--> Skip to main content

Memahami Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah


Memahami Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah

Pada artikel sebelumnya saya telah mengulas tentang bagaimana memahami substansi dakwah Rasulullah SAW di kota Mekkah. Bagi Anda yang belum membacanya silahkan membacanya terlebih dahulu.

Dan pada kesempatan kali ini, saya akan mengulas satu tema yang masih berkaitan dengan tema tersebut yaitu Memahami Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah. 

Seperti yang sudah di katakan sebelumnya bahwa tujuan dakwah Rasulullah SAW pada periode Mekkah adalah agar supaya masyarakat dan bangsa Arab mau meninggalkan sifat - sifat jahiliahnya dalam kehidupan mereka sehari - hari terutama  di bidang agama, moral, dan juga hukum.

Namun demikian perjalanan dakwah Rasulullah SAW di kota Mekkah ternyata tidak berjalan dengan mudah. Rasulullah SAW mengalami banyak sekali tantangan bukan hanya dari bangsa Arab secara umum namun juga dari kalangan kerabat Rasulullah sendiri.

Untuk itu kita perlu mengetahui bagaimana sebenarnya strategi dakwah yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di kota Mekkah ini, sehingga kita bisa mengambil hikmah dan pelajaran untuk diri kita sendiri.

Berikut ini adalah beberapa strategi dakwah Rasulullah SAW dalam menjalankan dakwahnya di kota Mekkah, sebagai berikut:

1. Melakukan Dakwah Secara Sembunyi-Sembunyi 

Metode dakwah ketika pada awal - awal menjalankan misi dakwahnya di kota Mekkah adalah dengan cara melakukan dakwah secara sembunyi - sembunyi. Metode dakwah ini di lakukan oleh Rasulullah selama kurang lebih 3-4 tahun lamanya.

Metode dakwah secara sembunyi-sembunyi ini, di lakukan oleh Rasulullah SAW terutama kepada kerabat, sahabat dan orang-orang yang berada di lingkungan sekitar beliau sendiri. Beberapa orang dari kerabat dan sahabat beliau  yang menyambut dan mengikuti seruan dakwah beliau tersebut antara lain:
  • Siti Khadijah binti Khuwailid (yang merupakan istri Rasulullah SAW)
  • Ali bin Abu Thalib (saudara sepupu Rasulullah SAW yang tinggal serumah dengannya, yang pada waktu itu baru berusia 10 tahun)
  • Zaid bin Haritsah (yang merupakan anak angkat Rasulullah SAW)
  • Abu Bakar Ash-Shiddiq (yang merupakan sahabat dekat Rasulullah SAW)
  • Ummu Aiman (yang merupakan pengasuh Rasulullah SAW pada waktu kecil)
Sahabat Rasulullah SAW yakni Abu Bakar Ash-Shiddiq, merupakan salah seorang saudagar kaya bangsa Arab kala itu, yang dihormati dan disegani oleh banyak orang, karena memiliki budi bahasa yang halus, memiliki ilmu pengetahuan yang luas, serta pandai bergaul ikut membantu dakwah Rasulullah SAW, dengan melakukan dakwah secara sembunyi-sembunyi.

Usaha dakwah yang dilakukan oleh sahabat Abu Bakar Ash-Shiddiq ini ternyata berhasil membuat beberapa orang sahabat dekatnya untuk masuk masuk Islam dan mengikuti seruan Rasulullah SAW. Diantara orang - orang tersebut antara lain :
  • Abdul Amar dari Bani Zuhrah (Abdul Amar memiliki arti hamba milik Amar). Karena ajaran Islam melarang adanya perbudakan, maka kemudian nama itu diganti oleh Rasulullah SAW menjadi Abdurrahman bin Auf, yang berarti hamba Allah SWT Yang Maha Pengasih.
  •  Abu Ubaidah bin Jarrah dan Bani Hari
  • Utsman bin Affan
  • Zubair bin Awam
  • Sa’ad bin Ahu Waqqas
  • Thalhah bin Ubaidillah
Mereka yang disebutkan diatas adalah orang-orang yang pertama masuk Islam, yang kemudian disebut sebagai Assabiqunal Awwalun (yakni pemeluk agama Islam generasi awal).

Salah satu alasan mengapa metode dakwah secara sembunyi - sembunyi ini di lakukan oleh Rasulullah SAW adalah karena beliau meyakini, bahwa masyarakat dan bangsa Arab saat itu masih sangat kuat dalam mempertahankan kepercayaan dan tradisi yang mereka kerjakan. 

2. Melakukan Dakwah Secara Terang-Terangan

Metode perjalanan dakwah Rasulullah SAW kemudian berubah dari metode dakwah sembunyi - sembunyi menjadi metode dakwah secara terang-terangan yang dimulai sejak tahun ke-4 dari masa Kenabian beliau.

Berdakwah secara terang - terangan ini adalah merupakan perintah dari Allah SWT yang di wahyukan kepada Rasulullah SAW. Allah SWT berfirman dalam surah As-Syu'ara ayat 214 - 216, yaitu sebagai berikut:

وَأَنذِرْ عَشِيرَتَكَ ٱلْأَقْرَبِينَ
وَٱخْفِضْ جَنَاحَكَ لِمَنِ ٱتَّبَعَكَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ
فَإِنْ عَصَوْكَ فَقُلْ إِنِّى بَرِىٓءٌ مِّمَّا تَعْمَلُونَ

Teks latin :

Wa anżir 'asyīratakal-aqrabīn
Wakhfiḍ janāḥaka limanittaba'aka minal-mu`minīn
Fa in 'aṣauka fa qul innī barī`um mimmā ta'malụn

Artinya:

Dan berilah peringatan kepada kerabat-kerabatmu yang terdekat
Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman
Jika mereka mendurhakaimu maka katakanlah: "Sesungguhnya aku tidak bertanggung jawab terhadap apa yang kamu kerjakan";

Dalam menjalankan metode dakwah secara terang - terangan ini, Rasulullah SAW juga memiliki beberapa tahapan, antara lain:  
  • Tahap pertama, Rasulullah SAW mengundang kerabat dan keturunan dari Bani Hasyim, untuk menghadiri jamuan makan dan mengajak mereka agar masuk Islam. Akan tetapi sebagian besar dari mereka menolak ajakan dan seruan Rasulullah SAW. Hanya ada  3 orang kerabat dari kalangan Bani Hasyim (yang sebenarnya sudah masuk Islam, akan tetapi merahasiakan keislamannya) yang pada waktu itu dengan tegas menyatakan keislamannya kepada Rasulullah SAW. Mereka adalah Ali bin Abu Thalib, Ja’far bin Abu Thalib, dan Zaid bin Haritsah.
  • Tahap kedua, Rasulullah SAW kemudian mengumpulkan para penduduk kota Mekkah, terutama mereka yang berada dan bertempat tinggal di sekitar Ka’bah untuk berkumpul di bukit Shafa, yang lokasinya berada tidak jauh dan Ka’bah tersebut. Kemudian Rasulullah SAW memberikan peringatan kepada semua yang hadir agar segera meninggalkan penyembahan terhadap berhala-berhala yang ada di sekitar Ka'bah dan hanya menyembah kepada Allah SWT. Menanggapi apa yang disampaikan dan diserukan oleh Rasulullah SAW tersebut, sebagin besar di antara mereka yang hadir menolaknya yang disertai dengan teriakan dan ejekan, namun ada juga kelompok yang hanya diam saja lalu pulang. Bahkan salah seorang paman Nabi sendiri yakni Abu Lahab, bukan hanya mengejek akan tetapi berteriak-teriak dan mengatakan bahwa Muhammad adalah orang gila, seraya ia berkata “Celakalah engkau Muhammad, untuk inikah engkau mengumpulkan kami?” 

Allah SWT mengabadikan kisah ini dalam Al-Qur'an sebagai balasan terhadap kutukan Abu Lahab yaitu Surah Al-Lahab ayat 1-5, sebagai berikut:


تَبَّتْ يَدَآ أَبِى لَهَبٍ وَتَبَّ 
 مَآ أَغْنَىٰ عَنْهُ مَالُهُۥ وَمَا كَسَبَ
سَيَصْلَىٰ نَارًا ذَاتَ لَهَبٍ
 وَٱمْرَأَتُهُۥ حَمَّالَةَ ٱلْحَطَبِ
   فِى جِيدِهَا حَبْلٌ مِّن مَّسَدٍۭ

Teks latin :

tabbat yadā abī lahabiw wa tabb
mā agnā 'an-hu māluhụ wa mā kasab
sayaṣlā nāran żāta lahab
wamra`atuh, ḥammālatal-ḥaṭab
fī jīdihā ḥablum mim masad

Artinya:

1. Binasalah kedua tangan Abu Lahab dan sesungguhnya dia akan binasa.
2. Tidaklah berfaedah kepadanya harta bendanya dan apa yang ia usahakan.
3. Kelak dia akan masuk ke dalam api yang bergejolak.
4. Dan (begitu pula) istrinya, pembawa kayu bakar.
5. Yang di lehernya ada tali dari sabut.

Pada periode dakwah secara terang-terangan ini ada dua orang yang memiliki posisi kuat dalam tradisi suku Quraisy yang menyatakan diri masuk Islam yaitu Hamzah bin Abdul Muthalib (yang merupakan paman Rasulullah SAW) dan Umar bin Khattab. Hamzah bin Abdul Muthalib menyatakan diri masuk Islam pada tahun ke-6 dari masa kenabian,  sedangkan Umar bin Khattab menyatakan diri masuk Islam tidak lama setelah sebagian kaum Muslimin berhijrah ke Habasyah atau Ethiopia pada tahun 615 M.

3. Melakukan Dakwah Kepada Penduduk Di Luar Kota Mekkah

Menurut catatan sejarah penduduk di luar kota Mekkah yang menyatakan diri masuk agama Islam antara lain :
  • Abu Zar Al-Giffari, yang merupakan seorang tokoh dan kaum Giffar, yang bertempat tinggal di sebelah barat laut kota Mekkah yang menyatakan diri masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW, yang kemudian diikuti pula oleh kaumnya.
  • Tufail bin Amr Ad-Dausi, yang merupakan seorang penyair terpandang dari kaum Daus yang bertempat tinggal di wilayah barat kota Mekkah, yang menyatakan dirinya masuk Islam dan kemudian juga diikuti oleh bapak, istri, keluarga, serta kaumnya.
  • Para penduduk Yatsrib (Madinah), yang datang ke Mekkah untuk berziarah juga membuahkan hasil, dimana para penduduk Yatsrib, secara bergelombang kemudian menyatakan diri masuk Islam di hadapan Rasulullah SAW. Gelombang pertama dari suku Aus dan Khazraj sebanyak 6 orang. Kemudian gelombang kedua sebanyak 13 orang dan gelombang ketiga tahun berikutnya makin banyak lagi yang menyatakan diri masuk agama Islam di hadapan Rasulullah SAW.

Di antara penduduk yatsrib (Madinah) yang menyatakan diri masuk Islam adalah Abu Jabir Abdullah bin Amr, yang merupakan pimpinan dari kaum Salamah.

Pada pertemuan umat Islam Yatsrib dengan Rasulullah SAW yang ketiga kalinya ini, menghasilkan Bai’atul Aqabah (pada masa 13 tahun kenabian). Isi dari Bai’atul Aqabah  tersebut adalah pernyataan umat Islam Yatsrib yang menyatakan bahwa mereka akan melindungi dan membela Rasulullah SAW. Walaupun untuk itu mereka harus mengorbankan tenaga, harta benda, bahkan jiwa mereka. 

Selain itu, mereka juga memohon kepada Rasulullah SAW dan para pengikutnya untuk berhijrah ke Yatsrib. Kemudian Rasulullah dan para sahabat yang sudah masuk Islam di kota Mekkah berhijrah ke Yatsrib secara diam-diam dan sedikit demi sedikit, sehingga dalam waktu dua bulan sebanyak 150 orang umat Islam Mekah telah berhijrah ke Yatsrib (Madinah).

Sementara para sahabat telah berangsur - angsur berhijrah ke yatsrib, Rasulullah SAW, Abu Bakar Ash-Shiddiq, dan Ali bin Abu Thalib masih tetap tinggal di Mekkah, menunggu perintah dari Allah SWT untuk berhijrah. 

Setelah datangnya perintah untuk berhijrah dari Allah SWT, kemudian Rasulullah SAW berhijrah bersama dengan Abu Bakar Ash-Shiddiq, meninggalkan kota Mekkah menuju Yatsrib. Peristiwa hijrahnya Rasulullah SAW tersebut terjadi pada awal bulan Rabiul Awal tahun pertama hijrah (622 M).

Sementara itu Ali bin Abu Thalib, tidak ikut berhijrah bersama Rasulullah SAW, karena beliau disuruh oleh Rasulullah SAW untuk mengembalikan barang-barang orang lain yang dititipkan kepadanya. Setelah perintah Rasulullah SAW tersebut dilaksanakan, maka kemudian Ali bin Abu Thalib menvusul Rasulullah SAW berhijrah ke Yatsrib.

Demikianlah artikel tentang bagaimana Memahami Strategi Dakwah Rasulullah SAW Periode Mekkah. Untuk artikel selanjutnya akan  saya lanjutkan dengan pembahasan tentang perjalanan dakwah Rasulullah SAW di kota Yatsrib (Madinah). Semoga artikel ini bermanfaat dan berguna untuk kita semua.
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar