Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Korelasi Sosial Ibadah Puasa dan Zakat

Korelasi Sosial Ibadah Puasa dan Zakat
credit:[email protected]_erizal

Puasa dan zakat, dua ibadah dalam ajaran Islam yang memiliki kedudukan penting. Puasa merupakan ibadah diri dengan menahan dan mengontrol keinginan-keinginan manusia sampai batas waktu tertentu. 

Zakat, ibadah amaliah yang bersifat sosial dengan ukuran yang telah diatur dalam Islam.

Zakat dalam pengertian sederhana, bermakna memberikan bantuan dari bagian harta dengan jumlah dan aturan kepada orang yang membutuhkan. 

Sedangkan puasa, amalan positif dalam pelatihan jiwa dan pengontrolan ajakan hawa nafsu. Keduanya merupakan proses pendekatan diri hamba kepada Allah SWT.

Ibadah Umat Terdahulu

Perintah puasa dan zakat telah lama dikenal dalam ibadah-ibadah agama terdahulu. Agama yang telah diturunkan jauh sebelum Nabi Muhammad datang diutus kepada umat manusia. 

Agama Islam sendiri merupakan pelengkap dan pengoreksi jalan dan syariat Allah SWT yang telah diturunkan melalui nabi dan rasul.

Dalam Al-Quran (QS. Al-Anbiya,21:73), Allah memerintahkan kepada Nabi Ibrahim as., Nabi Ishaq as., Nabi Ya’qub as. untuk memimpin manusia dalam jalan Allah, selalu berbuat kebaikan dan kebenaran, tetap melaksanakan shalat dan zakat.

وَجَعَلْنَاهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا وَأَوْحَيْنَا إِلَيْهِمْ فِعْلَ الْخَيْرَاتِ وَإِقَامَ الصَّلَاةِ وَإِيتَاءَ الزَّكَاةِ ۖ وَكَانُوا لَنَا عَابِدِينَ

Artinya:

"Kami telah menjadikan mereka itu sebagai pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami dan telah Kami wahyukan kepada, mereka mengerjakan kebajikan, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan hanya kepada Kamilah mereka selalu menyembah." [QS. Al-Anbiya : 73]

Dalam surat Al-Baqarah (2:83), Allah SWT mengadakan ikatan perjanjian melalui utusan-Nya agar Bani Israil beribadah kepada-Nya tanpa disertai kemusyrikan. 

Selalu melaksanakan kebaikan kepada keluarga, sanak kerabat, anak-anak yatim dan kaum miskin. Menyerukan kepada Bani Israil agar selalu menegakkan shalat dan melaksanakan zakat dari harta benda mereka.

وَإِذْ أَخَذْنَا مِيثَاقَ بَنِي إِسْرَائِيلَ لَا تَعْبُدُونَ إِلَّا اللَّهَ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا وَذِي الْقُرْبَىٰ وَالْيَتَامَىٰ وَالْمَسَاكِينِ وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا وَأَقِيمُوا الصَّلَاةَ وَآتُوا الزَّكَاةَ ثُمَّ تَوَلَّيْتُمْ إِلَّا قَلِيلًا مِنْكُمْ وَأَنْتُمْ مُعْرِضُونَ

Artinya:

"Dan (ingatlah), ketika Kami mengambil janji dari Bani Israil (yaitu): Janganlah kamu menyembah selain Allah, dan berbuat kebaikanlah kepada ibu bapa, kaum kerabat, anak-anak yatim, dan orang-orang miskin, serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia, dirikanlah shalat dan tunaikanlah zakat. Kemudian kamu tidak memenuhi janji itu, kecuali sebahagian kecil daripada kamu, dan kamu selalu berpaling." [QS. Al-Baqarah : 83]

Sebagaimana seruan zakat dalam agama terdahulu, ibadah puasa telah dikenal oleh umat-umat masa lalu yang dikisahkan dalam sejarah dan tersurat dalam Al-Quran. 

Kemudian bentuk puasa mengalami banyak perubahan dari tata cara dan tujuan semula. Maka lahirlah berbagai ragam bentuk puasa dalam agama-agama manusia.

Dalam surat Al-Baqarah (2:183), kewajiban puasa kepada umat Nabi Muhammad merupakan ibadah yang telah diwajibkan pula kepada umat-umat sebelum Rasulullah Saw. 

Puasa dalam Islam yang diwajibkan pada umat Muhammad memiliki keistimewaan dan aturan yang telah diajarkan oleh Nabi sendiri.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya:

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa." [QS. Al-Baqarah : 183]

Korelasi Sosial

Zakat dalam ajaran Islam tidaklah sebatas bantuan dan kebaikan hati. Dia merupakan aturan perundang-undangan yang telah diberlakukan secara terorganisir dalam satu kesatuan masyarakat Islami. 

Undang-undangan zakat telah dimulai ketika masa Nabi berdakwah di Madinah. Membina masyarakat Islam, baik secara individu, sosial, dan negara.

Puasa dan zakat merupakan dua pilar dari pilar-pilar ajaran Islam. Termasuk dalam tiang keimanan dan ketakwaan kepada Tuhan. 

Bersama kalimat syahadat dan shalat, menjadi salah satu indikator keislaman seseorang. Maka pelaksanaannya membuat seseorang memiliki hak-hak seorang Muslim dalam ikatan persaudaraan umat Islam.

Kewajiban puasa bertujuan melatih manusia dari dominasi syahwat dan nafsu rendah kebinatangan. Membebaskan diri dari penjara jasmani dan memperkuat jiwa ruhani. 

Pendidikan untuk membina dorongan kuat kemauan dan memperkokoh kesabaran. Salah satu rahasia dari puasa, menumbuhkan jiwa dan perasaan sosial. Ikut merasakan kesengsaraan dan kelaparan orang lain.

Kemudian zakat dalam Islam secara nyata memberikan jalan kemudahan untuk memperbaiki kesengsaraan dan ketidakmampuan golongan manusia lain. 

Yakni kalangan manusia yang lemah secara ekonomi. Maka zakat menjadi salah satu aspek sistem ekonomi yang diajarkan dalam Islam.

Islam menetapkan ragam macam harta benda yang dimiliki manusia. Harta kekayaan yang diatur ukuran dan batasnya sebagai harta wajib zakat. 

Kewajiban zakat hanya bagi harta kekayaan yang telah melebihi dari batas minimal pungutan zakat. 

Ditujukan pungutan zakat hanya kepada harta benda kekayaan seseorang yang termasuk batas nisab dan melebihi dari kebutuhan hidup yang pokok.

Zakat dan puasa, dua ibadah dalam satu kesatuan ibadah Islam. Bentuk kepatuhan yang bersumber dari keshalehan personal untuk dinyatakan sebagai keshalehan sosial.

Wallahu a’lam.

Posting Komentar untuk " Korelasi Sosial Ibadah Puasa dan Zakat"