. (HR. Muslim). Sifat Qidam (dahulu) nya Allah dengan sendirinya akan meniadakan sifat yang mengatakan bahwa Allah didahului oleh sesuatu yang lain.

Allah SWT juga memiliki sifat yang lain yakni mukholafatun lil khawaditsi (berbeda dengan mahluk_Nya). Artinya, Allah SWT berbeda dengan makhluk ciptaan-Nya. Sifat ini akan meniadakan sifat kejasmanian, kerohanian, dan keterbagian bagi Allah SWT.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Qur'an, berikut ini:

اطِرُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ ۚ جَعَلَ لَكُمْ مِنْ أَنْفُسِكُمْ أَزْوَاجًا وَمِنَ الْأَنْعَامِ أَزْوَاجًا ۖ يَذْرَؤُكُمْ فِيهِ ۚ لَيْسَ كَمِثْلِهِ شَيْءٌ ۖ وَهُوَ السَّمِيعُ الْبَصِيرُ

Artinya:
(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan-pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dialah yang Maha Mendengar dan Melihat(Q.S. as-Syuura : 11)

Selain itu Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Ikhlas ayat 1-4, untuk menjawab pertanyaan orang - orang musyrik kepada Nabi Muhammad SAW berkaitan dengan keberadaan Alllah SWT.


قُلْ هُوَ اللَّهُ أَحَدٌ (١) اللَّهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ  (٤

Artinya:
Katakanlah (wahai Muhammad), Dia-lah Allah yang Maha Esa. Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu. Dia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada seorang pun yang setara dengan-Nya. (Q.S. Al Ikhlas : 1-4)

Sesungguhnya setiap apapun yang dilahirkan itu pasti akan mengalami kematian. Dan yang mati akan diwarisi oleh para ahli warisnya. Sedangkan Allah SWT tidak mati dan tidak juga diwarisi. Nabi bersabda, "lam yakun lahu syabiih" yang artinya: “Allah itu tidak memiliki perumpamaan”. Sesungguhnya Allah SWT telah mensifati diri-Nya sendiri dengan sifat yang menolak adanya perumpamaan dan tidak sesuai dengan sifat-Nya yang mulia. 

Demikianlah uraian artikel tentang keberadaan Tuhan. Semoga bisa bermanfaat dan semakin menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar