--> Skip to main content

6 (Enam) Keutamaan Shalat Sunah-Salah Satunya Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajat Kita


6 (Enam) Keutamaan Shalat Sunah-Salah Satunya Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajat Kita
image : flickr.com

Dalam Agama Islam, selain ibadah yang sifatnya wajib juga terdapat ibdah - ibadah lain yang sifatnya sunah. Misalnya dalam ibadah shalat, dimana umat muslim di wajibkan untuk mengerjakan shalat fardlu selama sehari semalam sebanyak 5 waktu (17 rekaat) yaitu Shalat Isya, Shubuh, Dhuhur, Ashar dan Magrib, maka terdapat pula ibadah shalat sunah yang jumlahnya lumayan banyak diantaranya shalat dhuha, shalat sunah rawatib, shalat gerhana, shalat istisqa' dan sebagainya. Shalat sunah tersebut memuliki keutamaan dan fadhilahnya masing - masing.

Salah satu manfaat dari shalat sunah adalah untuk menutupi kekurangan ibadah shalat wajib kita. Diantara kita tidak ada yang merasa yakin bahwa ibadah shalat fardlu kita pasti di terima oleh Allah SWT, oleh karena itu maka untuk melengkapinya kita di anjurkan untuk mengerjakan shalat - shalat sunah.

Berikut ini adalah fadhilah dan manfaat dari shalat sunah, diantaranya :

1. Shalat Sunah Berfungsi Untuk Menutupi Kekurangan Pada Shalat Wajib

Dalam sebuah hadist Rasulullah SAW yang di riwayatkan oleh  Abu Daud dan Ibnu Majah, dimana Abu Hurairah telah berkata bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

« إِنَّ أَوَّلَ مَا يُحَاسَبُ النَّاسُ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مِنْ أَعْمَالِهِمُ الصَّلاَةُ قَالَ يَقُولُ رَبُّنَا جَلَّ وَعَزَّ لِمَلاَئِكَتِهِ وَهُوَ أَعْلَمُ انْظُرُوا فِى صَلاَةِ عَبْدِى أَتَمَّهَا أَمْ نَقَصَهَا فَإِنْ كَانَتْ تَامَّةً كُتِبَتْ لَهُ تَامَّةً وَإِنْ كَانَ انْتَقَصَ مِنْهَا شَيْئًا قَالَ انْظُرُوا هَلْ لِعَبْدِى مِنْ تَطَوُّعٍ فَإِنْ كَانَ لَهُ تَطَوُّعٌ قَالَ أَتِمُّوا لِعَبْدِى فَرِيضَتَهُ مِنْ تَطَوُّعِهِ ثُمَّ تُؤْخَذُ الأَعْمَالُ عَلَى ذَاكُمْ ».

Artinya :
“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab pada manusia di hari kiamat nanti adalah shalat. Allah ‘azza wa jalla berkata kepada malaikat-Nya dan Dia-lah yang lebih tahu, “Lihatlah pada shalat hamba-Ku. Apakah shalatnya sempurna ataukah tidak? Jika shalatnya sempurna, maka akan dicatat baginya pahala yang sempurna. Namun jika dalam shalatnya ada sedikit kekurangan, maka Allah berfirman: Lihatlah, apakah hamba-Ku memiliki amalan sunnah. Jika hamba-Ku memiliki amalan sunnah, Allah berfirman: sempurnakanlah kekurangan yang ada pada amalan wajib dengan amalan sunnahnya.” Kemudian amalan lainnya akan diperlakukan seperti ini.” (HR. Abu Daud no. 864, Ibnu Majah no. 1426)

2. Akan Di Hapuskan Dosa Dan Ditinggikan Derajat Kita

Dalam sebuah riwayat adalah Ma’dan bin Abi Tholhah Al Ya’mariy, ia berkata, “Aku pernah bertemu Tsauban (bekas budak Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam), lalu aku berkata padanya, "Beritahukanlah padaku suatu amalan yang karenanya Allah memasukkanku ke dalam surga". Ketika ditanya hal tersebut ternyata Tsauban malah terdiam.

Kemudian Tsauban kembali ditanya kedua kalinya, namun ia pun masih terdiam. Sampai dengan pertanyaan yang ketiga kalinya, lalu Tsauban berkata, "Aku pernah menanyakan hal yang ditanyakan tadi pada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, Beliau bersabda :

عَلَيْكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ لِلَّهِ فَإِنَّكَ لاَ تَسْجُدُ لِلَّهِ سَجْدَةً إِلاَّ رَفَعَكَ اللَّهُ بِهَا دَرَجَةً وَحَطَّ عَنْكَ بِهَا خَطِيئَةً

Artinya :
“Hendaklah engkau memperbanyak sujud (perbanyak shalat) kepada Allah. Karena tidaklah engkau memperbanyak sujud karena Allah melainkan Allah akan meninggikan derajatmu dan menghapuskan dosamu’.” Lalu Ma’dan berkata, “Aku pun pernah bertemu Abu Darda’ dan bertanya hal yang sama. Lalu sahabat Abu Darda’ menjawab sebagaimana yang dijawab oleh Tsauban padaku.” (HR. Muslim no. 488).

3. Kita Akan Dekat Dengan Rasulullah SAW Kelak Di Surga

Dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Imam Muslim, dari Rabiah bin Ka’ab Al-Aslami Ra, dia berkata :

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ فَقَالَ لِي سَلْ فَقُلْتُ أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ قَالَ أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ قُلْتُ هُوَ ذَاكَ قَالَ فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُودِ

Artinya : 
“Saya pernah bermalam bersama Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, lalu aku membawakan air wudhunya dan air untuk hajatnya. Maka beliau berkata kepadaku, “Mintalah kepadaku.” Maka aku berkata, “Aku hanya meminta agar aku bisa menjadi teman dekatmu di surga.” Beliau bertanya lagi, “Adakah permintaan yang lain?” Aku menjawab, “Tidak, itu saja.” Maka beliau menjawab, “Bantulah aku untuk mewujudkan keinginanmu dengan banyak melakukan sujud (memperbanyak shalat).” (HR. Muslim no. 489)

4. Shalat Adalah Sebaik-baik Amalan, Termasuk Shalat Sunah 

Dalam sebuah hadist yang di riwayatkan oleh Ibu Majah dan Imam Ahmad, dari Tsauban, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

اسْتَقِيمُوا وَلَنْ تُحْصُوا وَاعْلَمُوا أَنَّ خَيْرَ أَعْمَالِكُمُ الصَّلاَةُ وَلاَ يُحَافِظُ عَلَى الْوُضُوءِ إِلاَّ مُؤْمِنٌ

Artinya :
“Beristiqamahlah kalian dan sekali-kali kalian tidak dapat istiqomah dengan sempurna. Ketahuilah, sesungguhnya amalan kalian yang paling utama adalah shalat. Tidak ada yang menjaga wudhu melainkan ia adalah seorang mukmin.” (HR. Ibnu Majah no. 277 dan Ahmad 5: 276)

5. Untuk Menggapai Wali Allah 

Bagi setiap orang Islam yang rajin mengamalkan amalan sunnah secara umum, maka ia akan menjadi wali Allah SWT yang istimewa, termasuk dalam hal ini adalah amalan shalat sunah. Saipakah yang dimaksud dengan wali Allah itu ?

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman :

أَلَا إِنَّ أَوْلِيَاءَ اللَّهِ لَا خَوْفٌ عَلَيْهِمْ وَلَا هُمْ يَحْزَنُونَ (62) الَّذِينَ آَمَنُوا وَكَانُوا يَتَّقُونَ 

Artinya :
“Ingatlah, sesungguhnya wali-wali Allah itu, tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan tidak (pula) mereka bersedih hati. (Yaitu) orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.” (QS. Yunus: 62-63)

Ibnu Taimiyah rahimahullah pernah mengatakan :

فَكُلُّ مَنْ كَانَ مُؤْمِنًا تَقِيًّا كَانَ لِلَّهِ وَلِيًّا

Artinya :
“Setiap orang mukmin (beriman) dan bertakwa, maka dialah wali Allah.” (Majmu’ Al Fatawa, 2: 224).

Syarat disebut wali Allah adalah beriman dan bertakwa. Jadi ketika orang-orang yang disebut wali malah orang yang tidak shalat dan gemar maksiat, maka itu sejatinya bukanlah seorang wali.

Perlu diketahui bahwa wali Allah ada dua macam:
  • As Saabiquun Al Muqorrobun (wali Allah terdepan).
  • Al Abror Ash-habul yamin (wali Allah pertengahan).
Yang di sebut dengan As saabiquun al muqorrobun adalah hamba Allah yang selalu mendekatkan diri kepada Allah SWT dengan amalan sunnah di samping melakukan ibadah yang wajib serta dia meninggalkan yang haram sekaligus yang makruh.

Sedangkan yang di sebut dengan Al Abror ash-habul yamin adalah hamba Allah yang hanya mendekatkan diri pada Allah SWT dengan amalan yang wajib dan meninggalkan yang haram, ia tidak membebani dirinya dengan amalan sunnah dan tidak menahan diri dari berlebihan dalam yang mubah.

Kedua golongan inilah yang disebutkan dalam firman Allah Ta’ala dalam surah Al-Waqiah, yaitu :

إِذَا وَقَعَتِ الْوَاقِعَةُ (1) لَيْسَ لِوَقْعَتِهَا كَاذِبَةٌ (2) خَافِضَةٌ رَافِعَةٌ (3) إِذَا رُجَّتِ الْأَرْضُ رَجًّا (4) وَبُسَّتِ الْجِبَالُ بَسًّا (5) فَكَانَتْ هَبَاءً مُنْبَثًّا (6) وَكُنْتُمْ أَزْوَاجًا ثَلَاثَةً (7) فَأَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَيْمَنَةِ (8) وَأَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ مَا أَصْحَابُ الْمَشْأَمَةِ (9) وَالسَّابِقُونَ السَّابِقُونَ (10) أُولَئِكَ الْمُقَرَّبُونَ (11) فِي جَنَّاتِ النَّعِيمِ (12) ثُلَّةٌ مِنَ الْأَوَّلِينَ (13) وَقَلِيلٌ مِنَ الْآَخِرِينَ (14)

Artinya :
“Apabila terjadi hari kiamat, tidak seorangpun dapat berdusta tentang kejadiannya. (Kejadian itu) merendahkan (satu golongan) dan meninggikan (golongan yang lain), apabila bumi digoncangkan sedahsyat-dahsyatnya, dan gunung-gunung dihancur luluhkan seluluh-luluhnya, maka jadilah ia debu yang beterbangan, dan kamu menjadi tiga golongan. Yaitu golongan kanan. Alangkah mulianya golongan kanan itu. Dan golongan kiri. Alangkah sengsaranya golongan kiri itu. Dan orang-orang yang beriman paling dahulu. Mereka itulah yang didekatkan kepada Allah. Berada dalam jannah kenikmatan. Segolongan besar dari orang-orang yang terdahulu, dan segolongan kecil dari orang-orang yang kemudian.” (QS. Al Waqi’ah: 1-14)

6. Allah Akan Memberikan Petunjuk (Baik pendengaran, penglihatan, kaki dan tangan, serta doanya pun mustajab)

Dalam sebuah hadist yang di riwayatakan oleh Bukhari, dari Abu Hurairah, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda :

إِنَّ اللَّهَ قَالَ مَنْ عَادَى لِى وَلِيًّا فَقَدْ آذَنْتُهُ بِالْحَرْبِ ، وَمَا تَقَرَّبَ إِلَىَّ عَبْدِى بِشَىْءٍ أَحَبَّ إِلَىَّ مِمَّا افْتَرَضْتُ عَلَيْهِ ، وَمَا يَزَالُ عَبْدِى يَتَقَرَّبُ إِلَىَّ بِالنَّوَافِلِ حَتَّى أُحِبَّهُ ، فَإِذَا أَحْبَبْتُهُ كُنْتُ سَمْعَهُ الَّذِى يَسْمَعُ بِهِ ، وَبَصَرَهُ الَّذِى يُبْصِرُ بِهِ ، وَيَدَهُ الَّتِى يَبْطُشُ بِهَا وَرِجْلَهُ الَّتِى يَمْشِى بِهَا ، وَإِنْ سَأَلَنِى لأُعْطِيَنَّهُ ، وَلَئِنِ اسْتَعَاذَنِى لأُعِيذَنَّهُ

Artinya :
“Allah Ta’ala berfirman: Barangsiapa memerangi wali (kekasih)-Ku, maka Aku akan memeranginya. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan wajib yang Kucintai. Hamba-Ku senantiasa mendekatkan diri pada-Ku dengan amalan-amalan sunnah sehingga Aku mencintainya. Jika Aku telah mencintainya, maka Aku akan memberi petunjuk pada pendengaran yang ia gunakan untuk mendengar, memberi petunjuk pada penglihatannya yang ia gunakan untuk melihat, memberi petunjuk pada tangannya yang ia gunakan untuk memegang, memberi petunjuk pada kakinya yang ia gunakan untuk berjalan. Jika ia memohon sesuatu kepada-Ku, pasti Aku mengabulkannya dan jika ia memohon perlindungan, pasti Aku akan melindunginya.” (HR. Bukhari no. 2506)

Demikianlah artikel tentang 6 (Enam) Keutamaan Shalat Sunah-Salah Satunya Dihapuskan dosa dan ditinggikan derajat Kita. Semoga kita termasuk kedalam golongan orang - orang yang senantiasa bertaqwa kepada Allah SWT.

referensi : faisalchoir.blogspot.com
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar