Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia

 

Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia

Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia

Apa saja peninggalan kerajaan - kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara)? Adakah salah satunya yang Anda ketahui? Agama Islam masuk ke Indonesia diperkirakan pada abad ke-7 Masehi. 

Ini artinya, tentu ada peninggalan kerajaan - kerajaan Islam tersebut di Indonesia yang bisa dilihat saat ini. Selain itu, dengan adanya peninggalan kerajaan - kerajaan Islam tersebut, membuktikan bahwa agama Islam bisa diterima oleh masyarakat Indonesia pada saat itu.

Meskipun agama Islam masuk ke Indonesia di awal abad ke-7 Masehi, kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia (Nusantara pada saat itu) baru terbentuk pada abad ke-13. 

Sejarah mencatat, bahwa agama Islam masuk ke Indonesia tidak lepas dari peran serta para pedagang yang berasal dari tanah Arab, Persia, India dan Cina.

Awal mula kemunculan kerajaan - kerajaan Islam tidak lepas dari peran para raja saat itu. Bila seorang raja sudah masuk Islam, maka rakyat di kerajaannya akan mengikutinya . 

Karena sudah menjadi kesepakatan dan kita ketahui bahwa rakyat sangat patuh dan taat kepada rajanya. Dari banyaknya raja masuk Islam, muncullah kerajaan - kerajaan Islam hingga akhirnya banyak meninggalkan warisan yang tak luput dari nuansa keislaman.

Berikut ini adalah beberapa Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia, antara lain:

1. Bangunan Masjid

Masjid adalah bagian paling utama dari peninggalan kerajaan - kerajaan Islam di Indonesia. Ada beberapa masjid yang kini menjadi saksi sejarah bahwa kerajaan - kerajaan Islam memang diterima dan meninggalkan warisan yang menjadi kenangan.

Sebagai contoh misalnya masjid Demak. Mesjid ini terdapat di Kabupaten Demak, provinsi Jawa Tengah. Pembangunan masjid ini atas dasar perintah dari Sunan Kalijaga yang merupakan salah satu tokoh Wali Songo yang berhasil menyebarkan Islam di Pulau Jawa. 

Keunikan dan keistimewaan Masjid Demak ini adalah tidak mempunyai menara dan salah satu tiangnya berasal dari susunan tatal.

Meski tiang tatal tersebut sudah diganti pada tahun 1080 karena terjadi perenovasian, potongan tatal tersebut, kini, masih tersimpan dengan baik di bangsal belakang mesjid.

Ada perbedaan antara masjid sekarang dengan masjid peninggalan kerajaan Demak. Masjid peninggalan kerajaan atapnya beratap tumpang bersusun. 

Kian ke atas atapnya kian mengecil. Jumlahnya pun biasanya ganjil, yaitu tiga atau lima. Atap yang paling atas bentuknya adalah limas. Di dalam mesjid ada empat tiang yang menjadi taing penyangga atap tumpang.

Bila berjalan ke arah barat maka kita akan menemukan mihrab. Di sebelahnya terdapat mimbar. Menara terletak di halaman mesjid. Menara dibuat bukan saja untuk keindahan masjid, tapi dahulunya menara difungsikan untuk tempat para muadzzin memanggil para jamaah lewat adzan yang dikumandangkan. Sebelum adzan berkumandang, biasanya bedug lebih dulu ditabuh.

Berikut ini adalah ciri - ciri masjid yang merupakan peninggalan kerajaan Islam, antara lain:

  • Biasanya terdapat lapangan atau seperti alun-alun di sekitar mesjid.
  • Masjid biasanya dibangun di tengah-tengah kota atau dekat dengan istana kerajaan.
  • Kanan dan kiri masjid terdapat menara yang berfungsi sebagai tempat muadzzin memanggil orang shalat berjamaah atau menandakan masuknya waktu shalat.
  • Atap masjid berbentuk tumpeng.
  • Pagar tembok mengelilingi halaman masjid.
  • Denah masjid bentuknya bujur sangkar.

Ciri-ciri masjid milik kerajaan - kerajaan Islam yang disebutkan di atas adalah dari pengamatan sekilas yang dilakukan terhadap Mesjid Demak, Mesjid agung Cirebon, Mesjid agung Banten, dan Mesjid Menara Kudus.

Ada juga masjid peninggalan kerajaan yang mengadopsi gaya lain, seperti Masjid Sumenep yang mengadopsi gaya Portugis, Masjid Baiturrahman Aceh yang mengadopsi gaya India dan Eropa.

2. Seni Kaligrafi

Kaligrafi adalah tulisan Arab indah yang biasanya disesuaikan dengan kaidah-kaidah seni kaligrafi. Biasanya kaligrafi ini juga terdapat di mesjid-mesjid atau di lembaga keislaman.

Kaligrafi berasal dari Arab, namun telah dipakai oleh masyarakat Indonesia. Masuknya seni kaligrafi ke Indonesia tak luput dari munculnya kerajaan-kerajaan Islam di Indonesia. Kaligrafi menjadi salah satu bukti peninggalan dari masa kejayaan Islam di kerajaan Islam.

3. Karya Sastra

Karya sastra yang bernuansa Arab juga merupakan bagian dari peninggalan kerajaan yang berbasis Islam. 

Ada empat jenis karya sastra yang bercorakkan keislamaan, yaitu:

  • Suluk
  • Syair
  • Hikayat
  • Babad

Karya sastra yang menjadi bukti adanya kerajaan - kerajaan Islam di negeri ini terdapat di Pulau Jawa dan Sumatera. Kesusastraan Islam tersebut masih sering terdengar namanya hingga kini. 

Suluk dan Hikayat yang dikenal sebagai karya sastra ada yang ditulis dengan menggunakan bahasa melayu dan ada pula yang ditulis menggunakan bahasa Arab. 

Kehadiran suluk dan hikayat di masa kerajaan Islam adalah untuk mempermudah masyarakat menyerap ajaran agama Islam.

Suluk-suluk yang terkenal adalah syair si Burung Pingai karya Hamzah Fansuri, Syair Gurindam Dua Belas karya Ali Haji dan Syair Abdul Muluk. 

Isi syair Gurindam Dua Belas adalah nasihat untuk para pemimpin supaya memimpin dengan penuh bijaksana dan juga beberapa nasihat untuk rakyat agar saling menghormati antara sesama. Sedangkan isi syair Abdul Muluk adalah menceritakan tentang Raja Abdul Muluk.

Babad dengan hikayah sebenarnya tidak ada perbedaan. Namun di Pulau Jawa, Hikayat selalu disebut dengan nama Babad. 

Isi hikayat atau Babad adalah cerita atau dongeng yang isinya mengupas tentang kejadian sejarah kerajaan. Cerita tersebut dimulai dari cerita kerajaan Hindu-Budha sampai kerajaan Islam.

Namun berbeda dengan hikayat di Aceh. Hikayat dinamakan dengan Bustan As-Salatin yang isinya adalah tentang cerita-cerita para Nabi dan tentang penciptaan langit dan bumi. Hikayat ini ditulis oleh  Nuruddin al-Raniri.

4. Batu Nisan

Seperti yang telah disebutkan sebelumnya bahwa seni kaligrafi juga dituliskan di batu nisan. Batu nisan sendiri juga bagian dari peninggalan kerajaan Islam. Bahkan batu nisan tersebut dimulai pada masa kerajaan Islam sebagai tanda tempat persemayaman seseorang yang telah meninggal dunia.

Bentuk batu nisan sendiri bermacam-macam. Namun pada umumnya selalu dihiasi dengan tulisan kaligrafi.

5. Tradisi Islam

Selain beberapa bukti fisik peninggalan kerajaan yang dipimpin oleh raja Islam, ada juga tradisi yang merupakan peninggalan dari kerajaan Islam di Indonesia. Paling tidak ada tiga tradisi yang masih dilakoni masyarakat hingga saat ini.

Ketiga jenis tradisi Islam tersebut adalah:

Ziarah

Ziarah adalah bagian dari tradisi peninggalan kerajaan yang dipimpin oleh raja Islam. Meskipun ada sebagian daerah tradisi ziarah hanya dilakukan di saat menjelang datangnya bulan Ramadhan atau sesudah hari raya idul fitri, tetap saja ziarah adalah bagian dari tradisi peninggalan kerajaan Islam.

Sedekah

Sedekah juga bagian dari tradisi peninggalan kerajaan, baik sedekah tersebut dilakukan di saat anak lahiran, ada yang meninggal atau sekadar acara selamatan. Namun tetap saja sedekah menjadi bagian dari tradisi peninggalan sejarah kerajaan islam

Sekaten

Acara sekaten atau maulid Nabi SAW yang diadakan di Pulau Jawa adalah bagian dari tradisi peninggalan sejarah kerajaan Islam. Hingga saat ini acara ini masih tetap berlangsung dan di jaga kelestariannya.

Setelah membaca ulasan diatas, kita jadi tahu bahwa ternyata ada banyak peninggalan kerajaan Islam di Indonesia.

Jadi, ketika ada pertanyaan tentang apa saja peninggalan kerajaan Islam di Indonesia, maka Anda tidak perlu lagi bingung menjelaskan. Karena, menurut catatan sejarah, peninggalan kerajaan Islam cukup banyak. 

Mulai dari yang berbentuk, seperti masjid, kaligrafi hingga sesuatu yang tidak berbentuk seperti kebudayaan atau acara-acara keagamaan.

Demikianlah ulasan artikel terkait dengan  Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia. Semoga ulasan ini bermanfaat untuk Anda.

Post a Comment for " Peninggalan Kerajaan - Kerajaan Islam di Indonesia"