Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Pengertian Qanaah dan Manfaatnya

 

Syukur Kepada Allah
credit:freepik

Qanaah merupakan salah satu sikap terpuji dalam agama Islam. Setiap muslim hendaknya memahami dan berusaha untuk memiliki sifat qanaah agar hidupnya tenang dan bahagia.

Definisi Dan Pengertian Qanaah

Arti Qanaah secara umum adalah suatu sikap yang rela menerima dan selalu merasa cukup atas hasil dari apa yang sudah diusahakan semaksimal mungkin serta menjauhkan diri dari perasaan tidak puas dan selalu merasa kurang. 

Seseorang dikatakan memiliki sifat qanaah jika dia memiliki pendirian dengan apa yang telah diperoleh atau bersyukur atas apa yang ada pada dirinya, karena menyadari pada hakekatnya semua adalah kehendak Allah SWT.

Arti Qanaah Secara Etimologis dan Istilah

Secara bahasa (Etimologis) kata qanaah mempunyai makna berasa cukup atau ikhlas. Qanaah merupakan sebuah kata yang berasal dari bahasa arab yaitu dari kata qani'a-qana'atan. Sedangkan  secara istilah, kata  qanaah mempunyai makna berasa cukup dan ikhlas menerima pada segala sesuatu yang diberikan atau di anugerahkan oleh Allah SWT.

Dari kedua istilah dan definisi di atas dapat digambarkan jika sesungguhnya inti dari pemahaman sifat qanaah adalah rasa pasrah atau berserah diri kepada Allah SWT. 

Seorang yang mempunyai sifat qanaah dalam hatinya akan selalu merasa ikhlas dalam menerima apapun nikmat yang diberikan oleh Allah SWT dan tak pernah berasa kurang, dia akan selalu merasa cukup atas anugerah yang diberikan dan hidup selalu dalam ketaatan kepada Allah SWT.

Sifat Qanaah semestinya dipunyai oleh setiap muslim, karena ini sesungguhnya cukup beralasan karena dalam perkara keimanan, seorang muslim harus merasa yakin jika rejeki yang dia peroleh setiap hari telah diatur oleh Allah SWT. Dengan dasar keimanan tersebut itulah maka dia akan menyandarkan dirinya dan berserah diri kepada Allah SWT atas hasil dari usahanya.

Orang yang qanaah ialah orang yang ikhlas hati dan tulus terima apa yang sudah diberi oleh Allah padanya dan berasa cukup dengan yang dipunyainya. Adapun orang yang berjiwa qanaah mempunyai beberapa ciri di bawah ini.

Berikut ini adalah beberapa contoh dari sikap qanaah dalam kehidupan sehari-hari antara lain sebagai berikut:

1. Selalu bersyukur atas apa karunia yang didapatkan oleh Allah SWT.

Menerima semua karunia yang diberikan oleh Allah SWT dan bersikap sabar atas semua ketetapan Allah SWT yang terjadi pada dirinya.

2. Giat dalam bekerja guna mendapatkan hasil yang terbaik dalam kehidupan.

Setiap muslim harus menyadari bahwa setiap usaha yang dilakukan harus diiringi dengan berdoa dan bertawakal ke Allah SWT. Sebuah pepatah bijak mengatakan, "Ora et Labora", yang artinya Bekerja sambil berdo'a.

3. Hidup bersahaja, tidak rakus dan tamak.

Setiap muslim hatinya tidak tertipu dengan kekayaan dan kemewahan duniawi. Setiap muslim harus selalu bersyukur dan merasa cukup dengan apa yang sudah diberikan oleh Allah SWT.

4. Tidak merasa iri serta dengki atas apa yang didapatkan oleh orang lain.

Orang yang memiliki sifat Qanaah tidak akan merasa iri dan dengki dengan apa yang di dapatkan oleh orang lain. Dia akan turut merasa senang jika ada orang lain yang mendapatkan rezeki dari Allah SWT.

5. Hidup sederhana dan menyesuaikan kemampuan diri.

Orang yang memiliki sifat Qanaah cenderung hidup secara sederhana dan tidak suka menonjolkan kekayaan dan hartanya di hadapan orang lain, karena dia menyadari bahwa itu semua pada hakekatnya adalah milik Allah SWT yang dititipkan kepadanya.

6. Tidak mudah kecewa atau putus asa.

Orang yang memiliki sifat Qanaah tidak mudah berputus asa dari rahmat Allah SWT terutama ketika sesuatu yang dia inginkan tidak tercapai.

7. Memiliki keyakinan bahwa segala sesuatu yang diberikan oleh Allah SWT merupakan anugerah terbaik yang diberikan kepada hambanya, termasuk dirinya.

Qanaah sebagai salah satu sikap dasar seorang mukmin untuk menahan diri supaya tidak jatuh dalam keputusasaan dan keserakahan. Dilihat dari manfaatnya, maka qanaah bisa dibagi menjadi dua kategori, yaitu sebagai stabilisator dan sebagai aktifator.

Qanaah Sebagai Stabilisator

Orang yang mempunyai sifat qanaah hidupnya akan lebih konstan dan bisa menjaga emosinya, mereka selalu berlapang dada (sabar), hatinya selalu merasa damai, tenteram dan merasa berkecukupan, bebas dari kegelisahan karena tidak pernah merasa cemas akan kekurangan. 

Orang yang memiliki sifat Qanaah menyadari bahwa pada hakekatnya kaya dan miskinnya seorang tergantung pada kepuasa hatinya, bukan pada besarnya jumlah harta yang sukses dia kumpulkan.

Qanaah Sebagai Aktifator

Orang yang memiliki sifat Qanaah memiliki kemampuan batiniah yang mampu menggerakkan dirinya agar bisa meraih kesuksesan. Orang yang mempunyai karakter qanaah dalam hidupnya akan tergerak untuk mencapai kemajuan-kemajuan hidup berdasarkan kekuatan diri, dan tergantung pada anugerah Allah SWT. 

Orang yang memiliki sifat Qanaah adalah orang yang tidak boros dan tidak pelit (kikir), rakus dan tamak. Hal ini diterangkan oleh  Allah SWT dalam firman-Nya:

وَالَّذِيْنَ إِذَآ أَنْفَقُوْا لَمْ يُسْرِفُوْا وَلَمْ يَقْتُرُوْا وَكَانَ بَيْنَ ذَالِكَ قَوَامَا

Maknanya: "Dan mereka yang jika memberikan nafkah berbelanja (sedekah) tidak memboros dan tidak pelit karena itu tengah di antara ke-2 karakter itu." [Q.S. Al-Furqan : 67]

Ada 7 Manfaat Qanaah Sebagai Aktifator, antara lain:

a. Hatinya dipenuhi Oleh Keimanan Kepada Allah SWT

Seseorang yang memiliki sifat qanaah akan percaya pada ketetapan yang diputuskan oleh Allah SWT sehingga dirinya akan merasa ridha pada rezeki yang sudah ditakdirkan dan diberikan oleh Allah SWT padanya. 

Ini sangat erat hubungannya dengan keimanan pada takdir Allah SWT. Seseorang yang memiliki sifat qanaah memiliki keimanan dan percaya jika Allah SWT sudah menjamin dan membagikan semua rezeki kepada semua hamba-Nya.

Menurut pendapat Ibnu Mas'ud radhilallahu ‘anhu, Beliau menjelaskan sebagai berikut:

إِنَّ أَرْجَى مَا أَكُونُ لِلرِّزْقِ إِذَا قَالُوا لَيْسَ فِي الْبَيْتِ دَقِيقٌ

"Peristiwa yang paling saya harap untuk mendapatkan rejeki ialah saat mereka menjelaskan, "Tidak lagi ada tepung yang masih ada untuk bikin makanan di dalam rumah" [Jami'ul ‘Ulum wal Hikam].

إِنَّ أَحْسَنَ مَا أَكُونُ ظَنًّا حِينَ يَقُولُ الْخَادِمُ: لَيْسَ فِي الْبَيْتِ قَفِيزٌ مِنْ قَمْحٍ وَلَا دِرْهَمٌ

"Keadaan di mana saya mempertebal husnuzhanku ialah saat pembantu menjelaskan, "Di dalam rumah tidak lagi ada gandum atau dirham." [Diriwayatkan Ibnu Abi Syaibah (34871); Ad Dainuri dalam Al Majalisah (2744); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah (2/97)].

Kemudian Imam Ahmad juga menjelaskan:

أَسَرُّ أَيَّامِي إِلَيَّ يَوْمٌ أُصْبِحُ وَلَيْسَ عِنْدِي شَيْءٌ

"Hari yang paling berbahagia menurutku ialah saat saya masuk waktu Subuh dan saya tidak mempunyai apa saja." [Shifatush Shafwah 3/345].

b. Mendapatkan Kehidupan yang Baik

Allah SWT berfirman dalam surah An-Nahl ayat ke 97, sebagai berikut:

مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Artinya:

"Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan sesungguhnya akan Kami beri balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan." [Q.S An-Nahl : 97]

Sementara itu dalam Tafsir ath-Thabari di katakan:

"Kehidupan yang bagus tidak sama dengan kekayaan yang berlimpah ruah. Oleh karena itu, beberapa pakar tafsiran menjelaskan jika yang diartikan dengan kehidupan yang bagus di dalam ayat di atas ialah Allah memberinya rejeki berbentuk rasa qana'ah di bumi ini, beberapa pakar tafsiran lainnya mengatakan jika kehidupan yang bagus ialah Allah menganugerahi rejeki yang halal dan baik ke hamba". [Tafsir ath-Thabari 17/290; Maktabah asy-Syamilah].

Tafsir kehidupan yang bagus dengan karunia berbentuk rejeki yang halal dan baik ketika dalam dunia memperlihatkan jika hal tersebut sebagai nikmat yang perlu kita upayakan. Harta yang berlimpah ruah sesungguhnya bukan satu nikmat bila didapat dengan tidak diridhai oleh Allah SWT. 

Tetapi sayangnya, sebagian besar manusia berkeyakinan bahwa harta yang dapatkannya walaupun itu didapatkan dengan cara yang haram, makaitu dianggap sebagai rezeki yang halal. 

Setiap mukmin harus ingat, bahwa kelak di akhirat semua kekayaan yang dipunyainya akan dimintakan pertanggungjawabannya dari 2 sisi, yakni bagaimanakah cara mendapatkannya dan bagaimana harta itu dihabiskan. 

Seseorang yang dianugerahkan kekayaan berlimpah ruah pasti pertanggungjawaban yang bakal dituntut dari dianya di akhirat nantinya akan semakin besar.

c. Menujukkan Rasa Syukur kepada Allah SWT

Seseorang yang memiliki sifat qanaah pasti selalu mengucapkan syukur kepada-Nya atas rezeki yang didapatkannya. Kebalikannya barangsiapa yang tidak memiliki sifat qanaah pasti akan selalu merasa kurang dan tidak pernah mengucapkan rasa syukurnya, malah kadang dia terus berkeluh-kesah. 

Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah mewanti-wanti kepada Abu Hurairah:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا، تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ، وَكُنْ قَنِعًا، تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ

Artinya:

"Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara' pasti diri kamu bisa menjadi hamba yang paling patuh. Jadilah orang yang qana'ah, pasti diri kamu bisa menjadi hamba yang paling mengucapkan syukur" [HR. Ibnu Majah: 4217].

Dalam sebuah tafsir dikatakan:

"Seseorang yang berkeluh-kesah atas rejeki yang didapatnya, sebenarnya tengah berkeluh-kesah atas pembagian yang sudah diputuskan Rabb-nya. Barangsiapa yang menyampaikan kurangnya rejeki ke sama-sama makhluk, sebenarnya dianya tengah protes Allah ke makhluk. Seorang pernah mengadu ke satu kelompok orang hal kesempitan rejeki yang dirasakannya, karena itu salah seorang antara mereka berbicara, "Sebenarnya kamu ini tengah menyampaikan Zat yang mengasihimu ke orang yang tidak mengasihimu" [Uyun al-Akhbar kreasi Ibnu Qutaibah 3/206].

d. Mendapatkan Keberuntungan

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengatakan jika seseorang yang memiliki sifat qanaah akan memperoleh keberuntungan dalam hidupnya.

Fudhalah bin Ubaid radhiallalahu ‘anhu pernah dengar nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menjelaskan sebagai berikut;

طُوبَى لِمَنْ هُدِيَ إِلَى الإِسْلَامِ، وَكَانَ عَيْشُهُ كَفَافًا وَقَنَعَ

Artinya:

"Peruntungan untuk seseorang yang dikasih hidayah untuk merengkuh Islam, hidupnya cukup dan ia berasa qana'ah dengan apa yang telah ada" [HR. Ahmad 6/19; Tirmidzi 2249].

Sementara itu, Abdullah bin Amr menjelaskan jika Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernag bersabda:

قَدْ أَفْلَحَ مَنْ أَسْلَمَ، وَرُزِقَ كَفَافًا، وَقَنَّعَهُ اللهُ بِمَا آتَاهُ

Artinya:

"Benar-benar mujur orang yang merengkuh Islam, dikasih rezki yang cukup dan Allah menganugerahi karakter qana'ah pada sesuatu yang sudah diberikan-Nya" [HR. Muslim: 1054; Tirmidzi: 2348].

e. Terlindungi dari Perbuatan Dosa

Seseorang yang memiliki sifat qanaah akan terbebas dari berbagai macam sifat tidak terpuji yang bisa mengurangi pahala kebaikannya seperti hasad, namimah, dusta dan adab jelek yang lain. 

Faktor paling besar yang menggerakkan manusia dalam melakukan berbagai macam sifat tidak terpuji itu ialah tidak berasa cukup hanya dengan rezeki yang Allah SWT berikan kepadanya. Sikap tamak akan harta dunia telah membuatnya lupa kepada Allah SWT. Semuanya itu berpulang pada kurangnya sifat qanaah dalam dirinya.

Abdullah bin Mas'ud radhiallalhu ‘anhu menjelaskan sebagai berikut:

الْيَقِينُ أَنْ لَا تُرْضِيَ النَّاسَ بِسُخْطِ اللَّهِ، وَلَا تَحْسُدَ أَحَدًا عَلَى رِزْقِ اللَّهِ، وَلَا تَلُمْ أَحَدًا عَلَى مَا لَمْ يُؤْتِكَ اللَّهُ، فَإِنَّ الرِّزْقَ لَا يَسُوقُهُ حِرْصُ حَرِيصٍ، وَلَا يَرُدُّهُ كَرَاهَةُ كَارِهٍ، فَإِنَّ اللَّهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى - بِقِسْطِهِ وَعِلْمِهِ وَحُكْمِهِ - جَعَلَ الرَّوْحَ وَالْفَرَحَ فِي الْيَقِينِ وَالرِّضَا، وَجَعَلَ الْهَمَّ وَالْحُزْنَ فِي الشَّكِّ وَالسُّخْطِ

Artinya:

"Al Yaqin ialah kamu tidak cari ridha manusia dengan kemarahan Allah, kamu tidak dengki ke seorangpun atas rejeki yang diputuskan Allah, dan tidak mencemooh seorang atas suatu hal yang tidak diberi Allah padamu. Sebenarnya rejeki tidak didapat dengan ketamakan seorang dan tidak tertolak karena kedengkian seorang. Sebenarnya Allah ta'ala -dengan keadilan, pengetahuan, dan makna-Nya- jadikan ketenangan dan keluasan ada dalam rasa percaya dan ridha kepada-Nya sserta jadikan kegundahan dan duka cita ada dalam keragu-raguan (tidak percaya atas takdir Allah) dan kedengkian (pada sesuatu yang sudah ditakdirkan Allah)" [Diriwayatkan Ibnu Abid Dunya dalam Al Yaqin (118) dan Al Baihaqi dalam Syu'abul Iman (209)].

f. Kekayaan Hakiki Pada Sifat Qanaah

Qanaah merupakan kekayaan sejati. Oleh karena itu, Allah SWT menganugerahi karakter ini kepada para Nabi.

Allah SWT telah berfirman:

وَوَجَدَكَ عَائِلًا فأغنى

Artinya:

"Dan Ia menjumpaimu pada kondisi tidak mempunyai suatu hal apa saja, selanjutnya Ia anggota kekayaan (kecukupan) padamu" [Adh-Dhuha: 8].

Beberapa  ulama yang mendefinisikan, jika kekayaan yang dimaksud dalam dalam ayat itu ialah kekayaan hati, karena ayat ini terhitung ayat Makkiyah (di turunkan ketika sebelum Nabi SAW hijrah ke Madinah). Dan pada waktu itu, telah dimaklumi jika Nabi SAW mempunyai harta yang sedikit. [Fath al-Baari 11/273].

Rasulullah SAW bersabda:

لَيْسَ الغِنَى عَنْ كَثْرَةِ العَرَضِ، وَلَكِنَّ الغِنَى غِنَى النَّفْسِ

Artinya:

"Kekayaan itu bukan dengan adanya banyak kemewahan dunia, namun kekayaan utama ialah kekayaan (kecukupan) dalam jiwa (hati)" [HR. Bukhari: 6446; Muslim: 1051].

Dalam sebuah riwayat, Abu Dzar radhiallalhu ‘anhu menjelaskan, "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menanyakan, "Wahai Abu Dzar apa kamu melihat jika jumlahnya harta itu ialah kekakayaan sesungguhnya?" Saya menjawab, "Iya, wahai rasulullah." Beliau kembali menanyakan, "Dan apa kamu berasumsi jika kefakiran itu dengan minimal harta?" Diriku menjawab, "Betul, wahai rasulullah." Beliau juga mengatakan, "Sebenarnya kekayaan itu dengan kekayaan hati dan kefakiran itu dengan kefakiran hati" [HR. An-Nasaai dalam al-Kubra: 11785; Ibnu Hibban: 685].

Apa yang dijelaskan di atas bisa kita jumpai dalam realitas kehidupan setiap hari. Begitu banyak orang - orang yang diberikan kepuasan duniawi berupa harta kekayaan yang berlimpah ruah dan tidak akan habis hingga tujuh turunan, namun selalu merasa kurang. Hal itu tidak lain karena sikap tamak yang telah mendarah daging dalam dirinya. 

Kebalikannya, begitu banyak mereka yang tidak mempunyai apa-apa dianugerahkan sifat qanaah hingga merasa seakan-akan dirinyalah orang paling kaya di dunia, tidak menyombongkan diri di depan orang lain.

Dalam sebuah riwayat, Sa'ad bin Abi Waqqash radhiallahu ‘anhu pernah berwasiat ke putranya, "Wahai putraku, bila diri kamu akan cari kekayaan, cari ia dengan qana'ah, karena qana'ah sebagai harta yang tidak lekang" [Uyun al-Akhbar : 3/207].

Dalam riwayat yang lain, Abu Hazim az-Zahid pernah ditanyakan:

مَا مَالُكَ؟

"Apa hartamu"?

Beliau menjawab,

لِي مَالَانِ لَا أَخْشَى مَعَهُمَا الْفَقْرَ: الثِّقَةُ بِاللَّهِ، وَالْيَأْسُ مِمَّا فِي أَيْدِي النَّاسِ

"Saya mempunyai dua harta dan dengan ke-2 nya saya tidak takut miskin. Ke-2 nya ialah ats-tsiqqatu billah (percaya ke Allah atas rezeki yang diberikan) dan tidak menginginkan harta yang dipunyai oleh seseorang". [Diriwayatkan Ad Dainuri dalam Al Mujalasah (963); Abu Nu'aim dalam Al Hilyah 3/231-232].

Dalam kitab Ihya 'Ulum ad-Diin dinyatakan, "Apa kekayaan itu?" Ia menjawab, "Kurangnya harapanmu dan kamu ridha pada rejeki yang mencukupimu" [Ihya ‘Ulum ad-Diin 3/212].

g. Mendapatkan Kemuliaan

Kemuliaan ada pada sifat qanaah sedang kehinaan ada pada ketamakan. Mengapa demikian? Karena seseorang yang dianugerahkan sifat qanaah tidak menggantungkan hidupnya pada manusia, hingga dirinya juga dilihat mulia. 

Menurut pendapat Al Hasan sebagai berikut:

لَا تَزَالُ كَرِيمًا عَلَى النَّاسِ - أَوْ لَا يَزَالُ النَّاسُ يُكْرِمُونَكَ مَا لَمْ تُعَاطِ مَا فِي أَيْدِيهِمْ، فَإِذَا فَعَلْتَ ذَلِكَ اسْتَخَفُّوا بِكَ، وَكَرِهُوا حَدِيثَكَ وَأَبْغَضُوكَ

"Kamu akan selalu mulia di depan manusia dan manusia akan selalu memuliakanmu sepanjang diri kamu tidak tamak pada harta yang mereka punyai. Bila kamu melakukan, pasti mereka akan menyepelekanmu, membenci perkataanmu dan memusuhimu" [Al-Hilyah: 3/20].

Sedangkan Al Hafizh Ibnu Rajab menjelaskan:

وَقَدْ تَكَاثَرَتِ الْأَحَادِيثُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِالْأَمْرِ بِالِاسْتِعْفَافِ عَنْ مَسْأَلَةِ النَّاسِ وَالِاسْتِغْنَاءِ عَنْهُمْ، فَمَنْ سَأَلَ النَّاسَ مَا بِأَيْدِيهِمْ، كَرِهُوهُ وَأَبْغَضُوهُ؛ لِأَنَّ الْمَالَ مَحْبُوبٌ لِنُفُوسِ بَنِي آدَمَ، فَمَنْ طَلَبَ مِنْهُمْ مَا يُحِبُّونَهُ، كَرِهُوهُ لِذَلِكَ

"Banyak sekali hadits nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam yang memerintah untuk berlaku ‘iifah (jaga kehormatan) tidak untuk minta-minta dan tidak tergantung ke manusia. Tiap orang yang minta harta seseorang, pasti mereka tidak senang dan membencinya, karena harta sebagai satu hal yang sangat disayangi oleh jiwa anak Adam. Oleh karena itu, seseorang yang minta seseorang untuk memberi apa yang dicintainya, pasti mereka akan membencinya" [Jami' al-‘Ulum wa al-Hikam 2/205].

Kepimpinan dalam agama yang sama dengan kemuliaan juga bisa didapat bila seorang ‘alim tidak menggantungkan dirinya kepada manusia, sehingga mereka tidak disibukkan dengan bermacam tuntutan hidup. 

Sepatutnya manusia memerlukan si ‘alim tersebut karena pengetahuan, fatwa dan nasihatnya. Mereka tidak memerlukan sikap ketamakan dari si ‘alim tersebut. 

Dalam riwayat dikatakan, bahwa pernah ada seorang Arab badui menanyakan kepada  warga Bashrah, sebagai berikut:

مَنْ سَيِّدُ أَهْلِ هَذِهِ الْقَرْيَةِ؟ قَالُوا: الْحَسَنُ، قَالَ: بِمَا سَادَهُمْ؟ قَالُوا: احْتَاجَ النَّاسُ إِلَى عِلْمِهِ، وَاسْتَغْنَى هُوَ عَنْ دُنْيَاهُمْ

"Siapa figur agama di kota ini?" Warga Bashrah menjawab, "Al Hasan." Arab badui menanyakan kembali, "Dengan apa ia mepimpin mereka?" Mereka menjawab, "Manusia perlu ke ilmunya, sedang ia tidak perlu dunia yang mereka punyai" [Jami' al-‘Ulum wa al-Hikam 2/206].

Demikianlah uraian artikel tentang  Pengertian Qanaah dan Manfaatnya. Semoga artikel ini dapat menjadi inspirasi dan bahan renungan bagi kita semua.

Post a Comment for " Pengertian Qanaah dan Manfaatnya"