Skip to content Skip to sidebar Skip to footer

Memahami Makna Berqurban yang Sebenarnya

Memahami Makna Berqurban yang Sebenarnya

Ketentuan Pelaksaan Qurban

Allah SWT adalah Dzat yang Maha Kaya, milik-Nya semua yang ada di langit dan di bumi, dan semua yang ada di antara keduanya, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Lalu, masihkah Allah SWT membutuhkan daging qurban kita?

Subahaanallahi ‘amma yasifuun, Mahasuci Allah dari sifat-sifat yang tidak layak untuk disifatkan kepada-Nya. Sungguh, Allah tidak memerlukan qurban kita. Tidak dagingnya, tidak darahnya, juga tidak kulitnya. Bahkan, tidak ada satu lembar bulunya pun yang Allah SWT perlukan. Lalu, untuk apa kita berqurban?

Pertanyaan ini layak untuk direnungkan supaya kita bisa meresapi apa makna qurban yang sesungguhnya. Sehingga, qurban yang kita lakukan bisa “sampai” kepada Allah SWT, dan tidak hanya sebagai sekadar penggugur kewajiban.

Qurban untuk Mendekatkan Diri kepada Allah SWT

Qurban berasal dari bahasa Arab, yaitu "qaraba, yaqrabu, qurban wa qurbanan wa qirbanan", yang artinya “dekat”

Secara istilah, qurban adalah mendekatkan diri kepada Allah Swt. Sementara, kata udhiyyah yang merupakan istilah lain dari qurban artinya hewan sembelihan pada waktu dhuha. 

Dengan demikian, qurban atau udhiyyah adalah prosesi ibadah penyembelihan hewan di waktu dhuha yang dilakukan pada hari raya Idul Adha (10 Dzulhijjah) dan hari Tasyriq (11 – 13 Dzulhijjah) dengan tujuan untuk mendekatkan diri (taqarrub) kepada Allah SWT.

Bila mengacu pada pengertian ini, maka berqurban dalam rangka mencari popularitas, ingin dipuji manusia, atau niatan yang lain selain taqarrub ilallah, bisa dipastikan tidak akan sampai kepada Allah SWT.

Qurban Hanya Diterima dari Orang Bertaqwa

Makna qurban bisa kita hayati dari ritual qurban pertama kali yang dilakukan manusia dalam sejarah, yaitu qurban yang dilakukan oleh Habil dan Qabil. Keduanya melakukan qurban sebagai jalan keluar dari perselisihan dalam memperebutkan seorang wanita.

Mereka sepakat, barangsiapa yang qurbannya diterima Allah SWT, dia-lah yang berhak menikahi sang wanita. Qabil berqurban dari hasil kebunnya, sementara Habil berqurban dari hasil ternaknya. Dan, ternyata akhirnya Allah SWT menerima qurbannya Habil.

Firman Allah SWT dalam surat Al-Maidah ayat ke 27, sebagai berikut:

وَاتْلُ عَلَيْهِمْ نَبَأَ ابْنَيْ آدَمَ بِالْحَقِّ إِذْ قَرَّبَا قُرْبَانًا فَتُقُبِّلَ مِنْ أَحَدِهِمَا وَلَمْ يُتَقَبَّلْ مِنَ الْآخَرِ قَالَ لَأَقْتُلَنَّكَ ۖ قَالَ إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ

Ceritakanlah kepada mereka kisah kedua putera Adam (Habil dan Qabil) menurut yang sebenarnya, ketika keduanya mempersembahkan korban, maka diterima dari salah seorang dari mereka berdua (Habil) dan tidak diterima dari yang lain (Qabil). Ia berkata (Qabil): "Aku pasti membunuhmu!". Berkata Habil: "Sesungguhnya Allah hanya menerima (korban) dari orang-orang yang bertakwa".[QS. Al-Maidah : 27]

Ya, hanya qurban dari orang-orang yang bertakwa yang diterima Allah SWT, dalam hal ini Habil. Karena, sebagaimana yang tertulis dalam sejarah, Habil telah mengurbankan harta terbaiknya, yaitu seekor domba yang sehat dan gemuk, sebagai cerminan ketakwaannya. 

Sementara, Qabil mengurbankan harta terburuknya, yaitu sayuran dan buah-buahan yang layu, busuk, dan tidak layak konsumsi, sebagai cerminan kekikirannya.

Qurban Bukti Ketundukan terhadap Hukum Allah SWT

Ibadah qurban pun bisa dimaknai sebagai bukti ketundukan total hamba terhadap perintah Sang Khalik, apa pun dan bagaimana pun beratnya perintah-Nya itu.

"Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah direzekikan Allah kepada mereka, Maka Tuhanmu ialah Tuhan yang Maha Esa, karena itu berserah dirilah kamu kepada-Nya, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang tunduk patuh (kepada Allah)." [QS. Al-Hajj : 34]

Hal ini semakin jelas tergambar dalam kisah Ibrahim As. yang tunduk terhadap hukum Allah SWT yang memerintahkannya untuk menyembelih anaknya tercinta, Ismail As.

Maka, tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata, "Hai anakku sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka pikirkanlah apa pendapatmu!" ia menjawab, "Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar."

Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya). Dan, Kami panggillah dia, "Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu. Sesungguhnya, demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya, ini benar-benar suatu ujian yang nyata, dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar." [QS. As-Shaaffaat : 102-107]

Qurban Bukti Rasa Syukur Kepada Allah SWT

Selain untuk menyempurnakan ajaran agama sebelumnya ataupun menghapusnya, Islam datang melestarikan tradisi nabi sebelum Islam, salah satunya ajaran qurban. Dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW pernah ditanya oleh salah seorang sahabat saat beliau menyembelih qurban,

“Untuk apa sembelihan ini?” Beliau menjawab, “Ini sunah (tradisi) ayah kalian, Nabi Ibrahim As.” Lalu, sahabat bertanya, “Apa manfaatnya bagi kami?” Beliau menjawab, “Setiap rambut qurban itu membawa kebaikan.” Sahabat bertanya lagi, “Apakah kulitnya?” Beliau menjawab, “Setiap rambut dari kulit itu menjadi kebaikan.” [HR. Ahmad dari Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Zaid bin Arqam]

Pada zaman Nabi Muhammad SaAW, syariat qurban disempurnakan tata caranya, termasuk esensinya, bahwa qurban dilakukan sebagai bentuk rasa syukur hamba atas limpahan nikmat Allah SWT.

Sesungguhnya, Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka, dirikanlah shalat karena Tuhanmu; dan berqurbanlah. Sesungguhnya, orang-orang yang membenci kamu dialah yang terputus. [QS. Al-Kautsar : 1-3]

Yang Penting Ketaqwaannya, Bukan Dagingnya!

Dengan demikian, seperti yang telah diungkapkan di awal, Allah SWT tidak membutuhkan daging qurban kita, sedikit pun. Tapi, yang dilihat Allah hanya satu, ketakwaan kita.

"Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah, tetapi ketakwaan dari kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu, dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik." [QS. Al-Hajj : 37]

Semoga qurban kita tahun ini lebih bermakna. Aamiin.

Post a Comment for " Memahami Makna Berqurban yang Sebenarnya"