--> Skip to main content

Jangan Ceritakan Dosa Dan Keburukanmu (Sebuah Nasihat Dari Gus Baha)


Jangan Ceritakan Dosa Dan Keburukanmu (Sebuah Nasihat Dari Gus Baha)
image via [email protected]_fatima

Mendengarkan kajian - kajian ilmu yang di bawakan oleh Kyai muda yang satu ini memang selalu menari perhatian. Selain sosoknya yang rendah hati, beliau ini juga terkenal sebagai ahli tafsir dan pakar Al-Qur'an dengan keilmuaan yang sangat mumpuni. Sosok Kyai muda tersebut tidak lain adalah Kyai Haji Baha'uddin Nursalim atau yang akrab dipanggil Gus Baha.

Dibawah ini adalah artikel tentang apa yang diuraikan oleh beliau dalam sebuah kajian yang beliau adakan. Semoga bisa menambah wawasan dan pengethuan kita semua. Silahkan baca hingga selesai sehingga Anda akan mendapatkan inti dari artikel berikut ini.

Menurut pendapat Gus Baha, ilmu itu harus dianalisis secara cerdas, ceria dan mudah.  Dulu, beliau merasa isykal (janggal) dengan sebuah hadits Nabi SAW yang berbunyi:


عَنِ أَبِيْ هُرَيْرَةَ يَقُولُ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – يَقُولُ « كُلُّ أُمَّتِى مُعَافًى إِلاَّ الْمُجَاهِرِينَ ، وَإِنَّ مِنَ الْمُجَاهَرَةِ أَنْ يَعْمَلَ الرَّجُلُ بِاللَّيْلِ عَمَلاً ، ثُمَّ يُصْبِحَ وَقَدْ سَتَرَهُ اللَّهُ ، فَيَقُولَ يَا فُلاَنُ عَمِلْتُ الْبَارِحَةَ كَذَا وَكَذَا ، وَقَدْ بَاتَ يَسْتُرُهُ رَبُّهُ وَيُصْبِحُ يَكْشِفُ سِتْرَ اللَّهِ عَنْهُ » .

Artinya:
Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Aku mendengar Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Semua umatku dima’afkan kecuali orang-orang yang melakukan dosa dengan terang-terangan. Dan sesungguhnya termasuk melakukan dosa dengan terang-terangan adalah seseorang melakukan suatu dosa di waktu malam hari, kemudian ketika pagi dia berkata (kepada orang lain), ‘Hai Fulan, tadi malam aku melakukan ini dan itu!’, padahal di waktu malam Rabbnya telah menutupinya (yaitu tidak ada orang yang mengetahuinya), namun di waktu pagi dia membongkar tirai Allâh terhadapnya (yaitu menyampaikan kepada orang lain)”. (HR. Bukhâri, no. 6069; Muslim, no. 2990) 

Mengapa beliau merasa janggal janggal dengan hadits tersebut? Karena ketika orang berbuat dosa kemudian dia menceritakan dosa itu kepada orang lain mengesankan kalau dia orang jujur dan baik karena telah berkata apa adanya. Kemudian setelah saya pikir-pikir, apakah itu benar perkataan Kanjeng Nabi Muhammad SAW?

Kemudian misalnya Anda bercerita ke anak Anda " Ayah dulu ketika zaman mondok di Ploso itu sering kalau makan di warung, hutang, dan tidak bayar dan  itu biasa saja". Atau misalnya Anda mengatakan "ya biasa namanya sekolah, tidak naik kelas itu biasa". Kalau menurut pendapat Anda, perkataan semacam itu jujur atau mengajarkan kepada Anak Anda? Itu adalah sebuah perkataan yang mengajarkan, walaupun mungkin yang diucapakan benar adanya.

Maka kemudian yang terjadi adalah suatu saat anak Anda benar - benar menjadi bodoh, persis seperti bapaknya. Oleh karena itu kemudian menjadi sebuah hal yang penting, untuk tidak menampakkan atau mengatakan itu kepada anak Anda. 

Dan itulah alasan kenapa kemudian Nabi SAW mengatakan, "Semua umatku diampuni kecuali yang cerita-cerita dosanya" karena dengan cerita itu artinya apa?  Artinya mereka telah mengajarkan keburukan kepada orang lain. 

Sebuah contoh lain misalnya Anda ketika zaman puber dulu, pacaran. Kemudian menceritakan itu kepada anak Anda.  Nak,ayah dulu mendapatkan ibumu pacaran terlebih dulu, ibumu kubonceng kesana ke mari". Sekilas itu adalah sebuah perkataan jujur, tapi lama-lama anak Anda kemudian mengikuti apa yang Anda katakan, dia  berpacaran.  Alasannya apa? Meniru bapaknya.

Akan  tetapi kalau kemudian Anda merasa sok suci, terus berkata kepada anak Anda "Jangan pacaran, karena pacaran itu haram!" Kemudian anak Anda menjawab Anda "Lha Bapak dulu dapat ibu kan pacaran dulu?" Kalau sudah seperti ini kemudian apa yang bisa Anda katakan? Mungkin dulu jika Anda tidak mengatakan hal tentang pacaran tersebut kepada anak Anda, maka kejadian seperti ini tidak akan terjadi. Misalnya Anda dulu mengatakan "itu pemberian Tuhan" "tidak pacaran, Pak?" "tidak, pacaran haram, nak", maka kejadian ini tidak akan terjadi sekarang.

Sebuah analogi, andaikan semua orang yang pernah berzina itu kemudian mengaku bahwa mereka telah berzina dan katakanlah jumlahnya ada 1000 orang saja. Dari  1000 orang itu mereka pasti punya keluarga. Tiap 1 orang minimal punya keluarga, punya anak dan inikan tidak baik untuk seluruh keluarga tersebut. Akan tetapi kalau seandainya semuanya tidak mengaku telah berbuat zina dan semuanya sok suci dan tetap tenang di masjid, membaca wirid sambil menangis, maka anak-cucunya akan berkata : "kakekku khusyuk banget" ibadahnya. Padahal mengangisnya itu karena merasa menyesal pernah berbuat zina. Akan  tetapi, itu artinya apa? Artinya bahwa konsep yang dikatakan oleh Rasulullah SAW itu luar biasa "...kullu ummati mu'aafan illal mujaahirin...".

Dan memang di situlah masdarnya,  Jadi jihar dan bukan ijhar.  Tetapi bahasa Arab itu memang agak unik misalnya, dalam pelajaran Nahwu,  masdar itu kalam,  kalam berarti tsulasi mujarrad tapi fiilnya tidak berlaku, kalima - yaklimu - kalaman itu tidak berlaku yang berlaku itu lam yatakallam.

Bahkan Imam Ghazali berkata : wa inna, salah satu pemberian Allah terbaik adalah sitral.  As-sitra, itu tutup jadi hifdzul qabaaih, menjaga supaya keburukan kita tidak kelihatan itu termasuk kebaikan bukan dianggap tidak jujur, karena itu tadi, kalau semua keburukan kita, kita tampakkan dan ceritakan kepada orang lain, maka akan menjadi massif.

Misalnya Anda berkata, insya Allah lah, kita yakin, semua kita insya Allah diselamatkan dari perbuatan zina, makan dan hutang tidak bayar, atau merokok tidak (shalat) berjamaah, kepada anak-anak Anda, maka itu bukan jujur. Karena suatau saat itu akan jadi alasan oleh anak Anda : "cocok, suatu saat aku (akan) bodoh seperti bapak" "aku sekolah dulu sering tidak naik kelas, Nak". Lalu kemudian anak Anda mondok, tenang, dan santai saja karena kalau tidak naik kelas, dalilnya adalah bapaknya.

Makanya, Rasulullah SAW kemudian berkata : "...kullu ummati mu'afan illal mujaahirin...". Seorang sahabat yang bernama Mais, ketika mengaku telah berzina, itu Nabi SAW menolak sampai empat kali ketika Mais memaksa Nabi SAW agar supaya beliau yang melakukan hukum rajam kepadanya. Rasulullah SAW kemudian berkata "halla satarta bi'dzalik(?); kamu ndak usah cerita". Karena tadi logikanya,  kalau Mais saja berzina, jangan-jangan yang lain juga sama. Hal  itu akan menimbulkan prasangka dan pertanyaan yang bermacam-macam. Dan itulah hebatnya Islam, karena kita diajarkan: "Allaahummastur 'aurati wa amin rau'ati..."

Mengikuti hadits Rasulullah SAW, adalah termasuk nikmat (dari) Allah SWT yaitu tertutupi semua kesalahan-kesalahan kita.  Itu berkah bagi agama Islam karena jika sebuah kesalahan tidak muncul maka kita sudah untung, agama sudah untung.  Ketika kesalahan tidak muncul itu agama sudah ikut diuntungkan coba kalau yang maksiat itu kelihatan, maka seakan-akan bumi ini disifati dengan maksiat. Akan tetapi kalau kemudian maksiat itu sembunyi-sembunyi, kemudian yang syiar itu adalah adzan, pengajian, maka itu bagus.  Anda tidak boleh protes: "kan itu tidak jujur" ya bukan masalah jujur dan tidak, ini "ini untuk menutup keburukan" ini yang kemudian di sebut siyasah.

Apa itu Siyasah? Secara sederhana siyasah syar’iyah dapat diartikan sebagai sebuah ketentuan tentang kebijaksanaan pengurusan masalah kenegaraan yang berdasarkan syariat agama Islam.

Siyasah itu tidak harus tentang masalah politik atau tentang negara kita, tetapi juga tentang bagaimana mengelola diri kita sendiri. Jadi misalnya Anda bercerita tentang kebaikan Anda kepada anak, supaya kebaikan itu kelak akan ditiru oleh anak Anda.  Akan tetapi kalau anak Anda kemudian bertanya : "Pak, apakah Bapak pernah salah (dosa)?" "Itu adalah sesuatu yang perlu Anda takutkan. Di sini di butuhkan kebijaksanaan sikap Anda utnuk menjawabnya.

Demikianlah uraian tentang Jangan Ceritakan Dosa Dan Keburukanmu. Menampakkan keburukan itu efeknya luar biasa dan kita harus ittiba' (mengikuti) Rasulullah SAW. Tentu saja yang [alin ideal tentunya tidak usah berbuat maksiat.  Dan jika memang tidak pernah berbuat maksiat  maka tidak perlu menyembunyikan karena memang karena tidak pernah maksiat.

Semoga intisari dari kajian Gus Baha di atas dapat menambah ketaqwaan kita kepada Allah SWT.
Rekomendasi
Comment Policy: Silahkan tuliskan komentar Anda yang sesuai dengan topik postingan halaman ini. Komentar yang berisi tautan tidak akan ditampilkan sebelum disetujui.
Buka Komentar
Tutup Komentar